Majalah Eksekutif

PHK : Pijakan Hidup Kaya Memaknai Hidup

30Views

****


Sebuah perubahan kecil juga bisa berujung pada sebuah hasil yang spektakuler.

Sebagai contoh, Abraham Lincoln akhirnya bisa menjadi Presiden ke 16 Amerika Serikat, setelah ia mengubah kebiasaannya mengkritik lawannya. Setelah sebelumnya, ia mengganggap lawannya sebagai musuh yang harus dihancurkan. Hal ini tentu saja menimbulkan respon negatif tidak hanya bagi lawan tapi juga pendukung Lincoln mulai kehilangan simpatik.

Ketika Lincoln mulai mengubah pemaknaan terhadap lawannnya sebagai pihak lain yang harus ada untuk menjaga demokrasi, maka ia mulai berbicara dengan menghargai lawannya. Ternyata, hal ini menimbulkan simpatik yang luar biasa, termasuk oleh lawan.

Bila Abe Lincoln tidak memperluas permaknaannya mengenai lawan politik, mungkin ia tak pernah menjadi salah satu presiden di Amerika.

Terlepas hasil Pilpres 2019 nanti, siapa pemenang presiden kita, kiranya, kita perlu memperluas (memperdalam) pemaknaan hidup ini. Karena, seringkali kita mudah terjebak kepada sasaran-sasaran jangka pendek tanpa mempedulikan konsekuensinya ke depan.

Jangankan persahabatan yang putus atau sengaja diputuskan. Tapi, karena tak ada kerendahan hati semuanya menjadi putus kasih.

Untuk itu, perlu sikap mawas diri dan saling bahu membahu. Jangan cuma bisa mengeluh. Kita bisa saja menarik permaknaan sesuka hati kita, namun pemaknaan yang tidak jujur tidak akan membuat kita menjadi orang yang lebih baik.

Misalnya, tentang PHK. Ada yang mengganggap kalimat PHK sebagai momok yang menakutkan. Pemutusan Hubungan Kerja alias PHK dianggap membuat semuanya berakhir.

Faktanya, banyak orang yang justru menjadi kreatif setelah mengalami kejadian ‘memilukan’ tersebut. Bahkan tak sedikit dari mereka yang menjelma menjadi jutawan dengan penghasilan yang berlipat-lipat dibanding saat ia masih berstatus karyawan.

Rintihan vs Optimistis

Pandangannya nanar, langkahnya gontai dan sekujur tubuhnya terasa lemas. Perasaan si “bos” berubah kacau, begitu ia meninggalkan ruangan HRD dengan selembar kertas di tangannya.

Ia dan kelima rekannya yang sudah tujuh tahun bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang advertising itu dinyatakan berhenti alias di-PHK. Dalih yang dipakai manajemen untuk mengambil kebijakan itu adalah kondisi perusahaan yang limbung akibat macetnya order.

Bukan surat itu yang membuat pikirannya kacau, melainkan imbas yang akan dirasakan akibat keputusan itu selanjutnya. Bisa dipastikan, penghasilan tiap bulan yang ia terima akan terhenti.

Padahal, beban yang mesti ia ditanggung tidaklah ringan. Ia harus membiayai hidup istri dan juga kedua anaknya yang kini duduk di bangku SD. Belum lagi cicilan sepeda motor yang masih harus dilunasi satu tahun lagi.

Sementara untuk mendapatkan pekerjaan baru bukan perkara mudah di tengah kondisi ekonomi yang sedang carut marut belakangan ini.

Itulah sekilas gambaran “rintihan” orang yang tak siap menghadapi PHK.

Kasus pemutusan hubungan kerja (PHK) sebenarnya bukanlah cerita baru di negeri ini.

Jauh sebelumnya, kasus seperti itu sudah sangat sering terjadi meski dengan skala dan penyebab yang berbeda-beda. Ada kalanya PHK melibatkan ribuan karyawan dari puluhan perusahaan sebagaimana kasus PHK massal pada 1998 lampau.

Di penghujung bulan ini, isu PHK kembali santer terdengar.

Sejumlah perusahaan berteriak, mereka mengaku tidak kuat menanggung beban produktivitas yang semakin tinggi akibat terkena imbas krisis dan global. Kini dolar Rp 14 ribu, perusahaan harus mengatur pembiayaan lagi.

Penurunan nilai tukar rupiah, disebabkan banyak faktor.

Optimis perlu terus terus dipancarkan. Sebab, sangatlah keliru jika PHK dianggap akan membuat semuanya berakhir.

Seringkali dijumpai, karyawan yang mengidentikkan dirinya dengan perusahaan. Kemanapun ia pergi-baik untuk urusan pribadi sekalipun – karyawan tersebut selalu mengatasnamakan perusahaan.

Bagi orang seperti ini pekerjaan tak ubahnya sebagai simbol status dan harga diri yang tidak ternilai. Tak heran jika orang seperti ini akan menghadapi tekanan psikologis yang sangat besar dan kontraproduktif manakala harus kehilangan pekerjaan.

Ada juga karyawan yang memandang setiap kejadian secara obyektif dan rasional. Ia percaya segala sesuatu yang terjadi sudah diatur oleh hukum tertentu dan bersifat logis.

Sehingga kehilangan pekerjaan hanya dianggap kehilangan kendali atas diri dan alam sekitar. Kondisi semacam ini membuat mereka kehilangan kepercayaan diri dan timbul ketakutan bahwa mereka tidak mungkin lagi bisa kembali pada kondisi seperti sebelum terjadinya PHK.

Mimpi Jadi Astronot

Dari jumlah karyawan yang mengalami PHK dalam perusahaan, barang kali hanya sepertiga saja jumlahnya yang menganggap pekerjaan sebagai alat untuk menjalani hidup. Ia tidak menganggapnya sebagai simbol status atau penentuan harga diri.

Biasanya karyawan seperti ini tidak akan menanggapinya dengan reaksi emosional yang kontraproduktif. Kehilangan pekerjaan bagi mereka dianggap sebagai suatu situasi sementara yang tidak nyaman, tetapi tidak perlu merasa tertekan.

Situasi yang terasa nyaman ketika masih bekerja, seolah lenyap seketika ketika terjadi PHK. Dari seorang yang begitu “berkuasa” dan memiliki banyak anak buah di perusahaan tiba-tiba menjadi seseorang yang tidak punya apa-apa lagi.

Dari hari-hari yang diisi dengan kegiatan yang begitu terprogram, tiba-tiba menjadi tidak punya kegiatan lain selain mencari lowongan kerja baru.

Situasi ini tidak urung menimbulkan berbagai “luka psikologis”. Bentuknya antara lain berupa tidak percaya diri, meragukan kemampuan yang dimiliki selama ini, mudah tersinggung dan seringkali terjadi hubungan yang kurang harmonis dengan anggota keluarga.

Dengan memperluas permaknaan dalam hidup kita, maka kita akan menjadi lebih bijak dalam menghadapi berbagai fenomena kehidupan, sehingga kita akan lebih tabah dan kuat menghadapi situasi.

Barangkali kejadian yang dialami oleh Frank Slazak bisa membantu pemahaman kita mengenai hal ini. Frank Slazak adalah guru sebelum akhirnya ia terpilih untuk mengikuti seleksi astronot yang diselenggarakan oleh NASA, di Amerika.

Setelah bersaing dengan 43 ribu kandidat lainnya serta mengikuti serangkaian tes yang berat. Frank akhirnya menjadi salah satu dari 100 orang finalis dalam proses seleksi tersebut. Namun, akhirnya Frank begitu kecewa, karena ternyata ia gagal menjadi astronot.

Pada tanggal itu, Frank duduk bersama rekan-rekan lainnya yang gagal. Mereka menyaksikan peluncuran pesawat angkasa tersebut. Di tengah kesedihannya itu, Frank masih berharap bahwa ia bisa menjadi salah satu astronot di pesawat itu dan untuk itu, ia mau mengorbankan apapun yang dimiliknya. Tujuh puluh detik kemudian, ia mendapatkan jawabannya. Pesawat Chalangger itu meledak dan semua penumpangnya tewas seketika.

Frank pun menemukan makna yang lebih luas dari kejadian itu. Semua ia memaknai proses seleksi astronot tersebut sebagai ujian baginya untuk bisa duduk di dalam Chalengger.

Namun, ia sekarang menyadari bahwa proses harus ia lalui untuk lebih menghargai hidupnya dan mengisinya dengan hal-hal yang lebih berguna. Kita memang perlu menghargai hidup dan mengisi hal yang lebih berguna, di tengah misteri kehidupan. Benarkah? (*)

oleh : S.S Budi Rahardjo
CEO Majalah Eksekutif & Ketua Forum Pimpinan Media Digital Indonesia/Asosiasi Media Digital

baca juga: Majalah eksekutif cetak (print) edisi terbaru – klik ini

Tinggalkan Balasan

Translate »