Majalah Eksekutif

Pemerintah Indonesia: Lockdown Bukan Pilihan

650Views
MAJALAH EKSEKUTIF - terbit sejak 1979 -
” Lockdown bukan pilihan,” kata Yurianto di graha BNPB, Jakarta.

EKSEKUTIF.id — Opsi untuk mengisolasi kota yang terjangkit–biasa disebut lockdown–ramai disebut-sebut.  Pemerintah Indonesia dalam hal ini belum memutuskan, karena memikirkan dampak ekonomi dari lockdown juga harus diantisipasi.

Presiden Joko Widodo mengaku “belum berpikir ke arah sana” saat ditanya wartawan soal kemungkinan lockdown.

Juru bicara pemerintah untuk penanganan virus corona Achmad Yurianto, menegaskan pemerintah tidak akan melakukan lockdown terhadap daerah atau melakukan isolasi terhadap wilayah yang diwaspadai sebagai lokasi penyebaran virus corona Covid-19.

” Lockdown bukan pilihan,” kata Yurianto di graha BNPB, Jakarta.

Pemerintah mengaku belum memperhitungkan opsi lockdown untuk menangani penyebaran virus Corona atau COVID-19. Pemerintah menilai lockdown bukan satu-satunya cara menghindari Indonesia dari virus Corona.

“Kami belum tempatkan opsi lockdown karena ternyata Korea sendiri setelah putuskan lockdown kasusnya jadi nggak terkendali, sekarang dibuka lagi, dan turun. Ingat, kita tidak akan menutup suatu daerah, dan biarkan daerah itu mengalami penularan sampai habis, tapi kita yang dilakukan cari sumber penyebaran dan isolasi,” ujar Achmad Yurianto.

Yuri menilai saat ini yang terpenting bukanlah lockdown Indonesia ataupun daerah tertentu, melainkan melakukan cara agar masyarakat membatasi gerak dan aktivitasnya. Sebab, penularan Corona itu dari manusia ke manusia lainnya.

“Yang kita lakukan adalah batasi, batasi aktivitas dirinya, batasi aktivitas masyarakatnya, bukan dalam konteks membelenggu, kemudian berikan opsi mereka memilih,” jelasnya.

World Health Organization (WHO) telah menetapkan virus Corona atau Covid-19 sebagai pandemi. Virus Corona telah menyebar ke lebih dari seratus negara di dunia. Dikutip dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pandemi adalah wabah yang berjangkit serempak di mana-mana atau meliputi geografi yang luas. Artinya, virus Corona telah diakui menyebar luas hampir ke seluruh dunia.

WHO sendiri mendefinisikan pandemi sebagai situasi ketika populasi seluruh dunia ada kemungkinan akan terkena infeksi ini dan berpotensi sebagian dari mereka jatuh sakit.

Lock Down

Wacana yang mengemuka dan kian menguat saat ini adalah rencana lock down pada daerah yang dinyatakan telah terpapar. Tentu dengan berbagai pandangan baik pro atau kontra. Ada yang berpendapat bahwa keputusan menutup akses wilayah hanya akan mengakibatkan ketakutan dan rasa panik.

Namun tampaknya ini adalah hal yang paling masuk akal. Penyebaran virus harus dibatasi, salah satunya dengan cara lokalisasi. Dengan demikian, penganan juga bisa lebih terfokus.

Hanya saja, kebijakan tersebut harus dibarengi dengan persiapan yang matang dan kesiagaan pemerintah dalam memfasilitasi kebutuhan warga. Dalam hal ini, pemerintah pusat dan daerah wajib berbagi peran, yakni menyediakan bahan makanan, memastikan call center dan petugas kesehatan dalam kondisi siaga, mobil/ambulans dengan jumlah yang memadai, kamar-kamar rumah sakit cukup untuk menampung pasien, dan lain sebagainya.

Pekerja harian lepas yang tidak memiliki penghasilan rutin harus menjadi perhatian khusus. Bagaimanapun, kebijakan lock down akan memukul mereka. Oleh karena itu, pemerintah wajib menjamin keberlangsungan hidup mereka sampai situasi kembali normal. Atau bisa juga memberdayakan warga di tataran akar rumput. Misalnya menggerakkan RT hingga RW bergiliran menyumbang sembako kepada warga yang kehilangan mata pencaharian. Inilah saatnya jiwa gotong-royong kita diuji.

Pemerintah, lupakan sejenak pembangunan infrastruktur, pertumbuhan ekonomi, perpindahan ibu kota negara, apalagi kontestasi politik! Kita sedang berada di pusaran bencana. Maka kita harus fokus pada penyelamatan jiwa. Mitigasi!

Waktu semakin terbatas, sementara penyebaran virus semakin tak terkendali. Untuk itu masyarakat perlu informasi dan arahan yang jelas. Pemimpin harus bertindak cepat, agar publik tidak panik tetapi juga tidak abai pada bahaya di depan mata. Jika lock down adalah solusi terbaik dari yang terburuk saat ini, laksanakan saja tanpa ragu.

Pro-kontra adalah hal yang lazim dalam sebuah kebijakan. Jangan sampai menyesal seperti Italia, yang merasa terlambat menangani Covid-19 hingga harus menewaskan seribuan orang warganya dalam waktu yang relatif singkat.

 

 

 

redaksi
the authorredaksi

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Translate »
%d blogger menyukai ini: