Waspadai Pelecehan Seksual Pada Anak di Dunia Digital

  • Whatsapp


JAKARTA,– Meningkatnya jumlah pengguna internet di Indonesia sebanyak 8,9 persen atau menjadi 171 juta jiwa pengguna membuat kewaspadaan terhadap ancaman kejahatan cyber semakin tinggi.

Diketahui selama pandemi, jumlah Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) meningkat.
Menurut catatan dari Komnas Perempuan bersama Lembaga Pengadalayanan, Kominfo, dan Bareskim Polri saat ini KBGO masih memiliki tantangan. Bukan hanya orang dewasa, anak dan remaja pun rentan mengakami KBGO.

Florencia Irena, Pakar Psikologi Anak dan Remaja saat webinar Literasi Digital wilayah Kota Depok, Jawa Barat mengatakan ada berbagai sebab pelecehan seksual masih kerap terjadi. Pertama karena budaya patriarki, kemudian ketidaksetaraan gender, dan relasi kuasa. Namun di dunia digital pengertian pelecehan seksual yang disebut sebagai KBGO saat ini belum semua orang memahaminya atau tidak sadar menjadi pelaku. Sebab pelecehan seksual di ranah digital sudah meliputi komentar yang bersifat melecehkan atau merendahkan perempuan dalam mengomentari bentuk tubuh.

“Sexual harassement di dunia digital bentuknya bisa membuat pernyataan, komentar, atau lelucon yang bermuatan seksual di postingan orang lain atau kolom chat,” kata Florencia.

Termasuk juga memperlihatkan gambar atau video seksual kepada orang lain, meminta orang lain mengirimkan foto telanjang, dan mendekati seseorang secara terus-menerus meskipun sudah ditolak berulang kali.

Menurut data dari Kementerian Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA), korban kekerasan seksual pada anak mayoritas dialami usia 13-17 tahun. Pada Januari hingga Juli 2020 terdapat 2556 anak menjadi korban kekerasan seksual, sementara di periode Januari hingga Mei 2020 terdapat 354 kasus KBGO.

“Anak-anak di usia ini kan rasa ingin tahunya tinggi sekali, jadi ingin berinteraksi dengan orang baru yang efek negatifnya bisa jadi korban,” katanya lagi.

Florencia lalu memberikan cara pencegahan agar anak tidak menjadi korban. Di antaranya orang tua harus membuka jalur komunikasi dengan anak, memberikan pendidikan seksual dini kepada anak, mengajari anak untuk mencerna dulu sebelum berkomentar atau melakukan apapun di dunia digital. Orang tua juga bisa masuk ke dunia anak dan memahami apa yang diserap anak.

Namun jika anak sudah terlanjur mengalami KBGO, orang tua harus jadi pendukung anak tanpa menghakimi bila anak bercerita. Orang tua juga perlu memantau perubahan pada anak, hingga melapor dan mencari bantuan dari tenaga ahli untuk pemulihan psikologis.

Webinar Literasi Digital di Kota Depok, Jawa Barat I, merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika. Hadir pula nara sumber seperti Creative Concept dari Planet Design Indonesia Oleg Sanchabahtiar, Dosen Komunikasi UI Devie Rahmawati, dan Relawan TIK Indonesia Muh Nurfajar Muharom. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya digital skills, digital ethics, digital safety dan digital culture untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

 18 kali dilihat,  18 kali dilihat hari ini

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *