Tips Menghindari Penipuan Digital – MAJALAH EKSEKUTIF # terbit sejak 1979 –

  • Whatsapp


EKSEKUTIF.COM, JAKARTADasep Purnama, Instruktur Edukasi4ID mengungkapkan, kejahatan digital kian hari kian meningkat jumlahnya.

Data dari Polri pada September 2020, dalam 5 tahun terakhir terjadi kenaikan dan total kerugian hingga 49,92 miliar rupiah.

Di ruang ini, kita perlu memiliki kemampuan dalam mempolakan, menganalisis, mengevaluasi, dan menyelesaikan masalah terkait penipuan digital.

Akan tetapi, kita perlu mengetahui hal terpenting yang perlu dilindungi, yakni data pribadi umum dan data pribadi spesifik.

Data pribadi spesifik merupakan data yang tidak boleh diketahui orang lain. Data ini termasuk data biometrik, rekam medis, orientasi seksual, pandangan politik, data keuangan, data anak, hingga catatan kejahatan.

“Ketika data ini bocor, akan berpotensi pada jual beli data,  target politik, pendaftaran akun pinjaman online, pengambilalihan akun, peretasan akun, bahkan cyberbullying,” jelas Dasep dalam Webinar Literasi Digital di Kota Sukabumi, Jawa Barat, Selasa (5/10/2021).

Sementara itu, modus penipuan saat ini pun semakin berkembang.

Dahulu modus yang sering kita temui ialah mama minta pulsa sedangkan saat ini, penipu meminta OTP via telepon hingga mengatasnamakan perusahaan ternama.

Dasep menyampaikan, untuk itu kita perlu memperhatikan informasi hoaks yang sekiranya berujung phising, terlebih saat mengatasnamakan instansi pemerintah.

Kita harus teliti dalam melihat keamanan sebuah situs. Situs yang aman dan memiliki kredibilitas tinggi berawal dari https.

“Pastikan juga double crosscheck, pastikan data atau informasi itu benar atau tidak. Kita bisa gunakan cek fakta supaya tahu informasi tersebut benar atau tidak,” ungkapnya.

Apabila kita diminta untuk mentransfer ke sebuah rekening, baiknya cek terlebih dahulu melalui cek rekening apakah rekening tersebut memiliki rekam jejak penipuan atau tidak. Selain penipuan yang memanfaatkan data, terdapat juga penipuan melalui belanja online.

Dengan itu, sebelum berbelanja online kita perlu memperhatikan harga barang yang jauh lenih murah, akun media sosial yang baru dibuat, tidak menyediakan COD, foto tidak asli, serta minimnya informasi produk.

Apabila kita menjadi korban kejahatan digital. Kita bisa melaporkannya melalui situs patrolisiber. Dalam pelaporan tersebut kita perlu untuk mengisi data pribadi serta kronologi penipuan agar laporan bisa diproses dan diselidiki.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi.

Webinar wilayah Kota Sukabumi, Jawa Barat, Selasa (5/10/2021) juga menghadirkan pembicara,  Dadi Rulanto (Kepala Seksi Pembinaan Peserta Didik Dinas P&K Kota Sukabumi), Luviana Adam (Dewan Pendidikan Kota Sukabumi), Diena Harya (Pendiri Sejiwa), dan Tabitha Purba (KOL).

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama.

Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

 76 kali dilihat,  76 kali dilihat hari ini

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *