Perubahan Interaksi Sosial di Era Internet, Masyarakat Cenderung Depresi

  • Whatsapp


JAKARTA,– Perkembangan teknologi informasi dan pandemi Covid-19 memaksa dunia dan Indonesia mengadaptasi gaya hidup baru yang mengandalkan dukungan teknologi internet. Perubahan ini menghasilkan lonjakan jumlah pengguna sekaligus meningkatkan risiko keamanan digital.

Selain itu muncul fenomena perubahan interaksi sosial akibat perkembangan dunia digital. Keterbukaan informasi di dunia digital ini pun ikut memengaruhi nilai dan norma dasar budaya Indonesia. Di mana Indonesia sempat mendapat predikat sebagai netizen paling tidak sopan karena budaya digital di Indonesia yang parah.

“Saling hujat, budaya yang marah saling singgung. Belum lagi hidup digital tanpa punya kepekaan terhadap budaya orang lain,” Kata Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia Devie Rahmawati saat acara Webinar Literasi Digital untuk wilayah Kota Depok, Jawa Barat, Selasa (8/6/2021).

Menurut Devie, perubahan budaya di dunia digital saat ini seharusnya bisa menjadi berkah bukan bencana. Pada akhirnya yang terjadi di masyarakat adalah masyarakat yang cenderung depresi akibat banjir informasi dikarenakan belum adanya kesiapan.

“Karakteristik budaya digital sekarang adalah palsu dan bangkrut, mengedepankan hidup yang gaya. Belum lagi jadi memiliki sedikit ruang untuk menikmati diri, hidup dalam jeratan sosial media,” tutur Devie.

Oleh karena itu, diperlukan budaya digital yang sesuai dengan nilai-nilai di Indonesia untuk mengatasi segala permasalahan di masyarakat modern sekarang dengan ketergantungan akan penggunaan internet. Dengan adanya literasi digital, maka internet bisa dimanfaatkan dengan positif serta menciptakan lingkungan digital yang sehat.

Menambahi hal tersebut Ketua Umum Relawan TIK, Fajar Eri Riyanto mengungkapkan perubahan budaya di dunia digital dapat terlihat juga dengan kemunculan berita hoax. Sebabnya masyarakat memerlukan literasi digital dengan pemahaman yang massif untuk membentengi arus informasi yang semakin cepat di era digital.

“Salah satunya dengan menyaring berita palsu dengan sarana digital untuk cek fakta,” kata Fajar.
Webinar Literasi Digital untuk wilayah Kota Depok, Jawa Barat I, diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Siberkreasi. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya digital skills, digital ethics, digital safety dan digital culture untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

 10 kali dilihat,  10 kali dilihat hari ini

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *