Sosial Media Rawan Pelecehan Gender Berbasis Online

  • Whatsapp


JAKARTA,– Selama pandemi, jumlah Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) meningkat. Menurut catatan dari Komnas Perempuan bersama Lembaga Pengadalayanan, Kominfo, dan Bareskim Polri saat ini KBGO pun masih memiliki tantangan. Organisasi Keadilan Gender di Amerika Serikat mencatat sebesar 77% perempuan masih mengalami pelecehan verbal dan sekitar 41% di antaranya terjadi di dunia maya.

Internet dapat dimaksimalkan dampak positifnya dengan syarat bisa menjadi ruang yang nyaman dan aman bagi semua orang. Namun pada kenyataannya tak semua yang ada di internet merupakan hal baik, di balik itu ada ancaman pelecehan seksual, perundungan, hingga akhirnya menjadi ancaman kejahatan.

“Untuk perempuan dan anak perempuan internet ini memang bisa jadi ancaman yang lebih besar karena kekerasan berbasis gender online,” kata Kalis Mardiasih, Aktivis Gender Equality saat webinar Literasi Digital wilayah Kota Depok, Jawa Barat I, Rabu (7/7/2021).

Kekerasan gender online merupakan kekerasan yang dilakukan oleh gender yang lebih kuat ke gender yang lebih lemah untuk membuat korbannya merasa takut, terancam, terintimidasi, tak berdaya. Kekerasan ini biasanya difasilitasi oleh teknologi, seperti SMS, layanan pesan instan, media sosial, games forum, hingga dating apps.

Di sosial media menurut Kalis ada begitu banyak perilaku kekerasan gender berbasis online yang tak disadari, bahkan cenderung dianggap lucu. Kebanyakan mereka mengonentari fisik perempuan di akun-akun Instagram selebritis. Bahayanya lagi di dunia siber juga ada penguntitan yakni memata-matau secara berulang-ulang yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok orang dengan maksud melecehkan.

“Ada juga namanya non consensual intimate image, tindakan mendistribusikan gambar-gambar atau video yang mengeksploitasi seseorang secara seksual di internet tanpa persetujuan orang tersebut,” ujarnya lagi.

Lebih jauh Kalis juga mengatakan, bahkan di media massa sendiri masih banyak jurnalisme yang tidak ramah terhadap perempuan. Seperti pemberitaan soal perempuan yang harus memakai embel-embel cantik, padahal perempuan seharusnya dilihat dan dikomentari bukan hanya dari fisiknya. Bahkan setelah menjadi mayat pun tetap ada kata perempuan cantik di dalam judul tulisan untuk membuatnya menjadi viral.

Webinar Literasi Digital untuk wilayah Kota Depok, Jawa Barat I merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Siberkreasi. Di webinar kali ini hadir pula nara sumber lainnya yaitu Klemes Rahardja Founder The Enterpreneur Society, Reza Hidayat CEO Oreima Films, dan Taufik Hidayat Kepala UPT IT & Dosen Fakultas Teknik Universitas Islam Syekh Yusuf.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya digital skills, digital ethics, digital safety dan digital culture untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

 36 kali dilihat,  36 kali dilihat hari ini

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *