Connect with us
script data-ad-client="ca-pub-4777880934442148" async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js">

IT

Tingkatkan Akselerasi Pengembangan Aplikasi – Cloudera Hadirkan CDP Operational Database

Published

on


 

Saat ini Semakin banyak perusahaan yang bekerja dengan lebih dari satu provider layanan cloud. Sebuah survey dari Gartner yang dilakukan pada pengguna public cloud mengungkapkan bahwa 81% responden menggunakan dua atau lebih provider untuk mencegah agar tidak terikat pada satu vendor (vendor lock-in).

Selain itu, IDC memprediksi bahwa tahun 2021 akan menjadi tahun multi-cloud di mana lebih dari 90% perusahaan di seluruh dunia saat ini akan menggunakan kombinasi private cloud di on-premise atau dedicated, lebih dari satu public cloud, dan platform lama (legacy) untuk memenuhi kebutuhan infrastruktur mereka.

Menyikapi hal itu Cloudera, perusahaan enterprise data cloud, kini telah mengumumkan ketersediaan Cloudera Data Platform (CDP) Operational Database pada Amazon Web Services (AWS) dan Microsoft Azure. CDP Operational Database adalah database operasional cloud-native dan fully managed, dengan skalabilitas, performa, dan keandalan yang tiada banding. CDP Operational Database ini sudah dioptimalkan dan bisa digunakan di platform cloud apa saja.

CDP Operational Database ini akan sejalan dengan strategi infrastruktur cloud yang paling sesuai bagi bisnis. Cloudera Data Platform Operational Database membuat pengembangan aplikasi-aplikasi yang sangat penting menjadi lebih cepat di cloud.

CDP Operational Database dapat bekerja di seluruh lingkungan public dan private cloud, termasuk di lingkungan on-premise. Database ini memungkinkan perancang aplikasi menghasilkan prototipe dalam waktu kurang dari satu jam di cloud pilihan mereka, dengan kekuatan melakukan skala hingga ke petabyte data. Pengembang aplikasi dapat menciptaan aplikasi yang sangat penting dengan cepat sebab CDP Operational Database melakukan auto-scalesauto-heals dan auto-tunes berdasarkan kebutuhan-kebutuhan workload.

“CDP Operational Database memungkinkan kami memindahkan salah satu dataset utama kami ke database baru di AWS dalam waktu yang sangat cepat,” kata Briglal Kattamaparambil, Director of Development di Epsilon, dalam keterangan tertulisnya, Selasa ( 09/03/2021 ).

“Kami tak perlu lagi mengkhawatirkan soal perencanaan infrastruktur sebab ia sudah self-managed sepenuhnya dan kami memiliki fleksibilitas dalam memilih platform cloud yang sangat cocok untuk bisnis kami,” ujarnya.

Sementara itu, Arun Murthy, Chief Product Officer di Cloudera, mengungkapkan bahwa  Multi-cloud adalah masa depan dan adanya kebutuhan global untuk menjalankan bisnis secara remote telah mengakselerasi perubahan ini.

“Dengan CDP Operational Database, perusahaan-perusahaan tak perlu lagi melakukan pengorbanan terkait database. Perusahaan dapat menjalankannya di infrastruktur cloud apapun sehingga dapat memenuhi permintaan konsumen yang begitu cepat, dengan tetap mempertahankan fleksibilitas,” jelas  , Arun Murthy.

 

 

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IT

Pertama di Indonesia , Indosat Ooredoo Uji Coba Lapangan OpenRAN di Jaringan 4G Berkualitas Video

Published

on

By


 

Indosat Ooredoo menjadi operator seluler pertama di Indonesia yang menjalankan uji coba lapangan OpenRAN (Radio Access Network) yang mencakup pembuktian konsep (proof of concept) dan pengujian fungsional. Uji coba lapangan ini dilakukan di beberapa lokasi di wilayah Maluku sejak Maret sampai akhir April, sebagai bagian dari upaya agresif Indosat Ooredoo dalam meningkatkan dan memperluas jaringan 4G berkualitas video (video grade network) untuk memberikan layanan internet yang semakin baik kepada pelanggannya. Uji coba tersebut didukung oleh Grup Proyek OpenRAN Telecom Infra Project (TIP) dan Parallel Wireless.

OpenRAN merupakan teknologi yang mendukung antarmuka RAN untuk dapat dioperasikan secara terbuka sehingga memungkinkan konektivitas antar perangkat keras dan lunak dari vendor telekomunikasi yang berbeda. Kemampuan disaggregation dalam OpenRAN diharapkan bisa semakin menekan biaya penyediaan jaringan, sehingga dapat menjadi solusi bagi operator seluler dan pemerintah untuk mempercepat perluasan jaringan 4G ke wilayah pedalaman Indonesia termasuk daerah 3T (Tertinggal, Terdepan dan Terluar).

Chief Technology and Information Officer Indosat Ooredoo, Medhat Elhusseiny, mengatakan, “Kami sangat bangga menjadi operator seluler pertama di Indonesia yang melakukan uji coba lapangan OpenRAN. “

“Keberhasilan uji coba lapangan di beberapa lokasi di wilayah Maluku ini semakin memperkokoh posisi Indosat Ooredoo sebagai pelopor penerapan inovasi teknologi terbaru untuk membangun infrastruktur telekomunikasi dengan lebih cepat sekaligus efisien. Kami percaya fleksibilitas yang ditawarkan OpenRAN khususnya dalam penggelaran jaringan 4G berkualitas video akan berkontribusi positif bagi percepatan pembangunan sosial dan ekonomi di Indonesia,” jelas Medhat, dalam keterangannya, ( 19/04/2021 ).

Sementara itu, David Hutton, Chief Engineer TIP, menyatakan, “Uji coba lapangan ini merupakan langkah yang sangat signifikan menuju adopsi OpenRAN di Indonesia, melalui validasi dari solusi Parallel Wireless terhadap sejumlah kebutuhan yang telah disampaikan Indosat Ooredoo kepada Grup Proyek OpenRAN TIP. Hasil uji coba ini akan menjadi sarana pembelajaran bagi komunitas TIP OpenRAN dan membuat kemajuan lebih lanjut untuk memperluas adopsi teknologi OpenRAN secara global.”

Anuj Sharma, Director of Sales Parallel Wireless, menambahkan, “Sebagai inovator terdepan di kawasan ini, Indosat Ooredoo telah menetapkan standar baru secara global untuk menyediakan layanan internet yang lebih baik bagi pelanggan mereka, dengan memvalidasi OpenRAN virtual.

“Indosat Ooredoo merupakan operator seluler pertama di Indonesia yang menjalankan validasi lapangan dari teknologi LTE 900 berbasis cloud yang canggih dalam arsitektur OpenRAN mereka dan berhasil memberikan kualitas jaringan 4G yang sama dengan RAN konvensional. Kami bangga bisa mendukung Indosat Ooredoo dalam menata kembali infrastruktur nirkabel mereka, memastikan akses yang setara, dan memberikan pengalaman data terbaik di Indonesia,” tegas Anuj Sharma.

Uji coba lapangan akan dilakukan selama satu bulan penuh untuk melihat kinerja dan keandalan dari perangkat OpenRAN yang dihubungkan dengan peralatan RAN konvensional lainnya.

Sejauh ini data statistik yang diperoleh menunjukkan bahwa OpenRAN berhasil memenuhi kriteria indikator kinerja utama (KPI) sesuai standar 3GPP Release 15 yang berlaku global dan siap mengadopsi teknologi masa depan.

Pengalaman pengguna dalam melakukan aktifitas internet menggunakan koneksi data juga sangat baik. Streaming video dari YouTube dan aktifitas panggilan video berjalan lancar tanpa buffering. Aktifitas mengunduh dan mengunggah bisa dilakukan dengan cepat.

Hal ini dimungkinkan oleh kemampuan perangkat OpenRAN untuk menghasilkan kecepatan unduh hingga 22 Mbps di jaringan 4G LTE 900 MHz dengan lebar sprektrum frekuensi 5 MHz, setara dengan kinerja perangkat RAN konvensional lainnya.

“Kami menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Telecom Infra Project dan Parallel Wireless yang telah mendukung penuh uji coba lapangan OpenRAN ini. Kami yakin dengan semakin banyak masyarakat Indonesia yang terjangkau jaringan 4G berkualitas video Indosat Ooredoo, maka semakin besar pula potensi sumber daya yang bisa menggerakkan perekonomian nasional untuk #BisaBangkitBersama di masa yang penuh tantangan ini,” tutup Medhat.

 

 

 



Post Views:
2

Continue Reading

IT

Resmi Hadir di Indonesia, Aplikasi Helo Hadirkan  Konten Lokal Sebagai Wadah untuk Berkreasi, Terkoneksi, dan Mendapatkan Informasi Terbaru

Published

on

By


 

Industri Platform  digital Indonesia semakin ramai  dengan adanya Aplikasi  Helo. Setelah masuk ke Indonesia di akhir tahun lalu, aplikasi Helo kini resmi diperkenalkan kepada publik Indonesia.

Helo adalah sebuah platform digital terintegrasi yang mewadahi seluruh pengguna untuk menginspirasi kebebasan berekspresi, memberdayakan budaya yang beragam, dan mendekatkan komunitas.

Helo yang merupakan bagian dari perusahaan ByteDance, yang hadir membawa angin segar di industri platform digital di Indonesia melalui aplikasi terbaru dengan menghadirkan kumpulan konten lokal dari pengguna dan kreator di Indonesia.

Hasil riset dari Hootsuite dan We Are Social bertajuk Digital 2021: Indonesia menunjukkan  bahwa bertemu komunitas baru dengan aplikasi social networking, mencari hiburan dengan aplikasi entertainment atau video, dan saling terhubung dengan aplikasi messenger merupakan tiga perilaku tertinggi pengguna Indonesia mengakses mobile apps.

Melihat tren tersebut, Helo berkomitmen untuk menggabungkan ketiganya dengan menghubungkan beragam komunitas sekaligus menyediakan platform untuk mengekspresikan diri secara menyenangkan dan unik.

“Aplikasi Helo hadir untuk masyarakat Indonesia sebagai wadah untuk berkreasi, terkoneksi, dan mendapatkan informasi baru yang menghibur dan komplit. Keunikan Helo sendiri terletak pada kumpulan konten lokal dari berbagai pengguna dan juga kreator di Indonesia, serta keragaman budaya di dalamnya,”  ujar Indira Melik, Country Head of Operations Helo Indonesia, saat peluncuran peresmian Aplikasi Helo di Indonesia, Kamis ( 15/04/2021).

“Kami berkomitmen untuk menghubungkan antar pengguna agar dapat dengan mudah berkolaborasi dan menambah wawasan. Harapannya, Helo dapat menjadi go-to platform dengan dukungan fitur canggih sebagai sumber informasi dan koneksi masyarakat dalam satu aplikasi bagi siapapun,” tegas Melik.  

Sebagai platform digital pendatang baru, Helo menawarkan berbagai keunikan dan keseruan yang telah disesuaikan dengan pasar Indonesia, antara lain:

  • Pengguna Helo bisa menikmati kumpulan konten lokal dan keragaman budaya, termasuk unggahan dari pengguna atau kreator, video lucu, berita hiburan, dan emotional status (menyerupai quotes). Untuk fitur sendiri, Helo dilengkapi music video template dan kumpulan stickers yang lengkap.
  • Helo memungkinkan pengguna dengan pengguna lain terhubung dalam jaringan yang luas melalui konten dan unggahan yang tersedia dalam berbagai format, tidak hanya berbentuk video, namun juga dapat berupa foto, gambar, dan teks. Pengguna dengan minat dan ketertarikan yang sama dapat secara mudah dan cepat berkolaborasi, berekspresi, serta membangun sebuah komunitas di Helo.
  • Helo sebagai platform digital yang didesain untuk pengguna yang memiliki mobilitas tinggi dan produktif, di mana dalam satu aplikasi pengguna dapat memperoleh informasi dan hiburan sekaligus.
  • Aplikasi Helo memiliki fitur Tren Helo, fitur yang memungkinkan pengguna dapat mengakses berita atau tren terbaru (trending news) yang ramai diperbincangkan warganet. Tren Helo akan selalu memperbaharui berita atau tren secara real time sehingga pengguna tidak akan pernah tertinggal kabar aktual.
  • Lingkungan di dalam Helo terpercaya dan aman sehingga mendorong pertukaran ide dan perspektif yang lebih bertanggung jawab dengan penerapan kebijakan dan pedoman komunitas.

Atmosfir dan beragamnya fitur yang ditawarkan Helo sangat cocok bagi mereka yang memiliki berbagai kesibukan, salah satunya bagi Amanda Manopo, artis/selebritis yang tengah naik daun dan memiliki basis penggemar yang luas.

“Di Helo, setelah bergabung dan menikmati fiturnya, aku bisa merasakan perbedaannya karena aku bisa lebih leluasa dalam berekspresi dan menjadi diri sendiri seutuhnya. Satu aplikasi bisa memenuhi banyak kebutuhanku. Itulah yang membuatku menikmati aplikasi Helo, di mana aku bisa berkreasi secara orisinal, bertemu komunitas yang seru, termasuk terhubung dengan penggemarku secara lebih dekat,” kata Amanda.

Deretan nama artis atau public figure  lainnya yang juga sudah bergabung di Helo diantaranya, Ariel Noah, Atta Halilintar, Edho ZellNagita Slavina dan Sandra Dewi.

Sandra Dewi, artis yang juga content creator, yang hadir  dalam acara peresmian Helo tersebut, mengungkapkan bahwa  ia merasakan hal yang sama.

“Walaupun aku termasuk baru sebagai pengguna aplikasi Helo, aku merasakan sekali di sini aku bisa memberikan pendapatku mengenai banyak hal dengan cara yang kreatif,” ungkap Sandra Dewi dalam paparannya, saat acara tersebut, Kamis ( 15/04/2021).

“Selain itu, aku bisa terus update karena aku selalu memantau berita dan topik yang hangat dengan cepat. Di Helo ini banyak konten menghibur yang dapat mengisi waktu luangku atau saat jeda di antara berbagai kesibukanku,” ujar Sandra menambahkan.

Ke depannya, Helo akan terus menyediakan konten yang seru dan beragam, serta interaksi selebriti dan tren terkini kepada para pengguna di Indonesia, melalui berbagai kampanye seru yang cocok dengan kebudayaan dalam negeri.

 

 

 



Post Views:
5

Continue Reading

IT

Aruba  kini Integrasikan Keamanan dari Edge-hingga-Cloud pada Platform Aruba ESP-nya

Published

on

By


 

Aruba, bagian dari Hewlett Packard Enterprise telah mengumumkan integrasi keamanan dari edge hingga cloud (edge-to-cloud) yang luas untuk Aruba ESP (Edge Services Platform).

Peningkatan baru ini meliputi pengintegrasian platform kontrol keamanan akses jaringan, ClearPass Policy Manager, dengan Aruba EdgeConnect SD-WAN edge platform, yang sebelumnya disebut Silver Peak.

Lalu, pengintegrasian Aruba Threat Defense dengan platform EdgeConnect dan perluasan ekosistem mitra keamanan multivendor Aruba ESP, sehingga para pelanggan di segmen enterprise memiliki kebebasan untuk memilih dan menjalankan komponen keamanan terbaik berbasis cloudsecure access service edge (SASE).

Dengan berbagai peningkatan dalam Aruba ESP perusahaan-perusahaan dapat mempercepat perjalanan transformasi digital mereka dari edge hingga cloud.

Dengan Aruba ESP (Edge Services Platform) dan opsi as-a-service, Aruba mengambil pendekatan cloud-native untuk membantu pelanggan memenuhi persyaratan konektivitas, keamanan, dan keuangan mereka di seluruh kampus, kantor cabang, pusat data, dan lingkungan pekerja jarak jauh, yang mencakup semua aspek kabel, LAN nirkabel, dan wide area networking (WAN).

Ketika banyak perusahaan menghadapi tantangan akibat pandemi COVID-19 dan “bekerja dari mana saja” menjadi sebuah kenormalan baru, sehingga pengadopsian layanan yang di-hosting di cloud akan semakin cepat. Pergeseran ini membuat transformasi data center konvensional dan jaringan yang MPLS (Multiprotocol Label Switching)-centric dan berbasis VPN ke arsitektur SASE yang cloud-native, menjadi semakin mendesak. Arsitektur SASE akan membuat layanan jaringan semakin aman dan lebih dinamis, sekaligus memberikan perlindungan data secara komprehensif.

Dengan menerapkan pendekatan Zero Trust dan SASE, berbagai perusahaan dapat mengakselerasi Transformasi Jaringan WAN dan Keamanannya, Mengadopsi Cloud dan IoT yang lebih canggih dan Transformasi Digital lebih cepat.

Pada saat yang sama, transformasi digital juga menyebabkan jumlah perangkat-perangkat IoT yang terhubung ke jaringan meningkat secara signifikan. Hal ini menimbulkan tantangan baru yang tidak bisa diselesaikan oleh keamanan yang berbasis di cloud saja. Karena perangkat IoT bersifat agentless, departemen IT tidak bisa menginstal security client atau mengarahkan traffic perangkat ke layanan keamanan cloud; sehingga keamanan Zero Trust harus diterapkan di titik edge WAN (wide area network).

Untuk memahami potensi cloud dan transformasi digital, perusahaan membutuhkan edge di WAN untuk menggabungkan antara keamanan di on premise dan di cloud. Dengan demikian, SASE dapat melindungi pengguna yang terhubung ke SaaS dan platform public cloud, sekaligus melindungi perangkat IoT yang membutuhkan keamanan berbasis identitas dari Zero Trust.

Melalui pengintegrasian yang diumumkan hari ini, para pelanggan enterprise akan mampu menerapkan kebijakan keamanan berbasis identitas hingga ke bagian terkecil (granular-level) dari edge hingga cloud untuk menghubungkan dan melindungi pengguna serta perangkat mereka.

Sebuah laporan perusahaan riset komunikasi 650 Group baru-baru ini, menyoroti peningkatan perhatian pada SASE dan mendapati bahwa perusahaan-perusahaan perlu mengevaluasi pendekatan keamanan mereka sehubungan dengan evolusi teknologi yang terjadi saat ini.

Chris DePuy, pendiri dan analis teknologi di 650 Group menyatakan, “Saat perusahaan-perusahaan beralih ke arsitektur Zero Trust dan SASE, mereka akan menerapkan layanan keamanan multi-vendor yang disediakan cloud, dan tidak semua komponen SASE harus berasal dari satu vendor.”

“Pendekatan Aruba memberikan keseimbangan antara menghadirkan fungsi keamanan di edge WAN dan membebaskan pelanggan untuk memilih mengintegrasikan layanan keamanan cloud terkemuka dari partner seperti Zscaler, Netskope, dan Check Point. Strategi kemitraan multi-vendor ini memberi fleksibilitas kepada berbagai perusahaan untuk terus bekerja sama dengan vendor yang ada atau beralih ke system terbaik di kelasnya,” ungkap Chris DePuy, dalam ketrangan tertulisnya, Rabu ( 14/04/2021 ).  

Integrasi ClearPass Policy Manager dengan Aruba EdgeConnect

Integrasi ClearPass Policy Manager dengan platform edge untuk SD-WAN Aruba EdgeConnect membuat aplikasi semakin pintar karena adanya penambahan informasi mengenai identitas pengguna, perangkat IoT, berbagai role yang ada, dan postur keamanan untuk membentuk basis  SASE WAN edge.

Kombinasi role dan kecerdasan postur keamanan dengan kapabilitas segmentasi yang dinamis akan menghilangkan kerumitan yang terkait dengan implementasi ratusan VLAN untuk tiap kelas pengguna dan perangkat. Hal ini secara dramatis menyederhanakan administrasi dan pengelolaan jaringan. Integrasi ClearPass Policy Manager dengan EdgeConnect akan menyajikan definisi role yang konsisten dan terautomasi serta bisa diterapkan ke dalam jaringan dari perangkat pengguna, melalui LAN, dan di seluruh WAN.

Integrasi Aruba Threat Defense dengan Aruba EdgeConnect

Integrasi Aruba Threat Defense dengan platform edge SD-WAN, Aruba EdgeConnect, akan memperluas jangkauan kemampuan intrusion detection and prevention (IDS/IPS) ke EdgeConnect, baik secara fisik maupun virtual.

Hal ini membuat platform EdgeConnect dapat memanfaatkan infrastruktur Aruba Threat, berbagi informasi ancaman yang berbahaya antara Aruba Central dan EdgeConnect sehingga ada visibilitas yang besar di seluruh jaringan.

Dengan kemampuan unified threat management (UTM) ini perusahaan-perusahaan dapat menikmati keamanan lateral yang menyeluruh serta mengamankan jalur internet lokal dari lokasi cabang mereka. UTM ini bahkan bisa ditetapkan secara terpusat di on premise atau di cloud. Dengan memanfaatkan infrastruktur dan informasi ancaman yang sama di seluruh Aruba ESP, para manager jaringan dan keamanan bisa menerapkan kebijakan perlindungan secara terpusat dan diterapkan di seluruh perusahaan.

Kebebasan Memilih Multivendor di Ekosistem Partner

Ketika perusahaan-perusahaan beralih ke arsitektur Zero Trust dan SASE, mereka akan mempertimbangkan untuk memilih layanan keamanan cloud dari multivendor. Survei terbaru dari perusahaan keamanan Ponemon Institute memperkuat fakta itu.

Mereka mendapati bahwa lebih dari 70% responden akan memilih solusi keamanan cloud yang terbaik di kelasnya atau ‘best-of-breed’ ketimbang pendekatan all-in-one[1], agar dapat menikmati infrastruktur Zero Trust dan SASE yang komprehensif.

Dengan workflow yang ditentukan oleh sebuah Service Orchestration yang baru, Aruba Orchestrator management console, yang sebelumnya dikenal sebagai Silver Peak Unity Orchestrator, sekarang menyertakan informasi default yang telah dikonfigurasi terkait layanan keamanan cloud yang disediakan oleh mitra terdekat.

Para admin jaringan dengan cepat dan mudah menghubungkan lokasi cabang Aruba dengan POP dan data center cloud dari partner. Vendor keamanan terkemuka seperti Check Point, Forcepoint, McAfee, Palo Alto Networks, Symantec dan Zscaler saat ini termasuk ke dalam ekosistem aliansi partner teknologi Aruba, dan Netskope menjadi yang pertama memanfaatkan pengaturan workflow ini.

“Integrasi ClearPass Policy Manager dan Aruba Threat Defense dengan EdgeConnect SD-WAN edge platform memungkinkan kami menghadirkan framework kebijakan berbasis identitas yang konsisten di seluruh portofolio edge yang aman dari Aruba,” kata David Hughes, pendiri Silver Peak dan senior vice president WAN business di Aruba, anak perusahaan Hewlett Packard Enterprise, dalam keterangan tertulisnya, Rabu   (14/04/2021).

“Kombinasi yang powerful ini akan membuat pelanggan beranjak ke fase selanjutnya, beranjak dari arsitektur jaringan yang berpusat pada data center lama, dengan keamanan berbasis parimeter, ke WAN yang cloud-centric dengan keamanan yang didasarkan pada prinsip-prinsip Zero Trust dan SASE. Pelanggan enterprise dapat mengatur agar platform edge WAN EdgeConnect di infrastruktur on-premise dapat menjalankan policy dari edge, dan dengan mudah  terintegrasi dengan layanan keamanan pilihan mereka yang di-deliver dari cloud, semua dikontrol secara terpusat di dalam Aruba Orchestrator,” jelas David.

Portofolio WAN Edge yang Aman dan Komprehensif di Seluruh Lokasi Kerja Hybrid

Platform Aruba ESP menawarkan portofolio edge untuk WAN baik kabel maupun nirkabel yang paling komprehensif di industri kepada para pelanggan, sehingga mereka bisa beradaptasi pada situasi new normal maupun kondisi hari-hari mendatang yang penuh ketidakpastian.

Portofolio edge untuk WAN ini meliputi:

  • Virtual Intranet Access Client (VIA) – mobilitas maksimal bagi pengguna yang bekerja dari mana saja, baik yang terhubung ke jaringan privat atau publik
  • Remote Access Points (RAPs) – dengan footprint minimal bagi ruang kerja mobileremotemaupun temporer, menghasilkan konektivitas yang aman ke jaringan enterprise korporat
  • SD-Branch – integrasi maksimal dan pengelolaan terpadu yang sederhana di semua WLAN, LAN dan SD-WAN dengan keamanan Zero Trust
  • EdgeConnect – QoE (Quality of Experience) yang optimal dari edge-to-clouddengan sebuah platform edge untuk SD-WAN yang canggih dan komponen SASE yang terpadu

 

 



Post Views:
2

Continue Reading

Trending

Copyright © 2021 Eksekutif.ID | Kerjasama dan kolaborasi silahkan email: eksekutifmatra@gmail.com. Hotline 0816-1945-288