BERBISNIS

Sisi Humanis Ari Askhara,  setelah “Dipaksa” Tersingkir Dari Garuda – Versi Pengamat Politik sekaligus Aktivis 98, Irwan Suhanto

192Views
MAJALAH EKSEKUTIF - terbit sejak 1979 -

 

Beberapa waktu terakhir marak dan viral pemberitaan terkait Mantan Dirut Garuda, Ari Askhara. Namun, sebagian besar adalah berita yang mendiskreditkan dan tidak berimbang. Untuk itu, masyarakat harus bijak dalam menyikapi setiap isu yang berembus dan bisa melihat dari kacamata yang lebih jernih.

Seorang Pengamat Politik sekaligus Aktivis 98, Irwan Suhanto menilai bahwa informasi yang tidak berimbang tersebut akan berdampak negatif bagi masyarakat yang menelan informasi secara mentah – mentah.

Padahal, menurut Irwan Suhanto, ada banyak sisi lain dari Ari Askhara yang tidak tidak ketahui oleh masyarakat. Irwan mencontohkan, Ari pernah membuat kebijakan yang sangat baik saat memimpin PT Pelabuhan Indonesia III (Persero).

Ari Askhara, sambung Irwan, selalu membuat kebijakan, yang berorientasi pada profit perusahaan, namun tetap memperhatikan kesejahteraan dan kenyamanan karyawannya.

“Misalnya, Pak Ari Askhara pernah menambah cuti hamil bagi karyawan perempuannya dari 3 bulan menjadi lima bulan. Dia juga membuat kebijakan jam kerja yang lebih humanis. Tidak lupa juga dia membuat peraturan berpakaian yang lebih sopan dan adanya remunerisasi karyawan. Ini adalah kebijakan yang baik bagi karyawan,” tutur Irwan.

Berbekal pengalamannya selama memimpin beberapa instusi keuangan  dan perbankan yang identik dengan kerja teratur, efektif dan efisien, Ari Askhara, mencoba menerapkanya ke PT Pelindo.

“Selain itu, agar kerja efektif dan efisien, Pak Ari Askhara, menerapkan struktur yang dia bawa dari perbankan diterapkan di pelabuhan dengan merampingkan struktur organisasi struktural di lingkungan Pelindo III secara besar-besaran. Sekali lagi, kebijak ini beliau ambil agar Pelindo profit dan menghilangkan birokrasi yang rumit. Beliau juga berambisi memodernisasikan perusahaan yang dia pimpin,” ucap Irwan.

Sebelum menjadi Direksi BUMN, Ari adalah seorang profesional di beberapa institusi keuangan/perbankan di Singapura. Lalu dia diminta pulang ke Indonesia, jadi Direktur Keuangan Pelindo III, merangkap Komisarisku di Jasamarga Bali Tol (JBT). Di sini dia benahi kinerja keuangan Pelindo III. Rangkap jabatan sebagai Komisaris itu yang seharusnya memberinya pendapatan ganda, tapi Ari menolaknya. Dia hanya mau menerima pendapatan dari satu sumber dalam jabatannya, sebagai Direktur Keuangan di Pelindo III. Sedangkan honorarium komisaris JBT diminta disetor ke kas Pelindo III.

Sukses restrukturisasi keuangan Pelindo III, Ari diangkat menjadi Direktur Keuangan Garuda Indonesia, dia lakukan refinancing utang Garuda, sukses. Lalu diangkat jadi Direktur SDM (Human Capital) di Wijaya Karya, nggak sampai setahun, dia diangkat lagi jadi Direktur Utama Pelindo III (balik lagi ke rumah lama).

Sebagai Dirut, dia lakukan efisiensi besar-besaran, sampai keuntungan Pelindo III yang biasanya ratusan milyar naik mendekati 2 trilyun. Dia benahi semua, termasuk SDM yang tidak kompeten dia mutasi atau ganti.

Dia terapkan GCG (Good Corporate Governance) secara efektif dan terarah ke produktifitas kerja di setiap lini perusahaan, sampai cucu perusahaan. Yang tidak siap, tidak akuntabel dia libas.

Sukses di Pelindo III, dia diminta membenahi Garuda yang terus merugi. Di sini dia lebih garang lagi. Banyak pengeluaran yang nggak perlu dipangkas, efisiensi, perbaikan kinerja sampai hal terkecil termasuk catering.

Setiap sen dia selamatkan demi perbaikan kinerja keuangan Garuda. Barangkali banyak pejabat Garuda gerah karena kenyamanannya terganggu, ladang basahnya mengering, sehingga banyak yang tidak suka dengan Ari. Tapi hasilnya, kinerja keuangan Garuda membaik, jauh lebih baik dari sebelumnya. Tapi banyak pejabat tidak suka.

Unsur Politik Singkirkan Ari Askhara

Sikap dan mental pekerja keras dan tegas, namun tetap mengedepankan sisi humanis tersebut  terus dia bawa hingga mempin maskapai penerbangan pelat merah, Garuda Indonesia.

“Sayangnya, belum sempat bekerja secara maksimal untuk membawa Garuda Indonesia menjadi perusahaan yang profit dan berskala internasional, Ari Askhara sudah diterpa “SERBUAN POLITIK” yang sangat masif dan terstruktur demi menjatuhkannya dan menyingkirkanya. Saya melihat unsur politiknya sangat dominan dibanding masalah kinerja dalam kasus Ari Askhara ini,” ucap Irwan

Irwan menilai, jika dilihat dari sisi kinerja, Ari Askhara sangat tidak mungkin bisa disingkirkan, sehingga para seterunya dan orang – orang yang berkepentingan dalam aksi yang sangat terstruktur ini memilih jalan “menghabisi” Ari Askhara dengan cara menyerang dari sisi personal / pribadi, misalnya masalah hobi motor gede (moge), isu perselingkuhan, da memakai orang – orang dalam Garudah Indonesia untuk membicarakan hal – hal negatif tentang Ari Askhara.

 

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Translate »