Risiko Perempuan Alami Pelecehan Seksual Berbasis Online di Era Digital Masih Tinggi

  • Whatsapp


JAKARTA,- Organisasi Keadilan Gender di Amerika Serikat mencatat sebesar 77% perempuan mengalami pelecehan verbal dan sekitar 41% di antaranya terjadi di dunia maya. Di Indonesia, kasus kekerasan terhadap perempuan yang terjadi di dunia maya meningkat 300% di akhir tahun 2019.

Diketahui selama pandemi, jumlah Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) meningkat. Menurut catatan dari Komnas Perempuan bersama Lembaga Pengadalayanan, Kominfo, dan Bareskim Polri saat ini KBGO pun masih memiliki tantangan. Terlebih dengan terus meningkatnya pengguna internet, sementara literasi digital belum dimiliki masyarakat.

Diketahui KBGO yang paling banyak terjadi adalah online grooming di mana pelaku berusaha melakukan pendekatan untuk memperdayai. Kemudian ada malicious distribution yaitu ancaman distribusi foto atau video pribadi penghinaan yang dilakukan dengan bantuan teknologi, komputer dan atau internet, dengan penyebaran konten intim.

Ada fenomena lain di sosial media, di mana terdapat konten-konten yang hanya melihat perempuan sebagai objek dan melecehkan perempuan. Bukan hanya berasal dari foto unggahan di akun pribadi tapi juga publik. Lebih memperihatinkan lagi, para pemberi komentar melecehkan yang masuk kategori KBGO ini ada juga dari kalangan anak usia remaja.

“Di Instagram ada banyak akun-akun cantik yang berbasis kampus, ada UI Cantik, UGM Cantik, Undip Cantik mereka mengaku tidak nyolong foto tersebut tapi cewek-cewek ini yang kasih. Tapi yang tidak diketahui para perempuan ini setelah nyetor foto di akun tersebut mendapat ribuan komentar pelecehan seksual,” ujar Kalis Mardiasih, seorang Aktivis Gender Equality saat webinar Literasi Digital wilayah Jawa Barat, Kota Bekasi, Rabu (16/6/2021).

Menurut Kalis bukan hanya komentar yang mengarah pada KBGO, tapi bisa sampai DM. Hal yang merugikan lagi di akun tersebut adalah mereka ada juga yang menyebarkan identitas pribadi seperti nama lengkap, mahasiswa jurusan apa dan semester berapa. “Pernah ada laporan yang masuk, sampai ada yang ditemuin random people di depan kelasnya. Jadi bahaya banget, mengganggu dan akun seperti ini tidak hanya berbasis kampus. Ada juga yang berdasarkan kota, Bandung Cantik, Bekasi Cantik, dan berbasis profesi seperti dokter cantik, guru cantik,” ujar Kalis lagi.

Kalis hanya mengingatkan, mengenai risikonya kepada perempuan di tengah budaya masyarakat yang masih senang melecehkan perempuan. Selain itu masih ada banyak hal berbahaya di ranah online dengan anonimitas, fake account, hingga online grooming yang mengancam perempuan.

Terlebih KBGO yang paling banyak terjadi adalah online grooming di mana pelaku berusaha melakukan pendekatan untuk memperdayai. Kemudian ada malicious distribution yaitu ancaman distribusi foto atau video pribadi penghinaan yang dilakukan dengan bantuan teknologi, komputer dan atau internet, dengan penyebaran konten intim.

Webinar Literasi Digital di Jawa Barat I, Kota Depok merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika. Hadir pula nara sumber seperti Creative Concept Planet Design Indonesia Oleg Sancha Bachtiar, Penulis dan Aktivis Literasi Feby Indirani, dan Assistant Editor Kompas.com Firzie A. Idris. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya digital skills, digital ethics, digital safety dan digital culture untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

 23 kali dilihat,  23 kali dilihat hari ini

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *