Pola Pikir Utama Harus Dibentuk Dalam Bermain Sosial Media

  • Whatsapp


JAKARTA – Perubahan media komunikasi itu tidak terlepas dengan perubahan teknologi komunikasi yang sangat pesat. Tantangan di era digital ini sebenarnya karena terbukanya akses, proses yang cepat, serta kemudahan akses. Lalu kecanggihan teknologi digital ini juga memperkaya pengetahuan dan keterampilan para pengguna, tetapi tanpa dibingkai oleh nilai budaya yang kuat semua itu bisa sia-sia.

Noor Kamil, Co-Founder MasPam Records mengatakan, di dunia musik atau industri musik, seperti kita ketahui saat ini persaingannya ketat karena adanya kemajuan teknologi tersebut. Berbeda dengan 10 – 15 tahun lalu yang harus masuk ke studio rekaman jika ingin merilis single atau album, menggunakan studio rekaman yang pada saat itu hanya dimiliki label besar merogoh kocek cukup dalam. Saat ini musisi bisa mengerjakannya dengan studio rekaman kecil yang dibangun sendiri, seperti rumah dan kamar. Kemudian para artist ini pun dapat mengunggah dan mendistribusikan karyanya melalui platform digital saat ini tersedia.

“Semakin mudahnya membuat musik dan dirilisnya, semakin banyak juga musisi-musisi baru bermunculan. Maka terjadilah persaingan yang ketat. Gimana caranya kita bisa stand out di sosial media,” ujar Noor Kamil dalam Webinar di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Rabu (14/7/2021).

Negatif efek di media sosial, ada depresi, kecemasan, FOMO, cyberbullying, unrealistic expectation karena banyaknya pencitraan, membuat kecanduan dan berefek ke jam tidur. Karena mengetahui kalau sosial media menimbulkan efek negatif, Noor Kamil membuat Instagram Maspamrecords untuk tujuan positif.

Sebenarnya ada beberapa target yang kita bisa gunakan di sosial media, intinya hal positif yang kita bisa lakukan. Sebenarnya positifnya adalah kita bisa meningkatkan brand awareness, meningkatkan eksistensi dari brand kita atau produk kita, kemudian sangat efektifnya melakukan promosi dan marketing. Itu kita sangat mengalami dibandingkan media tradisional. Dari segi musisi, pemanfataan media digital dapat meningkatkan komunikasi dua arah antara musisi dan fans. Menurut Noor, kita bisa langsung ketemu fans atau usernya itu kolom komentar di Instagram, Youtube.

“Pola pikir utama yang harus dibentuk dalam bermain sosial media, yaitu menanamkan bahwa kita tidak mencari validasi dari likes dan followers. Fokusnya dalam bermedia sosial ialah berbagi karya dan hal yang positif. Karena, validasi sendiri bisa berdampak pada kesehatan mental pengguna seperti depresi dan kecemasan. Seiring angka dari likes dan followers yang tidak selalu sama setiap saat,” paparnya

Menurut pengalaman Kamil dalam mengelola Instagram Maspamrecords, terdapat beberapa konten yang mendapatkan banyak engagement dari para followersnya. Hal-hal tersebut biasanya berupa konten lucu, video, tutorial, top 10 list, review produk, dan interview. Pentingnya interaksi itu bisa menaikkan algoritma di sosial media. Banyaknya interaksi membuat postingan muncul di eksplor orang lain. Dalam bersosial media itu, kita menonjolkan karakteristik diri kita sendiri. Kemudian, konsisten dalam berkarya dan yang paling penting adalah selalu menyebarkan konten positif kepada para audiens.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Rabu (14/7/2021) ini juga menghadirkan pembicara, Monica Eveline (Digital Stategist Diana Bakery), Viringga Kusuma (Penulis & Aktivis Literasi), Elly Nurul (Ketua Kumpulan Emak Blogger), dan I Made Nandhika Adiprana.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

 13 kali dilihat,  13 kali dilihat hari ini

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *