Revolusi Kebudayaan Melalui Literasi Digital Dapat Membentuk Karakter Bangsa

  • Whatsapp


JAKARTA – Kesadaran terhadap literasi digital apabila kita mampu untuk mengakses informasi dari internet dan mengolahnya dengan tanggung jawab penuh. Aspek-aspek dalam berliterasi digital meliputi kegiatan (di sekolah, keluarga, dan masyarakat).

“Data menunjukkan 65 persen masayrakat Indonesia merupakan pengguna internet yang mengakses informasi tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu. Maka dari itu, kesadaran penting bagi kita selaku masyarakat millenial hari ini untuk memfilter dan mengakuntabilitas suatu data sebagai kontrol sebelum kita membagikan informasi yang kita dapat.” Hendra Wahid N, Direktur Padepokan Kirik Nguyuh/Film Maker Indie Majalengka, selaku pembicara dalam Webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, Senin (12/7/2021).

Kearifan lokal adalah kebudayaan yang merupakan cita, rasa, dan karsa di suatu daerah tertentu. Misalnya sebuah adat istiadat atau tradisi. Sedangkan, penerapan literasi digital berbasis kearifan lokal adalah koneksi antara penerapan aspek literasi digital, seperti menciptakan produk yang merefleksikan nilai suatu budaya. Penerapan literasi digital berbasis kearifan lokal sangat relevan bagi kehidupan untuk memperkenalkan budaya sekaligus melestarikannya.

Hendra Wahid menyampaikan juga mengenai pola pergerakan revolusi kebudayaan melalui literasi digital. Di antaranya meliputi mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pemerataan mutu pendidikan, membangun sistem regulasi yang berpihak pada pemajuan kebudayaan, membuat sistem informasi yang dapat diakses dengan mudah terkait pengetahuan dan dokumentasi produk kebudayaan, mengurangi kebiasaan konsumtif, dan mengkampanyekan untuk mau menggunakan dan mencintai produk lokal.

“Manfaat revolusi kebudayaan melalui media digital itu penting, karena dapat mencerdaskan kehidupan bangsa, membangun kesadaran generasi muda mengenai ketahanan sebuah budaya dalam membentuk karakter dan kedaulatan bangsa, dan meningkatkan daya cipta dan daya hidup generasi muda dalam mengembangkan potensi diri sebagai upaya pelestarian kebudayaan bangsa,” Ujar Hendra.

Hendra selaku Direktur Padepokan Kirik Nguyuh, menjelaskan caranya mengenalkan produk budaya lokal melalui dunia digital dengan menghasilkan festival kebudayaan, alat musik gamelan, dan alat musik tradisional lainnya. Strategi yang dilakukan dengan menggunakan sarana media sosial sebagai media promosi kebudayaan, melakukan kolaborasi dalam membuat karya, dan mendokumentasikan setiap kegiatan yang ada.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, Senin (12/7/2021) ini juga menghadirkan pembicara, Daniel Hermansyah (CEO Kopi Chuseyo), Kalis Mardiasih (Aktivis Gender Equality), Hendra Wahid N. (Direktur Padepokan Kirik Nguyuh/Film Maker Indie Majalengka), Mardiana R.L (Vice Principal in Kinderhouse Pre-School), dan Bianca Utaya.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *