Majalah Eksekutif

Politik Kantor, Bagi Yang Masih Ngantor.

Oleh: S.S Budi Rahardjo (CEO Majalah Eksekutif & Ketua Tim Densus Digital)

1.51KViews
MAJALAH EKSEKUTIF - terbit sejak 1979 -
S.S Budi Rahardjo, Ketua Umum Forum Pimpinan Media Digital Indonesia di stand Google

EKSEKUTIF.id — Mendengar kata politik atau berpolitik, mungkin kita akan langsung teringat para petinggi negeri di kursi-kursi pemerintahan Tanah Air.

Kongsi-kongsi politik, beragam intrik tercium di dunia politik, dari mencari nama, menyenangkan pihak-pihak yang memiliki kekuasaan, hingga menjatuhkan kompetitor. Caranya, terkadang membuat kita geleng-geleng kepala.

Nah, apa yang pertama kali terlintas dalam pikiran kita ketika mendengar istilah “politik kantor”?

Hampir pasti, konotasinya kotor.

Dalam konteks politik kantor yang kotor, ada baiknya kita merenungkan doa filsuf asal Prancis, Voltaire (1694 – 1778), yang berbunyi: “Lord, protect me from my friends; I can take care of my enemies” – Tuhan, lindungilah aku dari teman-temanku, aku dapat melindungi diri dari musuh-musuhku.

Doa Voltaire mengingatkan kita pada adagium dunia politik, bahwa tak ada yang namanya teman abadi, yang ada hanya kepentingan abadi.

Tidak ada yang bisa menjamin teman akrab, tidak akan berubah menikam dari belakang bila ada kesempatan.

Office politic selalu ada di setiap kantor. Hanya saja, ada yang tajam, ada yang tidak, ada yang positif, dan ada negatif.

Kantor, sebagai tempat bertemunya sekumpulan orang dengan berbagai kepentingan dan tempat karier dipertaruhkan, tentu tidak akan lepas dari esensi politik, perebutan kekuasaan.

Ketika orang tumbuh berkumpul selalu ada “saya” dan “mereka”.

Kebanyakan tak menyadari, tetapi tanpa disadari menjadi “pemain”-nya. Banyak dari kita yang masih sulit mengenali dan mengatasinya. Ada yang menyebutnya, sebuah permainan. Gejolak adrenalin yang dirasakan dalam persaingan, mirip dengan olahraga.

Perbedaannya, mungkin terletak pada faktor menang atau kalah. Dalam olahraga, pemenang adalah hal yang pasti. Dalam politik kantor di perusahaan, tidak ada pemenang. Yang ada, adalah pecundang.

Emilia Jakob, Junior Partner EXPERD Consultant menyatakan tak ada perusahaan yang kebal terhadap office politics. “Kantor dengan karyawan lebih dari tiga saja, sudah pasti berpolitik,” ujarnya. Politik kantor, menurut Emilia, adalah kompetensi berorganisasi.

Seorang pakar komunikasi antarbudaya, Dr. Leila Mona Ganiem menyampaikan, bahwa, inti dari berpolitik di kantor adalah menjadikan diri kita disukai. Apapun itu, yang penting hal tersebut tidak merugikan pihak lain, toh disukai juga bukan merupakan suatu kesalahan.

Akan sangat buruk, ketika mulai ada perilaku yang tidak-tidak, saling menjatuhkan satu sama lain, atau mulai muncul intrik-intrik tak sehat.

Dalam bukunya “Manager’s Desktop Consultant: Just-in-Time Solutions to the Top People Problems That Keep You Up at Night”, Louellen Essex menuliskan bahwa Politik kantor menjadi kotor jika hanya menguntungkan pribadi atau individu saja.

Menghadapi, terutama yang negatif, memang bukan mudah. Apalagi, jika kita menjadi kambing hitam dari “politik kantor” ini, fuih rasanya menjengkelkan sekali.

Selalu Ada di Mana Pun

Di mana pun Anda bekerja, gosip, intrik untuk menjatuhkan rekan lain dan tekanan emosional menjadi bagian dari tema ini. Bisa saja di perusahaan swasta skala kecil atau perusahaan multinasional. Persoalannya, Anda terlibat di dalamnya atau tidak.

Mengaku “terjebak”, walau tak memedulikannya. Atau, seakan-akan, terpaksa terseret di dalamnya, kadang bak ayat pembenaran atau bagai sebuah dilema. Kejamnya politik kantor atau menjadi kambing hitam, baru terasa saat dirinya menjadi korban.

Untuk itu, janganlah berkontribusi dalam bentuk apapun. Seandainya suatu saat posisi Anda terjebak di antara yang terlibat politik kantor, jangan ikut terjebak membicarakan ‘lawan’. Segera menghindar dengan ‘cantik’.

Bersikap netral dengan tak bikin gosip atau fitnah orang lain. Terlebih, jika gosip tersebut sudah menyangkut kehidupan pribadi rekan kerja, lebih baik segera tinggalkan majelis percakapan tersebut.

Intinya, selama gosip tak berhubungan langsung dengan pekerjaan atau perusahaan tempat Anda bekerja, lebih baik jangan buang waktu dengan mendengarkan gosip tersebut.

Jadilah pengamat dan jauhi gosip.

Mengetahui hal buruk tentang seseorang, atau mendengarkan gosip sih boleh-boleh saja, karena ini mungkin akan membantu memahami struktur kekuasaan di kantor. Tetapi jika sampai menyebarkan, hati-hati hal itu akan kembali ke Anda. Bisa menjadi “senjata makan tuan”.

Tak perlu memihak.
Memang, tak selamanya kita cari aman terus. Satu saat, kita harus mengambil sikap atau memihak pada kubu tertentu. Kiatnya, harus cerdas baca situasi, dengan mempelajari politik kantor, agar kita bisa menentukan bagaimana harus bersikap.

Simpan rahasia pribadi.
Terlalu banyak mengumbar kehidupan pribadi kepada orang lain, akan membuat para penggosip punya banyak “amunisi” untuk menggosipkan Anda. Dan, mereka bisa saja menjadikan rahasia pribadi Anda sebagai senjata untuk ‘menjatuhkan’ Anda.

Fokus pada pekerjaan Anda.
Memenuhi tugas dan tanggung-jawab. Kemudian, kontrol emosi. Sekalipun sangat marah dengan rekan kerja. Tak perlu melakukan hal yang tak baik kepada mereka. Satu kelakuan buruk akibat emosi tak terkontrol, bisa jadi bahan gosip yang justru bisa menjatuhkan. Apalagi jika rekan yang Anda maki-maki tergabung dalam salah satu ‘blok’, semisal; keponakan bos A.

Dengar musik.
Daripada pusing mendengar gosip dari masing-masing blok yang ‘bertikai’, lebih baik jaga konsentrasi. Bekerja saja, sambil mendengarkan musik. Tutup kuping Anda, biarkan musik kesayangan Anda menghibur lewat earphone.

Tetap positif.
Tetaplah menjadi karyawan baik, sekalipun tahu banyak rekan kerja sibuk ber”politik kantor”.

Jangan biarkan orang mengatakan kepada Anda, sesuatu jika yang dikatakan itu ‘sangat rahasia’. Jangan bertanya, jangan menjawab, dan jangan menyetujui. Jangan katakan keburukan orang lain. Jangan membuat gosip. Katakan, “Saya tidak tahu.” Dan tetaplah bekerja sebaik-baiknya.

Tetaplah menjadi karyawan baik, sekalipun tahu banyak rekan kerja sibuk ber”politik kantor”.

Penulis Buku Office Politics, Rebecca Luhn Wolfe, mengatakan setiap kantor memiliki budaya masing-masing, yang terbentuk dari beragam politik karyawannya. Mereka berpolitik, baik secara individu maupun berkelompok. Politik kantor merupakan siasat memanfaatkan lingkungan kerja agar tujuan pekerjaan tuntas dengan baik.

Menurut Wolfe, hampir tak ada kantor yang tidak berpolitik. Situasi ini muncul karena di dalam kantor terdapat beragam orang dan pekerjaan. “Setiap hari mereka bersiasat mencapai tujuan,” katanya. Politik kantor dikatakan sehat jika kompetisi antarkaryawan berjalan sehat.

Realitasnya, politik kantor kerap dikonotasikan negatif. Tujuannya untuk mendapatkan pengaruh kuat, bukan memberi kontribusi pada perusahaan.

Yuke Yuanita, konsultan komunikasi menilai, segala bentuk komunitas informal di kantor sah-sah saja, apalagi menambah produktivitas karyawan. Yang dikhawatirkan adalah jika pengkutuban ini berdampak negatif pada situasi kantor, misalkan saling menjatuhkan. Jika sudah begini, bos harus turun menangani. Harus bersikap netral.


Identifikasi Rekan Kerja

Sekalipun memilih jadi ‘netral’ tidak memihak siapapun, Anda tetap harus buka mata dan telinga. Maksudnya, agar tidak salah berteman akrab dengan salah satu ‘blok’. Hindari makan siang bareng, bergosip, dan sebagainya.

Tetap harus tahu situasi yang sedang berjalan. Hal ini penting agar Anda tahu langkah yang harus Anda ambil jika Anda menghadapi situasi sulit. Misal; Bos A yang merupakan atasan Anda langsung akan ‘ditendang’ karena Bos B tidak sependapat.

Lakukan yang menurut Anda benar. Sekalipun Anda ‘netral’, Anda bukan boneka yang hanya bisa diam. Lakukanlah hal yang terbaik menurut Anda, jika Ada hal-hal yang tidak Anda inginkan terjadi di kantor Anda.

Masalahnya, harus memutuskan apakah ingin menjadi “double agent” atau tidak. Maksudnya, apakah ingin meloncat-loncat dari satu kelompok ke kelompok lain, atau lebih suka setia pada satu kelompok saja. Beberapa orang lebih suka menjadi netral saja. Tidak berpindah-pindah kelompok, dan tidak pula setia pada satu kelompok.

Posisi perlu dimainkan dengan sangat hati-hati, agar Anda tidak terlempar dari arena permainan.

Informasi adalah teman terbaik. Seperti yang telah dikatakan sebelumnya, temukan dan cari tahu peran apa saja yang dimainkan oleh setiap individu dalam arena permainan. Semakin banyak pengetahuan, semakin banyak pula “amunisi” yang Anda miliki seiring Anda bermain dalam arena politik itu.

Kuncinya, bagaimana agar tetap selaras dengan dinamika yang terjadi di lingkungan kantor tanpa harus ikut tertarik ke salah satu kubu dalam perebutan kekuasaan atau persaingan. Jangan juga buru-buru beranggapan bahwa Anda adalah korban like and dislike.

Tak perlu memakai topeng untuk disukai rekan sekantor. Introspeksi saja. Cukuplah jadi diri sendiri. Tidak usah pedulikan orang lain. Bersikaplah profesional. Karena, untuk mencapai posisi yang dikehendaki, Anda juga harus menunjukkan prestasi terukur.

Strateginya tak perlu seperti para politikus, yang menjadi pemain aktif, dengan cara memuji atasan. Tak perlu, agar naik jabatan, menjadi kaki-tangan si bos. Sangat naif, bila menjadi pelaku gosip hingga “bermuka dua”.

Pekerja seperti ini, ingin mendapat pujian sekaligus dapat menjatuhkan rekannya dalam waktu bersamaan.

Jika berhadapan dengan mereka, lebih baik bersikap apa adanya dan mulailah menjaga jarak. Lebih baik jangan katakan informasi atau memancing obrolan negatif dengan mereka. Karena mungkin bisa saja si dia memutarbalikkan
semuanya.

Kenali jika ada karyawan yang sering memuji bos dan mengumbar jasa-jasa yang telah diperbuatnya, bagi perusahaan tempat ia bekerja. Karena tipe ini, orang yang selalu ingin terlihat menonjol dan andal dengan cara menceritakan kejelekan dan kinerja tidak baik rekan-rekannya.

Dasarnya ambisi. Karena ingin memiliki karier yang bagus, gaji besar, kadang orang membuat dasar sikap. Dari teman berubah haluan, lalu membuat gosip. “Pantas saja departemennya tidak bisa maju, ia plin plan atau kurang tegas.”

Prestasi lawan coba ditenggelamkan, agar dirinya lebih hebat. Dibuat kondisi kantor seolah menjadi “gawat”, dengan pengkondisian rumors macam-macam. Dari mengadu ke manajemen menilai rekannya bersenang-senang pada saat jam kantor.

Melaporkan uang masuk ke rekening pribadi atau mencurigai tanpa dasar aktivitas di perusahaan. Ujungnya, menjatuhkan kredibilitas Anda. Targetnya, berusaha maksimal, agar mengambil posisi.

Bukan Karena Tahun Politik

Politik kantor tak bisa dihindari, karena setiap insan yang ada dalam organisasi, perusahaan atau entitas bisnis, punya ambisi berbeda. Tujuan berbeda, kepentingan berbeda. Maka, terjadi perang strategi serta cara meloloskan yang dicapai.

Ada yang percaya, bila dikelola baik akan meningkatkan produktivitas. Sebaliknya, politik kantor yang negatif pasti menimbulkan rasa tidak percaya satu sama lain dan akan kontraproduktif. Atau, kalau politik kantor berfokus pada self interest, juga akan tidak sehat. Team work yang terjalin baik bisa rusak.

Komunikasi adalah kuncinya. Setiap kantor pasti memiliki budaya kerja berbeda. Dan setiap tempat kerja, pasti ada saja yang memiliki sejumlah orang penyuka “isu” dan menyebarkan, membuat kelompok-kelompok sendiri di kantor. Bahkan, kadang merasa perlu untuk terlibat dengan bergabung ke salah satu blok untuk mengamankan posisinya.

Sesungguhnya, jika memiliki kinerja yang dapat diandalkan, siapa sih yang mau menggeser karyawan berprestasi? Dengan terlibat politik kantor, salah-salah posisi Anda malah tidak aman, jika blok lawan Anda sedang ‘berjaya’ di kantor.

Cara Terbaik Menghindari Politik Kantor

Josh Warborg dari firma Robert Half International memberi cara awal mendeteksi untuk menghindari politik kantor.

Caranya, dengan melihat tanda-tandanya, bahkan sebelum Anda diterima oleh perusahaan. Jika si pewawancara saja sudah menjelek-jelekkan orang lain, perusahaan, atau anggota timnya, maka hal itu adalah tanda bahwa perusahaan tidak mendukung budaya saling menghormati.

Beberapa orang bisa dengan cepat “mencium” aroma politik yang kental di perusahaan tertentu, sementara beberapa orang bahkan tidak sadar bahwa di kantor tempat mereka bekerja sebenarnya kental dengan nuansa “politik”.

Perusahaan yang memiliki prosedur atau birokrasi rumit, biasanya mempunyai nuansa politik yang kental pula. Hal ini kerap menghambat kemajuan individu-individu dalam perusahaan, dan secara otomatis menghambat kemajuan perusahaan itu sendiri.

Tidak ada teman abadi atau musuh abadi dalam permainan politik. Anda berusaha menjadi lebih unggul dan mendapatkan posisi lebih baik di antara sesama rekan kerja. Tetapi, bila Anda terlalu memaksakan kehendak, kemajuan karier Anda malah mungkin bisa terhambat.

Rekan kerja kita pintar memakai kelebihannya untuk mendapatkan sesuatu. Misalnya, pengurangan beban kerja, promosi jabatan sampai perhatian lebih dari atasan. Biasanya, mereka inilah yang kita anggap berpolitik di kantor.

Definisi politik di dunia profesional sendiri masih subjektif. Ada yang menilainya sebagai kecurangan, ada juga yang menganggapnya sebagai strategi.

Menurut Edi Winarto, jurnalis yang kini nyaleg, politik kantor bisa dibenarkan selama dilakukan secara santun dan beretika. Kita bisa juga menjadikannya alat bantu untuk mencapai tujuan karier.

“Dengan berpolitik, kita mengasah kemampuan berinteraksi, memimpin, cerdas dalam bersikap, kesadaran diri, dan (punya) strategi bersaing. Politik di kantor juga bisa memotivasi kita untuk berkompetisi dengan rekan kerja lain,” ujar Edi Winarto berujar.

Prestasi Kerja Membangun Sekutu

Memiliki prestasi kerja yang memuaskan, ternyata bagaikan magnet penarik sekutu. Teman menjadi segan dan lawan politik yang ingin menusuk dari belakang harus berpikir berkali-kali bila ingin menjatuhkan. Seandainya berhasil disingkirkan pun, mereka akan menghadapi dilema kehilangan pemain kompeten dalam tim.

Berbuat kesalahan dalam kerja itu lumrah, namun lawan politik sejati tidak akan melewatkan kesempatan ini menjatuhkan kita. Begitu banyak eksekutif yang beranggapan bahwa cara menapaki sebuah kesuksesan adalah dengan menggunakan cara-cara tidak etis, seperti mempermalukan atau menjatuhkan martabat rekan-rekan manajernya untuk meraih tujuan.

Pola kasar semacam ini dilakukan dengan cara yang licik, misalnya dengan ‘menusuk dari belakang’. Bahkan, acap kali, mereka kedapatan tengah berperan sebagai penjilat.

Ragam orang seperti ini, benar-benar ada di sekitar kita. Habiskan waktu Anda untuk berkreasi dan menyelesaikan tugas. Karena, hampir dua pertiga dari pekerja yang diwawancarai Robert Half International, firma kepegawaian profesional, mengakui, terlibat dalam politik kantor hal yang tak terhindarkan di era ini.

Berdasarkan sebuah survei oleh firma Robert Half International, 56 persen dari karyawan telah melihat berbagai manuver di kantornya masing-masing.

Aktivitas tersebut meliputi bergosip, memuji atasan untuk mendapat kemudahan, dan mendapat pujian atas hasil kerja orang lain. Sedangkan 40 persen pekerja mengategorikan diri sebagai “pemain musiman” ketika isu bergulir.

Fenomena politicking adalah fakta dunia kerja.

Dalam sebagian budaya kerja, “who you know” lebih penting dari “what you know”. Contohnya, di China bukan rahasia umum bila ingin sukses berbisnis atau maju dalam karir, harus ada ‘Guanxi’ (terjemahan harfiah: koneksi). Istilah ini bikin bingung orang Barat, karena sekilas mirip dengan nepotisme.

Ibarat menonton teater dengan kantor sebagai latar belakang panggung.

Dalam teater “politik kantor”, kita adalah pemain sekaligus penonton. Sebagai pemain, kita harus pandai mengikuti arus demi kemajuan pribadi, tanpa mengorbankan prinsip hidup, menghalalkan segala cara demi karir yang fana.

Sebagai penonton, kita dituntut untuk belajar melihat realitas. Dunia kerja memiliki barometer penilaian berbeda berdasarkan meritokrasi dan profesionalisme.

Anda tidak bisa begitu saja meledak-ledak di depan umum saat meeting sedang berlangsung. Mempertahankan sikap profesional, tidak hanya membuat Anda terlihat elegan, tapi juga menjauhkan omongan miring tentang Anda. (*)

9 Tipe Pelaku “Politik Kantor”

Seorang, di organisasi, walaupun selama ini orang tersebut adalah teman baik, bisa saja suatu saat melihat Anda sebagai ancaman bagi jenjang karier yang dimilikinya. Saat hal ini terjadi, orang tersebut dapat mulai mencari kesempatan untuk menjatuhkan reputasi dan hasil kerja Anda.

Tentu saja Anda, harus berhati-hati dalam mengambil suatu kesimpulan. Harus juga waspada mengenai usaha untuk mensabotase hasil kerja di kantor. Jangan hanya berdiam diri. Karena si dia, membicarakan hal negatif tentang Anda. Yang kemudian, mencuri ide Anda.

Belum ada rumus pasti, dalam menghadapi politik kantor, namun beberapa langkah di bawah mudah-mudahan dapat menetralisir serangan kotor pemain lain. Jika Anda tak mau terjebak dalam politik kantor, cobalah kenali beberapa tipe pelaku politik di kantor berikut ini.

1. Si pemberi informasi
Biasanya, ia punya informasi “segudang”. Sering berspekulasi atau berasumsi mengenai suatu masalah, yang kemudian membahasnya dengan orang lain. Untuk menghadapi orang seperti ini, sebaiknya dengarkan saja dan jangan bercerita banyak, karena bisa saja dia malah menyebarkan informasi dari Anda ke orang lain.

2. Si tukang melobi
Selalu berusaha agar proyeknya diusung atau selalu ingin mengerjakan proyek besar. Tidak selalu memiliki ide terbaik, tapi mereka selalu teguh pada pendirian dan berusaha agar opininya didengar, sementara pendapat orang lain tak selalu diterimanya. Hati-hati terhadap agenda tersembunyi yang dimilikinya, terutama ketika tiba-tiba dia meminta bantuan Anda. Jika Anda punya opini atau ide yang berbeda dengannya, jangan ragu untuk membicarakannya.

3. Si licik yang terselubung
Ini tipe orang yang harus diwaspadai. Biasanya, orang tipe ini mampu bersikap manis di depan orang lain, tapi bisa bersikap sebaliknya di belakang. Dia bisa mendapatkan hal-hal yang diinginkannya dengan cara manipulasi. Pekerja ini tidak akan ragu mengkritik sesama rekan kerja atau menerima pujian atas hasil kerja orang lain. Jangan biarkan mulut manisnya memanipulasi dan jangan sampai Anda tersulut emosi. Fokuslah pada pekerjaan, terutama jika yakin ide dan opini Anda lebih baik.

4. Si penasihat

Biasanya, orang paling berpengaruh dalam pergaulan di kantor, karena menjadi mata dan telinga bos. Saat berhadapan dengan orang ini, tak boleh menunjukkan “rapor merah”, karena mereka punya “jalur cepat” untuk melaporkannya kepada para petinggi. Akan memberikan pengaruh buruk, bila ia punya agenda sendiri.

5. Si Penyebar Gosip
Salah satu cirinya, senang bicara berbisik-bisik dan berspekulasi terhadap isu-isu sensitif. Bagaimana menghadapinya, sebaiknya jaga jarak dengan orang ini. Jangan mengatakan informasi apa pun yang belum jelas kebenarannya, terutama mengenai isu-isu krusial dan sensitif. Meski orang ini sangat sering memberi informasi dan gosip akurat serta relevan, itu bukan alasan Anda ikut terbawa ke dalam percakapan penuh spekulasi dan berpotensi menyebabkan konflik.

6. Si Pencuri Ide
Para pencuri ide sangat menikmati ketika jadi sorotan dan mendapat pujian, meski untuk mendapatkannya harus mencuri ide atau menikmati hasil jerih payah orang lain. Sebaliknya, ketika sebuah kesalahan terjadi, para pencuri ide akan menghilang dan sulit ditemui untuk menghindari memberi penjelasan. Saat harus berkolaborasi dengan orang seperti ini, jangan ragu membenarkan bila ada persepsi salah mengenai siapa mengerjakan apa.

7. Si Penjilat
Tak segan memberi pujian berlebihan ke atasan dan mengabaikan orang-orang yang posisinya berada di bawah. Meski sulit dihadapi, jangan takut dengan si penjilat. Umumnya, atasan bisa merasakan pujian palsu orang-orang ini. Yang perlu Anda waspadai, jangan terlena dan percaya dengan semua pujiannya.

8. Si Tukang Sabotase
Kesenangannya mensabotase keberhasilan dan melemparkan semua kegagalan pada orang lain. Hati-hati saat bekerja dengan orang ini, yang suka membesar-besarkan kegagalan dan membuat orang lain tampak buruk di depan semuanya. Jangan takut bila ‘peluru’ taktik sabotasenya menuju Anda. Biasanya, mereka lebih senang bermain di belakang dan akan berbalik mundur ketika ditantang berkonfrontasi.

9. Si Ambisius
Orang ini sangat bergairah pada proyek dan cara baru mengerjakan sesuatu, serta akan gigih berusaha agar mendapat proyek tersebut. Ketika bekerja sama dengan si ambisius, waspadalah dengan agenda-agenda spektakuler yang akan dilakukannya demi mendapatkan yang diinginkan. Dan, jangan gentar mempertahankan ide serta gagasan Anda.

MAJALAH EKSEKUTIF - terbit sejak 1979 -

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Translate »
%d blogger menyukai ini: