Sunat Bagi Pria Dewasa  –  Kesehatan Menjadi Pertimabangan Utama  

  • Whatsapp
banner 468x60


 

Sunnat bagi kaum muslim menjadi suatu kewajiban yang harus dilakukan. Sehingga bagi kebanyakan orang pelaksaan sunat sudah dilakukan  sejak kecil sebelum baligh.

Bagaimana dengan penganut agama lain ? Dengan berbagai pertimbangan kesehatan hal itu akhirnya banyak dilakukan pada saat sudah dewasa.

Pembahasan tersebut terungkap dalam webinar yang mengususng tema “ Menelisik Kontroversi Sunat Bagi Pria Dewasa “  yang dilakukan pada Kamis ( 08/04/2021 ) dengan menghadirkan nara sumber Prof. Andi Asadul Islam, Ketua PP Ikatan Ahli Bedah Indonesia (IKABI)  dan dr Boyke Dian Nugraha SpOG MARS.

Dalam pembahasan webinar tersebut terungkap bahwa faktor kesehatan menjadi faktor pertimbangan utama dalam melakukan sunat dewasa. Hal itu dikuatkan oleh bebera pendapat dari para nara sumber tersebut.

Pada kesempatan itu, Prof. Andi menjelaskan bahwa awalnya sunat atau khitan dilakukan dengan cara konvensional. Didahului anestesi, terus dipotong sedikit dari atas bagian kanan terlebih dahulu, melingkar ke kanan, lalu melingkar ke kiri, dan baru dijahit.

“Dengan pemotongan tersebut,  banyak risiko yang bisa dihadapi saat khitan, seperti perdarahan dan infeksi yang cukup tinggi karena adanya luka terbuka,” ujar  Prof. Andi, saat webinar tersebut, Kamis ( 08/04/2021 ).

Namun, saat ini, pasien dapat memilih sejumlah metode khitan. Mulai dari metode konvensional, menggunakan laser, atau memanfaatkan metode klamp, di mana prosedur dilakukan tanpa jahitan dan menggunakan semacam alat penjepit.

Sementara itu, dr. Boyke menjelaskan sejumlah dampak positif dari khitan, khususnya khitan bagi orang dewasa. Di antaranya adalah mengurangi risiko tertular penyakit menular untuk pasangannya.

“Banyak sekali permintaan sunat untuk orang dewasa muncul dari pihak perempuan. Sebab, sunat atau sirkumsisi selain dari aspek agama dan budaya, juga ada aspek kebersihan dan kesehatan,” ujar dr Boyke.

Boyke mengatakan, banyak sekali permintaan sunat untuk orang dewasa muncul dari pihak perempuan. Dia menegaskan sunat atau sirkumsisi selain dari aspek agama dan budaya, juga ada aspek kebersihan dan kesehatan.

Seperti diketahui virus HPV atau Human Papillomavirus memicu terjadinya penyakit menular seksual (PMS). Virus ini dalam kondisi tertentu bisa memicu kanker. Selain itu Boyke mengatakan pada pria yang tidak disunat, berpotensi terdapat kotoran, bakteri, atau virus lainnya di sekitar kepala penisnya.

Sebab dalam kondisi normal kepala penis pria yang tidak disunat tertutup kulup atau kulit. Butuh perawatan khusus, seperti pembersihan secara berkala bagi pria yang tidak disunat. Dia juga mengatakan ada sejumlah pasangan perempuan yang khawatir jika pasangannya tidak disunat terdapat bakteri Ecoli atau sejenisnya.

Genky lajang asal Jepang salah satu pelaku sunat dewasa, yang turut hadir pada webinar  menyatakan; “Meski dalam budaya Jepang tidak dikenal sunat, saya lakukan sunat demi kesehatan dan masa depan serta memilih melakukan sunat di Indonesia,” jelasnya.

Begitu pula dengan permintaan sunat bagi sang suami yang disampaikan oleh bintang tamu misterius kita sebut Mawar, sebelumnya pernah menikah dengan pria yang telah disunat. Sedangkan saat ini suaminya belum disunat.

“Saya merasakan ada perbedaan antara suami yang telah disunat dan belum disunat, agak kerepotan untuk kebersihan dan merasa kurang nyaman saat berhubungan. Jadi kami memutuskan suami juga harus disunat agar pernikahan kami bahagia,” ungkap Mawar memberikan testimoni.

 

 



Post Views:
2

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *