Transformasi Perdagangan di Indonesia – MAJALAH EKSEKUTIF # terbit sejak 1979 –

  • Whatsapp


EKSEKUTIF.COM, JAKARTA – Belanja online saat pandemi jumlahnya sangat meningkat. Karena tidak kemana mana kini ditambah banyak orang yang memang sudah menikmati aktivitas belanja daring ini.  Transformasi perdagangan di Indonesia dimulai dari pasar tradisional yang sangat menuntut untuk melakukan aktivitas secara fisik sangat tinggi.

Muhammad Miftahun Nadzir, dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta menjelaskan, dimulai dari kita menawar barang, memilih barang, berinteraksi dengan penjual belum lagi ada basa-basi atau cerita yang lain yang dilakukan oleh pedagang dan penjual karena sudah langganan.

“Berpindah tempat dari satu kios ke kios lain, mungkin juga bisa menjadi refreshing karena kedekatan kita dengan orang lain sudah seperti teman. Ada kedekatan tercipta antara penjual dan pembeli karena sering menitip belanjaan, menawar harga, bagaimana cara memilih bahan makanan yang terbaik dan lainnya,” jelasnya dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (14/10/2021) pagi.

Lalu lanjut ke shopping mall, di sini tidak ada kedekatan hubungan antara penjual dan pembeli seperti di pasar tradisional. Di shopping mall kehadiran fisik juga sangat diperlukan tetapi aktivitas perdagangan ini pun kini beralih online. Di mana ini adalah bentuk transaksi yang tidak ada interaksi fisik secara langsung sama sekali. Hanya pada saat kita bertemu dengan kurir mengantarkan, tapi dia bukan penjualnya.

Sehingga tidak heran jika online shopping ini sangat tinggi peminatnya ketika pandemi. Saat kita tidak boleh berkumpul, bertemu dengan orang secara dekat bahkan berkerumun. Online shopping menjadi jawaban dari pemenuhan kebutuhan kita sehari-hari. Pemanfaatan platform marketplace atau juga media sosial biasa untuk transaksi perdagangan saat ini. Interaksi fisik semakin rendah hanya melalui kata-kata saja.

Belanja daring dari masa ke masa secara sistem sudah dibuat dari tahun 1960-an namun mulai dilakukan oleh Michael Aldrich pada 1979. Dia membuat dua jalur layanan pesan untuk online shopping. Tahun 1984 ada toko online pertama Tesco Store. Tahun 1991 mulai ada world wide web atau website.

“Platform marketplace besar pertama lahir pada tahun 2001 yakni Amazon dan PayPal tahun 1998 untuk pembayaran. Tahun 1996 penjualan online ritel menyentuh angka USD 1 Miliar. Apple mulai meluncurkan iTunes penjualan musik pertama yang legal dan memenuhi hak para musisi,” jelasnya.

Tahun 2005 mulai media sosial seperti Facebook, YouTube, Twitter digunakan oleh para penggunanya untuk mempromosikan produk atau bisnis mereka. Tiga tahun berselang mulai berbelanja online dapat dilakukan melalui smartphone hingga terus berkembang hingga marketplace Alibaba melakukan transaksi USD 9,3 Triliun dalam sehari pada tahun 2014.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kota Bandung, Kamis (14/10/2021) pagi, juga menghadirkan pembicara, Oktoberi Surbakti (Program Director TMP Event), Ricco Antonius (Founder Patris Official Store) dan Diza Gondo sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

 16 kali dilihat,  16 kali dilihat hari ini

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *