Pengalaman: Solusi atau Bumerang?

  • Redaksi
  • 14 ago
  • 0


Oleh Arvan Pradiansyah

Pengamat Manajemen SDM &
Pengarang Buku You Are A Leader!

Sambil menikmati makan malam, seorang anak berusia 14 tahun bercerita pada ayahnya mengenai kegiatannya di sekolah. Ia mengatakan bahwa ia diminta untuk mengajar di kelasnya besok pagi. Sang ayah yang sangat berpengalaman dalam latihan militer melihat ini sebagai kesempatan yang sangat baik untuk menularkan ilmunya.

“Begini caranya,” katanya bersemangat. “Pertama-tama tentukan dulu sasaran yang terdiri atas tindakan, keadaan, dan tingkat pelaksanaan.

Putuskan tindakan macam apa yang kamu ingin mereka lakukan. Kemudian, dalam keadaan apa tindakan tersebut harus dilaksanakan. Dan akhirnya, sebaik apa mereka harus melaksanakannya. Ingat, seluruh pendidikan harus diarahkan pada pelaksanaan. Sekali lagi, pelaksanaan!”

Sayangnya, si anak sama sekali tak terkesan. Ia hanya berkata singkat, “Itu tak akan jalan, Yah.” Sang ayah langsung menimpali, “Pasti akan jalan, Nak. Saya sudah mencobanya puluhan kali. Mengapa sekarang tak akan jalan?” Si anak menjawab, “Karena, saya harus mengajar tentang seks.”

Anda pernah mengalami kejadian serupa? Inilah sisi buruk dari pengalaman. Memunyai pengalaman memang baik, experience is the best teacher. Namun, pengalaman bisa juga merugikan. Ia dapat membuat kita kehilangan kemampuan mendengarkan orang lain. Kalau demikian, alih-alih memberikan solusi yang benar, Anda malah akan menciptakan masalah baru.

Pengalaman sering membuat “telinga kita semakin mengecil” sementara “mulut semakin membesar”. Kita menjadi sangat percaya diri sehingga pikiran kita tertutup untuk pendapat orang lain.

Banyak kejadian sehari-hari yang menunjukkan kecenderungan seperti ini. Seorang atasan yang sedang membimbing bawahannya sering berkata, “Cobalah gunakan cara yang dulu saya lakukan. Saya belum pernah gagal dengan cara itu.”

Seorang pejabat yang bingung menghadapi kecaman publik bertutur, “Biarkan saja isu itu diangkat, enggak usah ditanggapi. Dulu juga kita selalu begitu.”

Padahal, di sinilah letak persoalannya. Benar bahwa dalam bisnis kita senantiasa menghadapi masalah yang sama: perubahan pasar, kepuasan pelanggan, kompetisi, inovasi, dan sebagainya. Ini adalah masalah yang “klasik”.

Tapi, konteks masalah itu sudah berubah. Dengan demikian, solusi masa lalu belum tentu akan berhasil di masa sekarang.

Di rumah persoalan yang sama juga terjadi. Kita sering gagal mendengarkan anak-anak semata-mata karena kita semua memiliki pengalaman menjadi anak-anak. Kita merasa tahu masalah-masalah apa yang biasanya mereka hadapi. Padahal, konteks persoalan anak-anak masa kini amat berbeda dengan masa kita dulu.

Seorang kawan pernah marah karena anaknya yang baru duduk di SD minta dibelikan handphone. “Saya saja baru membeli handphone setelah bekerja,” ujarnya.

Hal ini membuat ia tak berminat untuk mendengarkan masalah anaknya. Ternyata teman-teman sekelas anaknya banyak yang berkirim SMS sebelum istirahat tiba. Begitu waktu istirahat tiba, mereka pun langsung pergi ke tempat yang disepakati dan meninggalkan anaknya seorang diri.

Ini membuat si anak kesepian dan merasa dijauhi teman-temannya

Supaya pengalaman tidak menjadi bumerang, kita perlu belajar ilmu padi: semakin berisi semakin merunduk. Ini hanya bisa dicapai kalau kita menyadari bahwa sehebat apa pun kita, masih jauh lebih banyak yang belum kita ketahui.

Bahkan, semakin banyak yang kita ketahui, semakin kita sadar bahwa kita tidak tahu apa-apa. Ini bukan sekadar kerendahan hati, tetapi didasari oleh kesadaran yang dalam. Orang yang demikian sudah mencapai wisdom, bukan sekadar pengetahuan.

Majalah Eksekutif Cetak (print) terbaru

Previous «
Next »

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

klik aja

Translate »