Connect with us
script data-ad-client="ca-pub-4777880934442148" async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js">

Kesehatan

Pentingnya Peran Caregiver Peduli Diabetes Bersama Diabetasol,Sayangi Dia – MAJALAH EKSEKUTIF

Published

on


Eksekutif.com – Hari Diabetes Sedunia atau World Diabetes Day (WDD) yang diperingati setiap 14 November menjadi tanda dan sebuah peringatan bahwa dunia belum terbebas dari ancaman dan bahaya diabetes.

Peringatan WDD tahun ini ditujukan untuk mempromosikan peran caregiver, khususnya keluarga dalam manajemen, perawatan, pencegahan dan pendidikan diabetes, serta meningkatkan kesadaran kita akan dampak diabetes.

Hingga 14 Mei 2020, International Diabetes Federation (IDF) melaporkan 463 juta orang dewasa di dunia menyandang diabetes dengan prevalensi global mencapai 9,3%.

Namun, kondisi yang membahayakan adalah 50,1% penyandang diabetes (diabetesi) tidak terdiagnosis. Ini menjadikan status diabetes sebagai silent killer masih menghantui dunia. Jumlah diabetesi ini diperkirakan meningkat 45% atau setara dengan 629 juta pasien per tahun 2045. Bahkan, sebanyak 75% pasien diabetes pada tahun 2020 berusia 20-64 tahun.

KALBE Nutritionals sebagai anak perusahaan PT KALBE Farma Tbk. melalui brand Diabetasol, produsen nutrisi khusus diabetes, selalu mendukung diabetesi untuk tetap hidup sehat dengan terus memberikan total nutrisi diabetes untuk menjaga gula darah serta edukasi kepada masyarakat luas.

Director of Special Needs & Healthy Lifestyle Nutrition KALBE Nutritionals Tunghadi Indra menegaskan, “Kami berkomitmen melakukan edukasi diabetes berkelanjutan tidak hanya di Indonesia, bahkan juga di beberapa negara di Asia, di mana Diabetasol juga hadir seperti di Filipina, Malaysia, Sri Lanka, dan Myanmar. Terutama kondisi diabetesi saat ini yang sangat berisiko tinggi di saat pandemi COVID-19. Dengan menjaga gula darah, dapat membantu menurunkan risiko
diabetesi terkena komplikasi COVID-19.”

Lebih lanjut Tunghadi mengatakan bahwa angka prevalensi diabetes di dunia dan Indonesia yang meningkat, ditambah risiko yang bisa terjadi kepada para diabetesi saat pandemi ini, menunjukkan kalau diabetes perlu perhatian khusus dari semua kalangan.

“Diabetes memang tidak bisa disembuhkan, tetapi manajemennya sangat perlu diperhatikan. Selain itu dukungan dari support system di sekitar diabetesi juga sangat dibutuhkan,” ungkap Tunghadi.

Selama ini, Diabetasol memang telah secara aktif melakukan edukasi penanganan diabetes bagi diabetesi dan keluarganya sebagai caregiver yang tidak hanya dilakukan pada momen WDD. Edukasi yang dilakukan Diabetasol juga tidak sebatas offline berupa edukasi di rumah sakit, tetapi juga dalam bentuk online kepada masyarakat.

Contohnya seperti kuliah Whatsapp yang diadakan rutin setiap bulan dan talk show secara live. Selain itu, Diabetasol juga memberikan layanan konsultasi dengan dokter & nutritionist, serta menyediakan informasi mengenai cara mengatasi diabetes dan menghindari risiko komplikasi. Semuanya bisa diakses melalui website  http://diabetasol.com/id

Pada kesempatan yang sama, Executive Committee Member IDF Western Pacific Region (2009-2011 & 2012-2015) Prof. Dr. dr. Sidartawan Soegondo, Sp.PD, KEMD,FACE, menjelaskan bahwa berdasarkan data IDF, sebanyak 90% diabetesi adalah pasien diabetes tipe 2 atau diabetes melitus.

Kenaikan jumlah diabetesi tipe 2 ini didorong oleh kondisi saling mempengaruhi yang kompleks antara pertumbuhan sosio-ekonomi, demografis, lingkungan, dan faktor genetis. Kontributor utama lainnya termasuk arus urbanisasi, populasi penduduk yang menua, berkurangnya aktivitas fisik di tengah masyarakat urban, dan meningkatnya obesitas serta kelebihan berat badan.

Menurut Prof. Sidartawan, tingginya jumlah diabetesi membuat pengendalian diabetes membutuhkan perhatian semua orang dan juga kebijakan nasional dengan pendekatan terintegrasi. Kehadiran komunitas masyarakat sadar diabetes dan keluarga peduli diabetes dibutuhkan untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiagaan masyarakat dalam mengendalikan diabetes.

“Keluarga merupakan perantara yang efektif dan mudah untuk melaksanakan upaya kesehatan. Upaya yang dapat dilakukan keluarga diabetesi antara lain melakukan perencanaan makan, perencanaan olahraga, pengaturan obat, dan edukasi. Hal yang masih perlu ditingkatkan adalah upaya keluarga dalam mengatur pola makan sehat dan gizi seimbang, serta ajakan berolahraga. Hasil penelitian terkait dukungan keluarga yang positif, mengarah pada kontrol gula darah yang lebih baik (42,2% memiliki gula darah yang lebih terkontrol),” paparnya.

Lebih jauh terkait diabetes khususnya di Indonesia, Ketua Umum Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) Prof. Dr. dr. Ketut Suastika, SpPD-KEMD juga memperingatkan bahwa menurut data IDF, Indonesia berstatus waspada diabetes karena menempati urutan ke-7 dari sepuluh negara dengan jumlah pasien diabetes tertinggi, yakni 10,681,400 orang per tahun 2020 dengan prevalensi 6,2%. Angka ini diperkirakan meningkat jadi 16,7 juta pasien per tahun 2045. Dengan data tahun ini, 1 dari 25 penduduk Indonesia atau 10% dari penduduk Indonesia mengalami diabetes.

“Yang paling banyak di Indonesia adalah kasus diabetes tipe 2 yang disebabkan oleh gaya hidup tidak sehat. Dan melihat angka yang sangat besar, artinya setiap orang memiliki kerabat, teman, atau bahkan keluarga yang mengalami penyakit diabetes,” ungkapnya.

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, papar Prof. Suastika, angka prevalensi diabetes di Indonesia mencapai 10.9% yang diprediksi juga akan terus meningkat. Kondisi ini pastinya dapat mempersulit proses pengendalian dan pengelolaan diabetes.

“Siapa pun harus aware dengan kondisi kita. Harus ingat bahwa gejala klasik
diabetes yang bisa didiagnosa dari awal adalah banyak minum, banyak kencing, juga berat badan yang turun drastis. Bagi diabetesi, penting untuk mengecek kadar gula darah secara rutin dan melakukan pencegahan, terlebih saat pandemi COVID-19 sekarang ini. Diabetes adalah salah satu komorbid atau penyakit penyerta yang banyak ditemukan pada pasien virus COVID-19 tepatnya di peringkat kedua yaitu sebanyak 34,4% kasus di Indonesia,” imbuhnya

Pembicara lainnya, Presiden PB PERSADIA Terpilih periode 2020 – 2022 Dr. dr. Sony Wibisono, Sp.PD-KEMD, FINASIM menjelaskan, sejak berdiri 48 tahun yang lalu, PERSADIA telah secara proaktif memberikan edukasi pada masyarakat mengenai diabetes, baik untuk diabetesi maupun keluarganya. Menurut dr. Sony, perencanaan pengelolaan diabetes harus dibicarakan antara diabetesi dan keluarganya. Diabetesi harus menerima perawatan medis secara terkoordinasi dan terintegrasi dari tim kesehatan, sehingga keluarga perlu menyadari pentingnya keikutsertaan dalam perawatan diabetesi melitus agar kadar gula darah dapat terkontrol dengan baik.

“Perencanaan pengelolaan diabetes melitus harus dilakukan secara bersama antara pasien dengan keluarga agar kadar gula darah dapat terkontrol. diabetesi memerlukan diet gizi khusus untuk secara efektif mengatur kadar gula darah mereka serta memenuhi kebutuhan gizi mereka. Dan PERSADIA sebagai wadah untuk para diabetesi, terus mengedukasi bahkan bekerja sama dengan semua pihak yang ada sehingga dapat bersama-sama melakukan manajemen diabetes,” jelasnya.

Bersama Diabetasol, Sayangi Dia

Dalam rangka WDD 2020, Diabetasol kembali mengadakan serangkaian aktivitas dengan tema kampanye “Bersama Diabetasol, Sayangi Dia”. Kampanye ini mengandung ajakan agar semua pihak mulai dari tenaga medis, keluarga, sahabat, dan kerabat mempunyai peran aktif dalam memberikan dukungan bagi diabetesi. Selain itu tema yang diangkat ini juga menjadi wujud apresiasi dan didedikasikan bagi para caregiver yang sudah memberikan kontribusi positif bagi diabetesi di Indonesia.

Ada sebanyak 13 seri edukasi yang akan digelar Diabetasol secara virtual bertema 4 pilar manajemen diabetes di masa COVID-19. Acara ini akan digelar di 13 area (mencakup 21 kota besar Indonesia) pada 9 dan 10 November 2020. Kegiatan ini dilakukan berkolaborasi bersama rumah sakit lokal, perwakilan PERSADIA dan partner-partner lainnya.

Pada 9 November kegiatan akan berlangsung di area Sumbagut (Aceh, Medan, Pematang Siantar, Pekanbaru), Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi), Jabar (Bandung), Jateng (Yogyakarta), Jatim (Surabaya) dan Sulawesi-Indonesia Timur (Makassar).

Pada 10 November kegiatan akan berlangsung di area Kalimantan (Balikpapan), Jateng (Semarang), Jatim (Malang), Bali-Nusa Tenggara (Denpasar), Sulawesi-Indonesia Timur (Manado & Gorontalo) dan Sumbagsel (Palembang dan Bandar Lampung). Selain itu, akan ada Sales Program berupa potongan harga khusus untuk pembelian produk Diabetasol di toko resmi KalCare di Shopee pada 9-10 November 2020.

“Hari Diabetes Sedunia ini merupakan kesempatan untuk mengingatkan bahwa penyakit diabetes masih perlu menjadi concern karena diabetes menyebabkan komplikasi yang mempengaruhi kualitas hidup dan dapat menyebabkan kematian. Namun bersama Diabetasol sebagai total solusi nutrisi untuk diabetes, diabetesi dan caregiver dapat terbantu dalam menyusun pola makan diabetes yang sehat dan seimbang sebagai cara mengatasi diabetes,“ pungkas Tunghadi.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kesehatan

Fatigon Bersama Grab dan Kemenkes Kembali Hadirkan Vaccine Center di Palembang

Published

on

By


Palembang,- Program vaksinasi COVID-19 Tahap II di Indonesia dengan sasaran petugas pelayanan publik termasuk petugas yang terlibat secara langsung memberikan pelayanan kepada masyarakat dan kelompok usia lanjut atau berusia 60 tahun atau lebih akan dilaksanakan hingga April 2021.

Guna mendukung #SukseskanVaksinasi di Tahap II ini, Fatigon bersama Grab kembali berkolaborasi dengan Kementerian Kesehatan melaksanakan vaksinasi COVID-19 pada 29-31 Maret 2021 melalui Grab Fatigon Vaccine Centre yang berlokasi di Jakabaring Sport Center Palembang.

Sebelumnya, Fatigon dan Grab telah berkolaborasi di Kota Bandung dan Pekanbaru.

Dalam pelaksanaan vaksinasi di Kota Palembang ini akan dilakukan melalui Walk-In. Dengan target peserta vaksinasi adalah lansia dan pekerja publik di sektor transportasi termasuk mitra pengemudi dan pengantaran Grab, serta pekerja publik sektor pariwisata.

Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, pada peluncuran Grab Vaccine Center di Banten mengatakan bahwa tugas yang diembannya untuk melaksanakan program vaksinasi COVID-19 tidak mungkin dilakukan sendiri.

”Saya hanya bisa melakukan tugas ini bersama-sama. Kementerian Kesehatan tidak mungkin melakukan tugas ini secara eksklusif tetapi kita harus melakukannya secara inklusi dengan semua teman-teman,” kata dia dikutip dari Youtube resmi GRAB.

Kolaborasi yang terbangun ini merupakan suatu gerakan bersama yang sangat baik antara berbagai pihak yaitu pemerintah daerah, TNI/POLRI dan sektor swasta.

Tersedianya layanan pendaftaran vaksinasi COVID-19 melalui aplikasi Grab dan Good Doctor sangat memudahkan masyarakat untuk mendapatkan vaksin COVID-19.

Dan Kalbe turut serta menyukseskan vaksinasi dengan pemberian Fatigon Promuno Imunomodulator 4 herbal asli untuk melengkapi perlindungan daya tahan tubuh terhadap COVID-19 kepada setiap peserta vaksin.

Head of Consumer Health PT Kalbe Farma Tbk., Feni Herawati menjelaskan bahwa bersama dengan Kementerian Kesehatan, Grab dan Kalbe berkomitmen untuk menjaga masyarakat Indonesia Lengkap Terlindungi.

“Untuk #SukseskanVaksinasi ini dukungan diwujudkan melalui kemudahan akses vaksin Grab Fatigon Vaccine Center dan menjaga daya tahan tubuh masyarakat melalui Imunomodulator 4 Herbal Asli Fatigon Promuno dan tentunya senantiasa menerapkan protokol kesehatan,” tutur Feni.(31/03)

Feni mengatakan peserta vaksinasi selain mendapatkan vaksin juga akan mendapatkan edukasi “Lengkap Terlindungi” dan trial kit Fatigon Promuno.

“Konsumsi imunomodulator penting untuk menjaga daya tahan tubuh tetap baik sehingga perlawanan terhadap invasi virus dan bakteri dapat optimal. Melalui Aksi VIP (Vaksin, Imunomodulator dan Protokol 3M), Indonesia mampu Lengkap Terlindungi dan #SukseskanVaksinasi,” kata Feni.

Kegiatan ini merupakan rangkaian dukungan Kalbe melalui Fatigon Promuno dalam Pemulihan Indonesia dari COVID-19, setelah sebelumnya mendistribusikan paket ISOMAN untuk masyarakat Indonesia dari Sabang hingga Merauke.

Fatigon Promuno merupakan inovasi imunomodulator 4 herbal asli sinergi manfaat sambiloto dengan jahe merah, meniran, dan sembung berfungsi memulihkan respon imun, menekan peradangan, dan melawan infeksi virus.

“Konsumsi Fatigon Promuno dapat melengkapi perlindungan imunitas dan daya tahan tubuh pasca vaksinasi dengan tetap disiplin melaksanakan protokol kesehatan,” sambung Feni.

Dukungan Kalbe melalui Fatigon Promuno ini dapat mensukseskan program vaksinasi pemerintah sehingga dapat mendorong pemulihan ekonomi Indonesia ke depannya.

“Dengan imun yang terjaga, masyarakat bisa mulai kembali beraktivitas dalam era new normal,” kata dia.

Secara terpisah, Ketua Tim Mitigasi PB IDI/ Ketua Terpilih PB IDI, dr. Moh. Adib Khumaidi, SpOT. menegaskan bahwa perlawanan terhadap COVID-19 tidak bisa dilakukan dengan satu cara saja. Vaksin merupakan salah satu cara untuk mencegah Infeksi Virus, namun memperkuat daya tahan tubuh melalui Imunomodulator tetap harus dilakukan untuk melengkapi senjata pertahanan tubuh kita terhadap COVID-19.

Dukungan Kalbe melalui Fatigon Promuno dalam pelaksanaan vaksinasi akan Kembali dilanjutkan di kota berikutnya, yaitu Kota Samarinda.

Setiap peserta vaksinasi juga akan mendapatkan paket suplemen Fatigon Promuno. Suplemen Fatigon Promuno sudah tersedia secara nasional di apotek, toko obat, e-commerce, supermarket dan mini market.

 

 

Continue Reading

Kesehatan

Kupas Tuntas Vaksin COVID-19 dan Nutrisi untuk Lansia bersama Entrasol

Published

on

By


eksekutif.com – Penelitian menunjukkan bahwa orang dewasa berusia di atas 60 tahun, terutama mereka yang memiliki penyakit penyerta atau komorbid lebih mungkin mengalami infeksi virus corona yang lebih parah – bahkan mematikan – dibandingkan kelompok usia lainnya.

Faktanya, Gugus Tugas menyebutkan, 10,7% kasus terkonfirmasi positif COVID-19 menyerang kalangan lansia (di atas 60 tahun), bahkan kelompok usia ini mencatat 48,8% kasus pasien meninggal dunia akibat
COVID-19, dan menjadi kelompok usia dengan jumlah kasus meninggal dunia terbesar dibandingkan kelompok usia lainnya. Dari total 37.154 pasien COVID-19 yang meninggal di Indonesia hingga 6 Maret
2021, sebanyak 18.131 adalah lansia.

Artinya lansia memerlukan perhatian khusus agar terlindung dari berbagai risiko COVID-19. Salah satu caranya adalah dengan menjaga nutrisi harian serta pemberian vaksin bagi lansia.

Saat ini pemerintah sedang menjalankan program vaksinasi untuk lansia. Adapun lansia di Indonesia saat ini mencapai 28,7 juta jiwa atau 10,6 persen dari jumlah penduduk namun hanya 21,5 juta jiwa yang
ditargetkan menerima vaksinasi sepanjang program vaksinasi COVID-19 untuk lansia ini.

Pemberian vaksin pada lansia harus dilakukan secara hati-hati dan melalui proses skrining yang ketat sebelum
dokter memutuskan untuk memberi persetujuan vaksinasi.

Berangkat dari kenyataan serius tersebut, KALBE Nutritionals melalui brand Entrasol dengan produknya yaitu Entrasol Senior – nutrisi harian untuk membantu meningkatkan imunitas agar lansia tetap aktif – berkolaborasi dengan Perhimpunan Gerontologi Medik Indonesia (PERGEMI) dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyelenggarakan kegiatan Health Talk (Bincang Sehat) bertema Entrasol Kupas Tuntas Vaksin COVID-19 & Nutrisi untuk Lansia yang berlangsung secara virtual dan terbuka untuk umum pada Minggu, (07/03 2021).

Kolaborasi ini bertujuan mengedukasi masyarakat terkait program vaksinasi yang
telah dilaksanakan pemerintah dan nutrisi khusus lansia.

Berbicara di forum tersebut Prof. Dr. dr. Iris Rengganis, SpPD, KAI, FINASIM, Ketua Tim Advokasi Vaksinasi COVID-19 PB IDI menegaskan pentingnya kelompok masyarakat lansia untuk segera
mendapatkan vaksinasi. “Keseriusan COVID-19 dikuatkan fakta bahwa tingkat kematian, atau risiko kematian tertinggi terjadi pada pasien lansia, sehingga sangat penting agar kelompok ini segera
mendapatkan vaksin.”

Seharusnya, tidak perlu ada keraguan untuk menerima vaksinasi yang memang telah tersedia untuk warga lansia, kecuali mereka yang saat ini sedang sakit atau jika mereka pernah menderita COVID-19 sebelumnya atau memang tidak bisa menerima vaksin oleh karena kondisi medis,” ungkap Iris, minggu (07/03)

Program vaksinasi COVID-19 bagi kategori lansia di atas 60 tahun dimulai pemerintah sejak 8 Februari 2021 lalu, dan bisa dilakukan di fasilitas kesehatan baik di puskesmas maupun rumah sakit milik
pemerintah dan swasta.

Vaksinasi bagi lansia ini merupakan tindak lanjut dari dikeluarkannya izin penggunaan darurat atau Emergency Use Authorization (EUA) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) terhadap vaksin tersebut.

“Vaksin yang disediakan pemerintah telah melewati serangkaian uji klinis yang ketat dan menunjukkan bahwa vaksin ini aman untuk kelompok usia 60 tahun ke atas. Tidak ada efek samping serius maupun
kematian yang dilaporkan, jadi masyarakat tidak perlu khawatir,” kata Prof. Iris mengutip informasi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Dalam kesempatan yang sama Prof. DR. dr. Siti Setiati, SpPD-KGer, M-Epid, FINASIM, Dokter Penyakit Dalam Sub Spesialis Geriatric FKUI RSCM Ketua PERGEMI menekankan pentingnya mempersiapkan lansia agar vaksinasi bekerja dengan optimal. “Hal yang perlu dipertimbangkan terkait vaksinasi pada lansia adalah terjadinya immunosenescence atau disfungsi imunitas karena usia. Hal ini berhubungan dengan respon terhadap vaksin yang kurang maksimal. Karena immunosenescence biasanya sudah terjadi inflamasi kronis level rendah akibat dari kombinasi penurunan imunitas tubuh, paparan terhadap antigen terus menerus, peningkatan produksi sitokin proinflamasi dari senescent T cells dan makrofag,” Prof. Siti menjelaskan.

Adanya penyakit penyerta atau komorbid juga meningkatkan terjadinya inflamasi kronis. Akibatnya akan ada peningkatan risiko infeksi, peningkatan risiko kanker, peningkatan risiko penyakit autoimun,
penurunan respon terhadap imunisasi dan penurunan respon terhadap pengobatan infeksi.Lebih jauh, Siti juga mengingatkan kondisi khusus yang memengaruhi keefektifan vaksinasi pada lansia.

“Faktor-faktor yang memengaruhi keefektifan vaksinasi pada lansia adalah faktor intrinsik yaitu usia dan jenis kelamin, dan faktor ekstrinsik yaitu penggunaan obat-obatan. Kebiasaan seperti merokok, lingkungan sekitar, serta kecukupan nutrisi pada lansia berperan penting dalam keefektifan vaksin tersebut,” imbuhnya.

Terkait nutrisi Siti juga mengingatkan energi, protein, dan mikronutrien penting untuk tulang, otot, dan fungsionalitas. Untuk itu direkomendasikan agar energi minimal di atas 21kcal/kg BB, protein 1.0-1.5 g/kgBB/hari (25-30g) tiap kali makan, dan suplementasi apabila perlu, tetapi tetap perlu dicek dengan dokter.

Di acara yang sama, dr. Muliaman Mansyur, Head of Medical KALBE Nutritionals mengatakan bahwa selain skrining riwayat penyakit dan kesiapan psikis, tentunya kondisi fisik juga diperlukan dalam persiapan sebelum, selama, dan sesudah vaksin. “Sepanjang proses ini, sebaiknya lansia mendapatkan asupan nutrisi yang seimbang dengan kandungan tinggi protein, vitamin, dan mineral, khususnya
Vitamin C, D dan Zinc. Jika lansia kurang mendapat asupan nutrisi protein, maka risiko malnutrisi dan sarcopenia atau berkurangnya massa dan kekuatan otot akan mudah terjadi, selain itu imunitas yang terbentuk pasca vaksinasi menjadi kurang optimal. Setelah divaksinasi pun, lansia memerlukan nutrisi memadai untuk menjaga imunitas, khususnya lansia yang masih aktif berkegiatan, baik secara profesional maupun secara sosial,“ ujar dr. Muliaman.

Lebih lanjut dr. Muliaman mengatakan, “Nutrisi berperan penting untuk semua orang baik yang tidak bisa atau bisa divaksin dan yang belum atau sudah divaksin. Dan masing-masing mikronutrien seperti vitamin dan mineral ini – khususnya vitamin D – terbukti memainkan banyak peran dalam mendukung fungsi kekebalan dan mengurangi risiko infeksi.“

Mempersiapkan kondisi tubuh yang sehat dan fit sebelum menjalani proses skrining yang melihat kondisi kesehatan sebelum divaksin memang sangat dipengaruhi oleh pemenuhan nutrisi harian,terutama pada lansia. Hal ini dilakukan agar vaksin yang diterima dapat bekerja dengan efektif.

Boy Sinaga, Business Unit Coordinator General Adult Nutrition KALBE Nutritionals, menggaris bawahi bahwa selama masa pandemi ini, Entrasol hadir dengan kandungan tinggi protein dan vitamin untuk meningkatkan imunitas tubuh dan membantu memenuhi nutrisi harian lansia. “Entrasol memiliki kandungan Tinggi Protein, Tinggi Serat, Tinggi Vitamin D, dan kaya akan vitamin dan mineral lain, serta rendah laktosa sehingga sangat cocok untuk lansia untuk membantu meningkatkan daya tahan tubuh lansia.”

Selain itu, melalui kegiatan ini, Boy Sinaga juga berharap dapat memberikan edukasi kepada lansia tentang vaksin dan peran nutrisi untuk imunitas lansia. Kolaborasi kegiatan dengan PERGEMI dan IDI diharapkan untuk memberikan dukungan terhadap pentingnya program edukasi nutrisi dan vaksin untuk menyiapkan lansia sehat, melalui seminar dan pemberian ratusan ribu produk nutrisi dari Entrasol kepada lansia di Indonesia selama vaksinasi COVID-19.

“Bagi lansia yang sudah dan tidak dapat divaksin karena satu dan lain hal dengan kerjasama ini diharapkan para lansia tetap teredukasi dan mengerti nutrisi harian tepat untuk mereka” tutup Boy Sinaga.

Continue Reading

Kesehatan

Peringati Hari Penyakit Langka Sedunia 2021 – Yayasan MPS dan Penyakit Langka Indonesia Gelar Illuminate Buildings di Museum Nasional

Published

on

By


 

Hari Penyakit Langka Sedunia diperingati setiap tanggal 29 Februari. Illuminate Buildings menjadi pilihan sebagai peringatan Hari Penyakit Langka Sedunia di tahun 2021 dikarenakan pandemi yang masih terus menghantui masyarakat Indonesia sejak awal tahun 2020.

Yayasan MPS dan Penyakit Langka Indonesia yang merupakan organisasi nirlaba yang menaungi lebih dari 100 anak dengan penyakit langka di Indonesia, sejak tahun 2016, Yayasan tersebut rutin mengadakan berbagai rangkaian acara peringatan Hari Penyakit Langka Sedunia sebagai cara meningkatkan kesadaran bahwa penyakit langka di Indonesia dapat didiagnosis dan ditangani dengan baik.

Di Indonesia, Yayasan MPS dan Penyakit Langka Indonesia juga  mengadakan peringatan Hari Penyakit Langka Sedunia di tahun 2021 tersebut dengan menerangi Museum Nasional dengan lampu warna warni. Illuminate Buildings  yang dilakukan di Museum Nasional  dilakukan dengan lampu warna-warni khas penyakit langka, yaitu biru, pink, hijau dan ungu pada tanggal 27 hingga 28 Februari 2021.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian acara serupa yang telah dilaksanakan di lebih dari 14 negara lainnya serta telah melibatkan lebih dari 60 monumen nasional di berbagai negara, seperti Colloseum dan Menara Pisa di Italia, Empire State Building di Amerika Serikat dan Burj Khalifa di Uni Emirat Arab. Museum Nasional mencatat sejarah dan menjadi salah satu monumen nasional di seluruh dunia yang ikut merayakan Hari Penyakit Langka Sedunia 2021.

Menurut Peni Utami, Ketua Yayasan MPS dan Penyakit Langka Indonesia, saat ini masih banyak masyarakat yang awam mengenai penyakit langka yang dapat diderita oleh anak yang lahir ke dunia. Karena itu perlu adanya edukasi bagi masyarakat mengenai penyakit langka.

“Bagi kami Hari Penyakit Langka Sedunia menjadi momen penting untuk dapat sekaligus mengedukasi masyarakat awam mengenai penyakit langka. Namun, karena pandemi COVID-19 yang tidak memungkinkan kami melakukan acara secara massal, kami bermaksud tetap merayakan Hari Penyakit Langka Sedunia melalui Illuminate Buildings,” ujar Peni Utami,  saat acara Webinar “Patient Gathering, Reaching Everyone Everywhere”, Minggu ( 28/02/2021 ).

Pada kesempatan yang sama, Dr. Lies Dina Liastuti, Direktur Utama Rumah Sakit Umum Pusat Nasional (RSUPN) Cipto Mangunkusumo, mengungkapkan bahwa Penyakit langka adalah penyakit yang mengancam jiwa atau mengganggu kualitas hidup dengan prevalensi yang rendah, yaitu sekitar 1:2,000 populasi. (kurang dari 2000 pasien di populasi).

“Hingga saat ini, penyakit langka masih sering dianggap tidak penting, terutama di negara berkembang, karena jumlah pasien yang sedikit. Padahal, sebenarnya pasien penyakit langka ini cukup banyak secara kolektif, “ jelas Dr. Lies , pada kesempatan tersebut.

“Lebih dari 7,000 penyakit langka telah diidentifikasi dan mempengaruhi hidup jutaan orang di Asia. Dan, lebih dari 80% penyakit langka diturunkan secara genetik. Melalui peringatan Hari Penyakit Langka, mereka yang tidak tahu penyakitnya harus ditegakkan diagnosis dan tatalaksananya melalui teknologi tanpa kendala jarak. Jangan jadikan pandemi sebagai kendala untuk melayani pasien,” ungkap Dr. Lies menegaskan.

Yayasan MPS dan Penyakit Langka Indonesia telah melakukan berbagai hal terkait dengan penyakit langka di Indonesia. Pencapaian yang telah diraih Yayasan diantaranya adalah pembebasan bea masuk orphan drugs bagi pasien penyakit langka, dikeluarkannya peraturan khusus Badan POM Republik Indonesia nomor 30 tahun 2017 yang memberi kemudahan akses obat emergensi pasien penyakit langka, dan pembiayaan orphan food bagi pasien penyakit langka kelainan metabolisme bawaan melalui Peraturan Menteri Kesehatan nomor 29 tahun 2019.

Continue Reading

Trending

Copyright © 2021 Eksekutif.ID | Kerjasama dan kolaborasi silahkan email: eksekutifmatra@gmail.com. Hotline 0816-1945-288