Majalah Eksekutif

Spanduk Ucapan Selamat Capres & Wapres Dipantau Satpol PP

Views

“Kami bukan musuh masyarakat, tapi menyeimbangkan pelbagai kepentingan yang ada di masyarakat di kawasan publik atau umum.”

Dr. Arief M Edie, MSi (Direktur Satpol PP dan Linmas Kemendagri)

EKSEKUTIF.id –“Ini soal momen dan konten saja,” ujar Direktur Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Arief Mulya Edie, tanpa menyinggung penurunan Baliho di Kompleks Limus, Pratama Regency.

Intinya, Satpol PP bukan musuh masyarakat. “Kami hanya menyeimbangkan semua kepentingan di masyarakat, supaya sama-sama nyaman,” Arief pun mengutip kesadaran dan kepentingan masyarakat adalah yang utama.

“Ucapan selamat, selama di tempat yang ditentukan, tidak membahayakan atau mengganggu ketertiban umum atau pengendara jalan. Silahkan saja,” ujar Arief tentang baliho berukuran besar dipasang di kompleks perumahan Limus Pratama di Cileungsi.

“Hanya saja,  kalau belum saatnya memberi ucapan. Jangan melanggar aturan KPU dan Bawaslu, dong,” komandan yang juga dari 1,6 juta petugas Satuan Perlindungan Masyarakat (Linmas) ini, memaparkan.

Sempat terjadi, memang, alih-alih ingin mencabut baliho tersebut, anggota Satpol PP sempat mendapatkan perlawanan, ketika hendak menurunkan baliho berukuran 12 x 6 meter itu.

Baliho raksasa, berisi ucapan terima kasih atas nama pasangan Calon Presiden-Calon Wakil Presiden nomor urut 02. Klik — Satpol PP Dalam Persepsi Baru

“Ucapan selamat itu, sebaiknya setelah KPU mengumumkan presiden-wapres terpilih periode 2019-2024 pada 22 Mei 2019,” tutur Arief, yang berujar instansinya mendapat beban tugas dari KPU dan Bawaslu, yakni membersihkan alat-alat peraga kampanye dan sejenisnya, di lokasi umum.

Setelah pemilu usai, kemudian giliran ucapan kepada pasangan capres dan cawapres.

“Kita mau tunjukan bahwa NKRI adalah negara hukum, yang berdasarkan Pancasila, setiap permasalahannya, tidak dengan demo solusinya,” ujar Arief mengutip peran Satpol dan Linmas yang keberadaannya atas amanah UU tahun 2014.  Ditegaskan dalam pasal 12, juga 255-256.

“Kami bukan musuh masyarakat, tapi menyeimbangkan pelbagai kepentingan yang ada di masyarakat di kawasan publik atau umum,” Arief menjelaskan bahwa petugas Linmas juga kerap membantu hal-hal yang humanis, termasuk jika ada bencana alam, semacam Tsunami, banjir atau gempa.

Linmas  dalam konteks Pemilu 2019 ini, menjaga setiap Tempat Pemungutan Suara (TPS) di seluruh Indonesia. Bertugas menjaga kondusifitas TPS, termasuk juga mengawal distribusi kotak dan surat suara.

KPU dan Bawaslu menggandeng 1,6 juta Linmas untuk menjaga kondusifitas 809.500 TPS yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

Petugas Linmas menjaga TPS, membantu Kelompok Panitia Pemungutan Suara (KPPS).

“Melayani masyarakat yang memilih. Misalnya ada pemilih yang sakit, tidak didampingi oleh keluarga, maka akan dibantu oleh Linmas. Kemudian, dibimbing menggunakan kursi roda dan lain-lain,” jelas alumnus IIP yang kini menduduki jabatan strategis ini.

Anggota Linmas membantu TNI dan Polri dalam distribusi kotak dan surat suara, menjaga kondusifitas lokasi TPS, dan memfasilitasi masyarakat apabila mengalami permasalahan selama di TPS. Misalnya, pertolongan kesehatan dan antrean pemilih.

“Linmas selalu menjunjung asas profesionalitas dan netralitas. Bagian dari masyarakat yang diberikan tugas untuk menjaga kondusifitas di TPS,” ujar Arief yang mengaku sempat repot dengan periode pembersihan alat peraga kampanye.

Membongkar bukan hanya sekedar berhadapan dengan orang yang memasang tapi, caranya menurunkan alat peraga kampanye itu jika ditaruh di atas tower, yang demikian tinggi.

“Menjadi risiko tugas kami, dalam menjaga dan peningkatan ketertiban umum perlindungan masyarakat,” ujar Arief, Direktur Satpol PP dan Linmas Kemendagri.

Satpol PP dalam menjaga kenyamanan warga, sedang membentuk persepsi baru, tidak identik dengan usir-usir ngejar-ngejar PKL. Pelanggar atau pedagang kaki lima, tidak harus dengan satu truk dibongkar, tapi bisa diberi peringatan semacam surat tilang.

“Kami juga bukan pasukan untuk menghadapi demo. Karena, itu tugas Polri,” pria yang rajin olahraga sepeda dan lari ini memaparkan.

Menjadi ujung tombak pelayanan kepada masyarakat, Satpol PP memprioritaskan pelaksanaan urusan yang diharapkan dapat memaksimalkan pelayanan yang menjadi hak masyarakat selaku warga negara. “Satpol PP sekarang berupaya menertibkan dengan lebih humanis,” Arief menegaskan.

baca juga: majalah eksekutif cetak terbaru — klik ini

Saat Satpol PP juga berada di garis depan, dalam membantu korban bencana Tsunami.

Tinggalkan Balasan

Translate »
Lewat ke baris perkakas