Majalah Eksekutif

Sisi Lain Konglomerat

Oleh: S.S Budi Rahardjo (CEO, Majalah Eksekutif - Ketua Forum Pimpinan Media Digital Indonesia)

416Views
S.S Budi Rahardjo alias Jojo Keren

Eksekutif.id — Pada suatu kesempatan, Majalah EKSEKUTIF bertanya pada seorang eksekutif top kelompok Liem Sioe Liong yang punya hubungan dekat dengan sang taipan: seperti apa kehidupan orang terkaya di Indonesia itu?

He is just simple guy. Pakai jam Seiko biasa, ke mana-mana pake penerbangan komersial. Kalau ia berbelanja, beberapa pun kembalianya tetap dihitung dan disimpan baik-baik. Biasa saja,“ ujar sang eksekutif top.

Benarkah demikian?

Bagi orang biasa, kehidupan para jutawan dan miliarder adalah sesuatu yang sulit dibayangkan. Dari obrolan dengan banyak orang kaya, sesungguhnya ia merasa, ada yang mengakui dengan uang dapat mengatasi berbagai hubungan antar manusia.

Sudah menjadi kehidupan sehari-harinya adalah demikian. Bukan sebagai simbol status, bahwa naik pesawat kelas satu, tinggal di hotel bintang lima, dan naik mobil mewah.

Dari bincang-bincang orang kaya. Yang ini, benar-benar orang kaya nih. Terbersit di hatinya seperti ini: Ada kekosongan batin di ara orang-orang kaya itu. Mereka sering mencurahkan hati karena bingung.

Jika ada yang mendekati mereka, pertanyaan dan kecurigaan muncul, “Ingin berteman, itu karena pribadi  atau karena uang ya?”.

Memiliki banyak uang, bisa pula diibaratkan dengan perempuan yang cantik menggiurkan tapi bingung pada isi hati kekasihnya: “Si doi sebenarnya cinta tubuh atau hati saya?”

Sesungguhnya, banyak persoalan orang kaya bersumber pada situasi masyarakat yang memandang mereka sebagai manusia yang berbeda dan istimewa. Karena itu, bisa dimengerti jika si kaya sering bertindak amat kasar, pedas, bahwa kejam terhadap bawahannya yang bersalah.

Begitu bawahan salah, reaksinya antara lain, “Nah ketahuan sekarang! Kamu hanya mengincar uang.” Ada semacam rasa puas bila jebakannya berhasil menangkap mangsa (yang sebetulnya tidak ada).

Bila sempat mengamati sinetron kita di televisi, kurang lebih Anda akan sering mendengar kata-kata seperti, “Kamu jangan bikin malu Papa. Mau ditaruh dimana muka Papa kalau bertemu relasi-relasi Papa? Kamu tahu, kan, mereka semua orang penting?”

Ini kira-kira keluhan seorang ayah konglomerat kepada anaknya yang bertekad menikah dengan gadis dari kalangan biasa.

Kesulitan psikologis yang dialami anak-anak orang kaya dalam hal menjadi manusia, pada prinsipnya, sama dengan yang dialami anak-anak lain, yakni berpusat pada mencari kehidupan yang sejahtera, secara rohani dan jasmani.

Yang jadi soal, orang tua yang kaya harus lebih banyak sadar bahwa uang bisa jadi persoalan jika tak diurus dengan benar, bagi anak keturunannya.

Ada beberapa saran yang diberikan para ahli kepada orang tua yang kaya.

Pertama, berbicara terbuka manakala anak-anak menanyakan segala sesuatu yang behubungan dengan sumber-sumber pendapatan orang tua.

Jujurlah juga bila ada nasib baik yang menyertai Anda dalam perjalanan bisnis. Misalnya, Anda sebetulnya kaya karena bantuan pejabat tertentu bukan semata-mata karena hebat sebagai pengusaha. Pendek kata, jangan membuat uang menjadi hal tabu dibicarakan.

Kedua, jangan pernah memanfaatkan uang sebagai kontrol terhadap anak. Misalnya, “Belajar yang rajin. Kalau bisa masuk sepuluh besar, kamu akan mendapatkan hadiah motor.

Atau begini,”Kalau kamu berjanji tidak tidak akan main kebut-kebutan, akan Papa belikan mobil diakhir semester.

“Ada orang tua yang lebih nekat: “Anaknya Om Tony itu kurang apa? Cantik, pintar, lulusan Eropa lagi. Kalau kamu melepas pacar yang sekarang dan kawin sama anaknya Om Bony, Papa hadiahi kamu rumah BSD dan bulan madu di Swiss.”

Semua contoh diatas memperlihatkan bagaimana orang tua menggunakan kekayaannya untuk mengatur perilaku anak-anaknya. Orang tua yang gemar berperilaku seperti itu akan membuat anak-anak tidak percaya diri. Mereka akan merasa tidak diterima apa adanya.

Ketiga, belajar dari pengalaman. Tantangan kegagalan, kemunduran adalah bagi dari kehidupan utuh. Namun, banyak orang kaya yang terdorong melindungi anak-anaknya dalam cara berlebihan.

Jangan terlalu menjauhkan anak dari deraan pengalaman hidup. Sebab, dengan cara itu, si anak akan menjadi manusia yang mudah menyerah dalam menghadapi masalah.

Anak-anak raja timur Tengah yang belajar di Amerika atau Eropa, misalnya. Bila mobil mereka mogok di tengah jalan, mobil itu dibiarkan saja atau dijual, lalu mereka membeli yang baru. Padahal, kepuasan hati jika bisa membetulkan sendiri mobil mogok adalah situasi emosional yang sulit ditukar dengan apapun.

Jadi, jalan terbaik mengajari anak-anak menghadapi kekayaan adalah mengungkapkannya secara terus terang. Banyak ahli waris kekayaan sebetulnya memahami bahwa ada kesulitan besar yang dihadapi orang kaya memiliki segalanya bahwa mereka tidak pernah mengalami pahit getir kerja yang menghasilkan semua kekayaan itu.

Banyak anak orang kaya, yang tidak diajari mengatasi persoalan ataupun mengelola urusan sendiri. Mereka terisolasi dalam kemewahan, sementara orangtuanya terus menuntut agar mereka menjadi yang “ter”.

“Kamu harus belajar lebih keras agar masuk UI atau UGM. Kalau perlu, masuk Stanford atau Harvard. Semuanya akan papa-mama siapkan. Yang penting, kamu belajar keras ingat, kamu ini kebangaan keluarga,” Atau, “ingat-ingat, ya, Nak, cari teman, cari pacar harus dari keluarga yang sepadan dengan kita.

Kalimat-kalimat itu, barangkali, terdengar klise, tapi sebetulnya amat sering kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Bukankah begitu?

MAJALAH EKSEKUTIF - terbit sejak 1979 -

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Translate »
%d blogger menyukai ini: