Technology

Studi Zebra Technologies: Jumlah Perusahaan Enterprise di Asia Pasifik yang Benar-Benar “Cerdas” Meningkat Sepuluh Kali Lipat Sejak Tahun 2017

507Views

 Zebra Technologies baru saja mengumumkan hasil survei tahunan kedua bertajuk “Intelligent Enterprise Index”. Index merupakan sebuah survei global yang mengukur keberadaaan perusahaan dalam perjalanan untuk menjadi “perusahaan cerdas”, yaitu perusahaan yang menghubungkan dunia fisik dan digital guna mendorong inovasi melalui panduan real-time, lingkungan yang diberdayakan oleh data, dan alur kerja mobile yang kolaboratif.

Hasil survey yang di rilis Senin, 5 November  2018 tersebut mengungkapkan fakta-fakta tentang perusahaan – perusahaan yang smart di Asia Pasifik. Survei tahunan kedua ini mengungkapkan peningkatan dalam investasi IoT, aktivitas berbagi data secara real-time, dan pemberdayaan lini depan.

Survey yang dilakukan secara online tersebut  diikuti oleh sebanyak 918 pembuat keputusan TI dari sembilan negara diwawancarai, yang meliputi AS, Inggris/Britania Raya, Perancis, Jerman, Meksiko, Brasil, China, India, dan Jepang.

“Seiring teknologi-teknologi baru terus mentransformasi lini depan bisnis, sinyal-sinyal yang dihasilkan oleh data real-time di lini depan operasi perusahaan memberdayakan para pekerja garis depan dengan informasi yang tepat untuk mengoptimalkan tindakan dan hasil,” kata Tom Bianculli, Chief Technology Officer, Zebra Technologies., dalam keterangan tertulisnya, Senin (05/11/2018).

Dengan mencetak lebih dari 75 poin pada keseluruhan Index, jumlah perusahaan yang didefinisikan sebagai “perusahaan cerdas” meningkat dua kali lipat menjadi 10% di tahun 2018. Di Asia Pasifik, terjadi lonjakan jumlah perusahaan yang dinilai benar-benar “cerdas”, yang naik 20 poin menjadi 22% tahun ini.

Rata-rata skor Asia Pasifik meningkat dari 49 poin pada tahun 2017 menjadi 63 poin pada tahun 2018, yang menekankan adopsi cepat solusi Internet of Things (IoT) di wilayah tersebut. Index tersebut mengukur sejauh mana perusahaan saat ini memenuhi kriteria yang menggambarkan Intelligent Enterprise (Perusahaan Cerdas) masa kini.

Secara keseluruhan, survei Index menunjukkan pertumbuhan penerapan dan investasi Internet of Things (IoT) setiap tahunnya, dan menyoroti suatu momentum baru, di mana perusahaan-perusahaan enterprise memperkirakan adanya lebih sedikit penolakan terhadap pengadopsian IoT dan semakin mengakui solusi IoT sebagai komponen inti untuk mendorong pertumbuhan di masa mendatang di seluruh perusahaan mereka.

“Berdasarkan survei Index tahun kedua kami, jelas bahwa lebih banyak perusahaan mengakui nilai dari pemanfaatan strategi IoT, dan mereka akan terus mendorong adopsi dan investasi IoT di masa depan,”  ujar Tom menjelaskan.

Beberapa temuan penting dalam survey  yang dilakukan secara online yang dilakukan pada 6 Agustus — 14 September 2018 terhadap berbagai segmen, termasuk layanan kesehatan, manufaktur, ritel, serta transportasi dan logistik  tersebut diantaranya : .

  • Investasi IoT meningkat, dan penolakan terhadap adopsi menurun. Survei Index mengungkapkan bahwa bagi perusahaan-perusahaan yang disurvei, pengeluaran tahunan rata-rata mereka di bidang IoT naik 4% dari tahun ke tahun, dan naik menjadi 12% di Asia Pasifik. Sebanyak 86% dari perusahaan yang disurvei memperkirakan angka tersebut akan meningkat dalam 1-2 tahun ke depan, di mana hampir separuh mengantisipasi pertumbuhan investasi sebesar 11-20%. Karena karyawan menjadi lebih mudah menerima teknologi baru, jumlah perusahaan yang memperkirakan penolakan terhadap rencana IoT mereka di kemudian hari turun dari 75% pada tahun 2017 menjadi 64% di tahun ini.
  • Perusahaan enterprise mendorong keunggulan kinerja dengan panduan real-time. Sebanyak 52% responden secara global mengatakan bahwa informasi dari solusi IoT mereka dibagikan kepada karyawan secara real-time atau mendekati real-time. Angka ini naik 37% dari Index tahun lalu, yang menggarisbawahi peningkatan kebutuhan akan alur kerja mobile yang kolaboratif.

Perusahaan Asia Pasifik lebih maju di area ini, di mana 58% perusahaan berbagi data dengan karyawan dalam frekuensi tersebut. Selain itu, dua pertiga dari perusahaan yang disurvei telah membuat rencana tentang cara mengatur dan menganalisis data mereka. Angka ini meningkat 10% dari tahun lalu. Analisis real-time (66%) dan keamanan (63%) dilaporkan sebagai elemen paling umum dari rencana pengelolaan data perusahaan.

  • Memberdayakan lini depan. Secara khusus, perusahaan-perusahaan tengah memberdayakan lini depan mereka dengan data yang dapat ditindaklanjuti karena 32% dari responden mengatakan bahwa mereka menyajikan wawasan kepada para pekerja lini depan. Hal ini mencerminkan kebutuhan akan inovasi, teknologi dan data real-time di perusahaan-perusahaan enterprise. Di Asia Pasifik, angka ini mencapai 41%, yang naik 7 poin dari survei Index tahun lalu.
  • Keamanan adalah prioritas utama di seluruh perusahaan. Perusahaan-perusahaan kini mengambil pendekatan yang lebih proaktif dan menyeluruh dalam menerapkan standar keamanan bagi solusi-solusi IoT mereka. Survei Index menunjukkan peningkatan sebesar 18% dalam jumlah perusahaan yang secara konstan, dan bukan hanya secara rutin, memantau keamanan IoT mereka untuk memastikan privasi dan integritas. Di Asia Pasifik, peningkatannya adalah sebesar 20 poin dibandingkan tahun lalu.
  • Perusahaan menunjukkan ketergantungan yang lebih besar pada ekosistem solusi. Sebanyak 40% dari perusahaan yang disurvei menyatakan bahwa mereka menggunakan mitra strategis untuk mengelola seluruh solusi IoT mereka, yang meningkat dari hanya 7% pada tahun 2017. Angka ini lebih tinggi di Asia Pasifik, yaitu sebesar 54%.

Ketergantungan pada keahlian dan manajemen proses IoT pihak ketiga, yang serupa dengan platform Savanna® dari Zebra yang memberdayakan para pelanggan dan mitra, merupakan indikator kunci bahwa suatu perusahaan berkomitmen untuk mempercepat kecerdasan data dan mengadopsi IoT

Tinggalkan Balasan

Translate »