Connect with us
script data-ad-client="ca-pub-4777880934442148" async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js">

Inspirasi

Wawancara Awal Tahun Anang Iskandar – MAJALAH EKSEKUTIF

Published

on


Selfi Para Kepala BNN- sebelum pandemi

EKSEKUTIF.com — Hidupnya seperti Heaven Influence. Punya banyak pengalaman baik yang “ditularkan” dalam kehidupan pada umumnya dan kepolisian khususnya.

Anak tukang cukur ini tak hanya bicara anti korupsi tapi rajin mengedukasi aparat, penegak hukum dan masyarakat umum bagaimana sebaiknya menghadapi “darurat narkoba”.

Mantan Kepala BNN dan Kabareskrim Polri ini rajin menulis kolom hingga buku hingga kini.

Di masa pandemic Covid-19, pria kelahiran Mojokerto,18 Mei 1958 ini merasa hidupnya terus berarti. Tulisan dan pemikirannya dishare, ke medsos, rekan hingga relasi sampai ke jaringan Presiden Jokowi.

Anang memang polisi yang santun. Hidupnya seperti dianugerahi keberuntungan dan ada banyak momen, dimana hidupnya tidak ngoyo, tapi justru mendapat apa yang diinginkan rekan-rekan kepolisian.

Sebagai polisi, putera dari pasangan Suyitno Kamari Jaya dan Raunah ini merasa polisi hanyalah pelayanan dan bentuk pengabdian.

Rajin dan tekun, kadang ada momen yang tak dikira. Tak tergeser dari gaya hidup dunia. Polisi ini malah muncul di tengah angin topan.

Ayahnya berprofesi sebagai tukang potong rambut.

Pria yang karirnya terus naik. Dari memberantas perjudian, narkotika, dan ilegal loging. Ketika menjadi purnawirawan perwira tinggi Polri,  ia berpengalaman dalam bidang reserse terus aktif dalam komitmennya untuk berbuat terus untuk bangsa ini.

“Hidup ini pendek, bagaimana kita berbuat yang terbaik untuk keluarga, sekeliling dan bangsa selama hayat masih di kandung badan,” ujar Anang Iskandar suatu kali.

Lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) 1982 ini menjadi dosen, aktivis cegah narkoba dan sempat terpanggil menjadi calon pimpinan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi).

Dikenal sebagai “bapaknya rehabilitasi” karena selalu mengedukasi, seorang penyalahguna narkoba sebaiknya jangan diproses hukum, hingga diancam pidana.

Anang mengedukasi penegak hukum, sebaiknya pecandu itu diobati di panti rehabilitasi. Bukan saja karena penyalahguna yang banyak ini,  nanti akan memenuhi penjara, korban narkoba jika di penjara bisa terjerembab dalam hal-hal yang lebih buruk.

Di penghujung Desember 2020 lalu demikian, Anang mengaku sebagai sosok yang optimis dalam banyak hal.

Bahwa “perjuangan”nya untuk mengedukasi penegak hukum dan berbuat untuk mengatasi bangsa ini dari genggam narkoba, sedikit terasa.

“Panitera, Hakim dan Ketua Pengadilan Negeri dituntut laksanakan Restorative Justice bagi penyalahguna,” ujar Anang mengutip keputusan Mahkamah Agung.

Adapun surat itu Keputusan Dirjend Badan Peradilan Umum no 1691/DJU/SK/PS.00/12/2020 tanggal 22 desember 2020 tentang pedoman penerapan restorative justice.

Di awal Januari 2021 ini,  jenderal ini menerima wawancara lewat video call.

Obrolan lewat teknologi ini ke Anang Iskandar, untuk mengetahui dampak dari keluarnya surat MA itu, bagi perkembangan cegah dan  masalah narkoba di Indonesia.

Benarkah SK dari MA tentang restorative justice ini punya pengaruh?

Harapan saya demikian, karena panitera, hakim dan ketua Pengadilan Negeri dituntut laksanakan Restorative Justice bagi penyalahguna narkoba.

Pedoman penerapan restorative justice terhadap perkara penyalah guna narkotika berlaku terhitung mulai tanggal 22 desember 2020.

Bisa jelaskan lebih lanjut?

Panitera, hakim dan Ketua Pengadilan dituntut Mahkamah Agung untuk melaksanakan restoratif justice.

Karena selama berlakunya UU no 35 tahun 2009 tentang narkotika, majelis hakim dalam menjatuhkan hukuman terhadap perkara penyalah guna narkotika yang nota bene adalah pecandu berupa hukuman penjara.

Padahal, Mahkamah Agung telah mengeluarkan pedoman baik berupa Surat Edaran MA no 4 tahun 2010 dan Surat Edaran MA no 3 tahun 2011.

Menurut Anda seperti itu?

Ya. Catatan saya, penyalah guna bila dilakukan assesmen oleh team assesmen terpadu, hasilnya akan diketahui bahwa penyalah guna berpredikat sebagai pecandu atau sebagai korban penyalahgunaan narkotika.

Pecandu dan korban penyalahgunaan narkotika berdasarkan pasal 54 wajib menjalani rehabilitasi.

Hakim diberi kewenangan dapat memutuskan atau menetapkan terdakwa penyalah guna narkotika untuk menjalani rehabilitasi baik terbukti bersalah maupun tidak terbukti bersalah.

Artinya apa?

Hakim punya kewenangan menjatuhkan hukuman rehabilitasi terhadap penyalah guna dalam keadaan ketergantungan yang sifatnya wajib.

Namun prakteknya, jarang sekali digunakan, kecuali terhadap perkara artis Nunung dan Jefri Nichole.

Anda ingin tegaskan, SK itu Tuntutan Mahkamah Agung kepada pengadilan?

Berdasarkan surat keputusan Dirjend Badilum Mahkamah Agung tersebut, panitera, hakim, majelis hakim dam ketua pengadilan dituntut agar melakukan hal hal sebagai berikut.

Pertama. Bagi panitera, dalam melaksanakan tugasnya dituntut memastikan bahwa jaksa telah melampirkan hasil assesmen dari team assesmen terpadu pada setiap berkas perkara narkotika.

Yang dikatagorikan sebagai penyalah guna untuk diri sendiri.

Jika berkas perkara pada saat dilimpahkan tidak dilengkapi dengan hasil assesmen maka hakim pada saat persidangan dapat memerintahkan kepada jaksa untuk melampirkan hasil assesmen dari team assesmen terpadu.

Apa lagi?

Hakim dapat memerintahkan terdakwa agar menghadirkan keluarga dan fihak terkait untuk didengar keterangannya sebagai saksi yang meringankan dalam rangka pendekatan restoratif justice.

Kehadiran saksi yang meringankan ini sebagai salah satu tuntutan Mahkamah Agung, agar pengadilan berjalan adil dan setara.

Memang selama ini kenapa?

Harus diakui,  selama ini jomplang, tidak pernah dihadiri saksi yang meringankan,  kerapkali diputus hanya berdasarkan keterangan  saksi dari penyidik yang menangkap saja.

Lantas apa lagi?

Majelis hakim dalam proses persidangan dapat memerintahkan agar pecandu narkotika dan korban penyalahgunaan narkotika untuk melaksanakan pengobatan, perawatan dan pemulihan pada lembaga rehabilitasi medis dan / atau lembaga rehabilitasi sosial.

Kewenangan tersebut selaras dengan tujuan UU yang tercantum pada pasal 4d dan pasal 54 UU no 35 tahun 2009 tentang narkotika yang berarti sebagai kewajiban bagi hakim bila penyalah guna hanya berperan sebagai penyalahguna.

Pengadilan “wajib” menyediakan daftar lembaga rehabilitasi medis?

Benar. Pengadilan “wajib” menyediakan daftar lembaga rehabilitasi medis atau sosial melalui koordinasi dengan BNN.

Artinya, pengadilan harus mengetahui secara pasti rumah sakit atau lembaga rehabilitasi yang ditunjuk Menteri Kesehatan yang menyelenggarakan layanan  rehabilitasi atas perintah hakim, dikab/kota dimana pengadilan berada.

Adalah tugas Menteri Kesehatan untuk menunjuk rumah sakit atau lembaga rehabilitasi dikab /kota diseluruh Indonesia (pasal 59).

Dengan pedoman restoratif justice Mahkamah Agung ini Anda optimis?

Ya,  kalau terlaksana maka penyalah guna akan dihukum menjalani rehabilitasi sesuai cita semangat dan tujuan UU no 35 tahun 2009 tentang narkotika.

Dampak yang diharapkan dari terbitnya Surat Keputusan Dirjend Badilum Mahkamah Agung, akan terjadi perubahan dalam proses penuntutan dan penyidikan tindak pidana narkotika katagor penyalah guna narkotika dan jenis hukuman bagi penyalah guna narkotika.

Maksudnya perubahan dalam proses penuntutan?

Dalam dakwaan terhadap perkara narkotika dengan katagori kepemilikan narkotikanya terbatas untuk sehari pakai, tujuannya untuk dikonsumsi atau digunakan untuk diri sendiri wajib dilakukan assesmen agar diketahui status penyalah guna sebagai pecandu atau korban penyalahgunaan narkotika atau pecandu merangkap pengecer.

Kalau berkas perkara tidak ada hasil assesmen, maka berkas perkara tidak dinyatakan lengkap. Jaksa dapat minta penyidik untuk dilakukan assesmen.

Teknisnya seperti apa?

Kalau hasil assesmen team assesmen terpadu terdakwanya sebagai pecandu, maka perkaranya disebut perkara pecandu, kalau hasilnya sebagai korban penyalahgunaan narkotika maka  terdakwanya hanya dituntut pasal 127/1, tidak dilakukan penahanan selama proses penuntutan.

Sebab, disamping karena tidak memenuhi sarat dilakukan penahanan, juga bertentangan dengan ditujuan dibuatnya UU narkotika, yang secara ekplisit UU narkotika menjamin penyalah guna dan pecandu direhabilitasi.

Kalau hasil assesmen terdakwanya sebagai pecandu merangkap pengecer?

Yang ini dapat dituntut secara subsidiaritas dengan pasal bagi pengedar, penyalah guna dapat dilakukan penahanan oleh jaksa penuntut umum.

Dalam hal putusan atau penetapan hakim memerintahkan yang bersangkutan untuk menjalani dilembaga rehabilitasi milik pemerintah yang ditunjuk oleh Menteri Kesehatan, Jaksa melaksanakan putusan tersebut.

Biaya rehabilitasi ditanggung siapa?

Atas putusan hakim ditanggung oleh rumah sakit atau lembaga rehabilitasi milik pemerintah yang ditunjuk oleh Menteri Kesehatan.

Proses perawatan melalui rehabilitasi atas putusan hakim aturan pelaksanaannya dipertanggung jawabkan kepada Menteri kesehatan setelah berkoordinasi dengan Instansi terkait (pasal 13 PP no 25 tahun 2011)

Perubahan dalam arah penyidikan

Kalau hakim melaksanakan restoratif justice terhadap penyalahguna narkotika dengan putusan atau penetapan untuk memerintahkan penyalah guna menjalani rehabilitasi sesuai tujuan UU narkotika.

Maka teknik penyidikan juga  harus merubah dalam memeriksa perkara penyalahgunaan narkotika.

Penyalahguna yang ditangkap yang nota bene adalah pecandu secara teknis harus dilakukan assesmen?

Benar. Agar jelas diketahui perannya sebagai korban penyalahgunaan narkotika atau pecandu atau penyalah guna merangkap pengecer.

Permintaan assesmen kepada team assesmen terpadu menjadi kewajiban penyidik, selama ini permintaan assesmen dilakukan atas permintaan tersangka atau keluarganya.

Bila menangkap penyalah guna disaratkan UU untuk bekerja sama dengan BNN dalam rangka proses penyidikannya.

Benarkah, kalau pengadilan melaksanakan restoratif justice maka tugas penyidik narkotika untuk menangkap penyalah guna menjadi tidak menarik. Kenapa?

Karena harus memintakan assesmen kepada team assemen terpadu kemudian menempatkan penyalah guna kedalam lembaga rehabilitasi karena tidak memenuhi sarat dilakukan penahanan, harus berkoordinasi dengan BNN yang kesannya ribet.

Sehingga tugas penyidik lebih fokus pada menangkap pengedar, pelaku peredaran gelap narkotika dan prekursor narkotika.

Kabarnya Anda ingin membuat watch, semacam LSM pemantau untuk pelaksanaan  restorative justices ini?  

Idenya sudah ada dan sedang menunggu siapa-siapa saja yang tergerak untuk bergabung.

Apa harapan Anda di 2021 ini?

Semoga niat Mahkamah Agung dapat melaksanakan restorative justice sesuai cita cita, maksud dan tujuan dibuatnya UU no 35 tahun 2009 tentang narkotika.

Yang dapat dilaksanakan oleh para panitera, hakim dan majelis hakim dan  ketua pengadilan di seluruh Indonesia terhitung tanggal 22 desember 2020.

Dan menjadi berkah bagi bangsa Indonesia dalam menapaki tahun 2021 aamiin.

 

Foto sebelum pandemi Covid-19-rajin diskusi dengan aktivis dan jurnalis

Mendapat Bintang Emas dari Majalah MATRA saat menjadi Kepala BNN karena berhasil mengedukasi aparat untuk “penyelamatan anak bangsa” lewat  rehabilitasi”. Sejak itu, sosok Anang Iskandar kerap dijuluki  “bapak”nya rehabilitasi narkoba.

 

 

 

 

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Inspirasi

5 Kunci Hidup Bahagia – MAJALAH EKSEKUTIF # terbit sejak 1979 –

Published

on

By


Terkadang keterpurukan dalam hidup terjadi manakala kita terlalu memikirkan standar bahagia yang terlalu tinggi.

Nyatanya hidup bahagia tak perlu standar yang terlalu tinggi, bergelimpangan harta, punya jabatan ataupun status sosial yang terpandang, atau lain sebagainya yang membuat hidupmu semakin tertekan.

Standar bahagia kita yang tentukan, tak perlu ikut-ikutan pada standar kebahagiaan orang lain yang sulit untuk kita jangkau.

Belajarlah untuk mensyukuri kehidupan yang mana dengan bersyukur kita akan senantiasa merasa berkecukupan dan dipenuhi kebahagiaan.

Selain itu ada beberapa hal yang perlu kita lakukan juga, manakala kita ingin memulai hidup bahagia, diantaranya :

1. Tidak membenci

Kebencian adalah salah satu emosi terkuat yang bisa kita rasakan. Membenci lebih dari sekadar tidak menyukai seseorang atau menganggapnya menjengkelkan, hal itu akan membuatmu sulit berhenti memikirkannya. Kebencian dapat memunculkan keinginan untuk menyakiti atau membuat orang yang dibenci malu.

Membenci seseorang bisa sangat melelahkan. Demi kebaikanmu sendiri, hentikan kebencian, tidak peduli apakah orang ini memang layak dibenci atau tidak, yang terpenting pikirkan tentang kehidupanmu yang lebih berarti daripada terus-menerus menghabiskan waktu untuk membenci.

Daripada membenci orang lain lebih baik gunakan energi untuk hal-hal yang membuat kehidupanmu terasa lebih menyenangkan dan lebih berkembang.

Penelitian menunjukkan bahwa orang-orang yang bisa menghilangkan kebiasaan negatif ternyata hidupnya lebih sehat dan bahagia.

2. Mudah memaafkan

Kalau kita dipermalukan, pasti ingin pula mempermalukannya.

Jika kita dicela, pasti ingin pula membalas dengan celaan.

Hampir watak setiap orang yang disakiti dan dizalimi seperti itu. Namun ada baiknya sifat seperti itu kita ganti, cobalah untuk mengalah dan mengakhiri akhir dari setiap permasalahan yang ada.

Ketika kita dipermalukan dan dihina, maka kita tidak perlu balas dengan menghina dan mencela orang tersebut walau kita tahu kekurangan yang ada pada dirinya dan bisa menjatuhkannya.

Cobalah untuk memaafkan nya, memaafkan bukan berarti mengampuni perbuatan orang lain yang menyakitkan, melainkan sebagai cara agar kita bisa melanjutkan kehidupan yang lebih baik dan lebih bahagia. Pada akhirnya, apa yang kita lakukan ini adalah untuk diri sendiri, bukan untuk orang lain.

Memaafkan atau memberi maaf jelas bukan hal yang mudah. Berdamai dengan diri sendiri, keadaan, dan mereka yang menyakiti memang bukan perkara gampang. Tapi sadarkah kita bahwa ada sekian kebaikan yang akan didapat ketika mau memaafkan? Bukankah keberanian itu juga akan “dibayar” setimpal dengan kebahagiaan yang kita rasakan setelahnya? Jadi mulai dari sekarang belajarlah menjadi seorang pemaaf agar hidup yang kita jalani penuh dengan ketenangan serta kebahagiaan.

3. Tidak mengeluh

Ketika menghadapi kenyataan yang tidak sesuai harapan, kita kerap kali tergoda untuk mengeluh. Mulailah dari sekarang teruntuk mengubah kebiasaan ini. Lebih baik berhenti mengeluh dan segera produktif berkarya sehingga hasil yang baik akan kita dapat dan jelas dengan berhenti mengeluh secara otomatis kita akan lebih mudah bagi untuk mensyukuri segala karunia dan nikmat yang Tuhan berikan, dan dengan bersyukur tentunya rentang hidup bahagia akan lebih terasa dekat.

4. Tidak dengki dan iri hati

Iri dan dengki adalah dua sifat yang tidak baik yang ada pada diri seseorang, yang mana sifat ini akan membuat orang tersebut selalu merasa tidak senang dan tidak rela jika melihat orang lain mendapat kebahagiaan dan kebaikan dalam kehidupannya.

Bersyukur dalam menjalani kehidupan merupakan salah satu cara menghindari perilaku tercela ini agar hati menjadi bersih dan selalu positif dalam berprasangka kepada orang lain.

Sifat iri hati dan dengki tidak akan membawa kebaikan untuk diri dan kehidupan kita. Hati akan menjadi kotor dan selalu berprasangka buruk kepada orang lain. Hidup kita juga akan jauh dari ketenangan karena selalu merasa sakit hati dan tidak senang setiap kali melihat orang di lingkungan kita mendapatkan keberuntungan.

Orang yang suka iri dan dengki sangat rentan juga terkena stres, mengapa demikian? Karena setiap kali ia melihat kesuksesan, keberhasilan dan kebaikan yang menimpa orang lain ia selalu merasa tidak senang, tersaingi dan akan membuat ia menjadi uring-uringan.

Jadi bagaimana bisa bahagia jika hati dipenuhi oleh rasa iri dan dengki terhadap orang lain? Yang ada ia akan merasa susah setiap kali ada orang yang mendapat kebaikan dalam hidup.

Agar hidup bisa bahagia tinggalkan sifat ini dengan cara merubah diri menjadi lebih baik.

5. Selalu tersenyum

Maksudnya jalani kehidupan dengan senyuman, tak peduli seberapa berat beban yang kita pikul, tak peduli seberapa besar rintangan yang menghadang, cobalah teruntuk tersenyum maka semua bebanmu akan terasa lebih ringan.

Senyum menunjukkan adanya keinginan untuk berbagi, rasa peduli, dan bersahabat. Tersenyumlah maka kau akan merasa damai. Jangan buat hidupmu terpuruk dalam kesedihan, ubah air matamu menjadi senyum, maka kau akan melihat betapa indahnya dunia ini.

Semoga 5 kunci kebahagiaan hidup diatas menjadi pedoman bagi kita semua, tetap berpikir positif dan selalu berdoa!

 

 

 

Continue Reading

Inspirasi

Asal Usul “Rumah Makan Padang”

Published

on

By


Jika ingin makan kuliner khas Minang, biasanya restoran Padang segera terlintas dalam pikiran kita.

Mungkin banyak yang bertanya mengapa rumah makan atau restoran yang menjual makanan khas Minangkabau dinamakan “Restoran Padang” atau “Rumah Makan Padang”.

Namun tahukah anda, asal usul dan kapan pertama kali nama Restoran Padang atau
Rumah Makan Padang tersebut mulai diperkenalkan?

Menurut dosen dan peneliti dari Universitas Leiden, Suryadi Sunuri, penggunaan nama “Restoran Padang” atau “Rumah Makan Padang” ditemukan pada sebuah iklan surat kabar yang terbit pada tahun 1937.

“Bukti itu adalah sebuah iklan tentang masakan Minangkabau di Cirebon dari tahun 1937. Iklan tersebut dimuat selama beberapa bulan di harian Pemandangan terbitan Batavia,” kata Suryadi Sunuri.

Menurutnya, iklan tersebut dimiliki oleh pemilik rumah makan bernama Ismael Naim.

Foto iklan itu kami turunkan di sini, dengan tulisan sebagai berikut:

“BERITA PENTING! Kalau toean2, njonja2 dan soedara2 djalan2 di Cheribon, djika hendak makan minoem jang enak, sedap rasanja, bikinan bersih mendjadi pokok kesehatan, silahkanlah datang ke: PADANGSCH RESTAURANT “Gontjang-Lidah” beralamat di Pasoeketan 23 Cheribon. Dan djoega ada sedia anggoer tenaga boeat orang lemah, bikin tjahja moekamensehatkan badan mengoeatkan pentjernaan, menimboelkan tenaga baroe dengan lekas d.l.l. Tjobalah rasanja enakper glas f 0,25. Bibitnja anggoer Tenaga 1 botol besar f 2,50. Selama keramean Moeloedan di Kanoman, kami ada boeka stand. Datang rame2 kesanah.

Wassalam dan hormat, Eigenaar, B. Ismael Naim”

Menurut Suryadi, iklan tersebut adalah sebuah bukti langka. Sudah banyak ratusan koran tua yang dibacanya namun baru satu itu saja yang dia temukan.

“Sudah ratusan koran tua saya baca, sejak dari PNRI Jakarta sampai British Library London, tapi baru kali ini saya menemukan iklan tentang masakan Minangkabau,” katanya.

Dari iklan di atas, Suryadi mengemukakan sangat mungkin kata “Padangsch-Resrtaurant” merupakan arketip dari istilah “Restoran Padang” yang dikenal di rantau pada zaman sekarang. Jadi, istilah tersebut terkait dengan pemakaian bahasa Belanda di zaman kolonial.

Para perantau Minang pada masa itu memakai istilah “Padangsch-Restaurant” untuk menyebut masakan Minangkabau yang mereka jual.

Kedua, iklan tersebut menyebutkan Restoran Padang Goncang Lidah ada di Cirebon. Ini menandakan bahwa pada tahun 1930-an perantau Minang sudah menyebar di Pulau Jawa, tidak hanya di kota-kota besar seperti Batavia dan Bandung, tapi juga kota-kota kecil seperti Cirebon.

Terakhir, penamaan restoran Padang yang agak bombastis seperti “Goncang Lidah”, “Goyang Lidah” dan lain-lain rupanya sudah sejak dulu ada.

 

Continue Reading

Inspirasi

Rahasia Sukses Orang Tionghoa Dalam Berbisnis

Published

on

By


Bukan rahasia lagi bahwa orang Tionghoa sukses dalam berbisnis.

Apakah Anda merupakan bagian orang yang penasaran dengan kesuksesan mereka? Mereka mampu sukses juga tidak secara tiba-tiba.

Ada rahasia yang disimpan dibalik itu semua. Penasaran? Simak ulasan berikut ini.

Terbiasa Sejak Dini

Orang Tionghoa melibatkan keluarganya untuk membantu. Dari kecil mereka sudah dikenalkan bagaimana cara berkerja dengan baik, sehingga mental kerja keras tumbuh pada diri orang Tionghoa sejak kecil. Dengan membantu keluarganya dalam berbisnis menjadikan mereka mengetahui semua seluk beluk dalam dunia bisnis. Sehingga pada diri mereka tertanamkan keterbiasaan dengan dunia berbisnis.

Selalu Belajar

Orang Tionghoa tidak pernah malu dalam menyampaikan pertanyaan mereka. Mereka akan terus belajar dan bertanya kepada siapa saja agar dia mengetahui informasi tentang apa yang mereka butuhkan. Dengan giat dan semangatnya dalam belajar maka tidak heran jika mereka mendapatkan hasil yang besar.

Manajemen Administrasi yang Baik

Kebanyakan ketika mengunjungi toko orang Tionghoa, jarang didengar mereka tengah kehabisan stok. Ini sebab dari penataan administrasi yang baik sehingga barang dagangan mereka selalu berjalan dengan lancar.

Menjadi Orang yang Sederhana

Orang Tionghoa memang terbiasa dengan kehidupan yang sederhana. Mereka melakukannya dengan menyisihkan 20% dari pendapatannya untuk kehidupan sehari-hari dan 80% untuk berinvestasi ataupun menabung.

Tidak Pernah Takut dengan Berbagai Resiko

Di dunia bisnis pasti banyak resiko dan rintangan yang ada di hadapan. Orang Tionghoa selalu memiliki keyakinan bahwa di setiap rintangan pasti memiliki suatu kesempatan. Sehingga mereka berani dalam mengambil resiko dan tidak akan pernah mengenal gagal.

Memiliki Pelayanan yang Baik

Orang Tionghoa menerapkan pelayanan yang baik bertujuan untuk memikat hati dari pelanggan setianya. Sebab mereka mengetahui dengan pelayanan yang baik dan ramah tamah akan membuat pelangan senang dan puas sehingga mereka akan engan berpindah hati kepada yang lain.

 

 

 

Continue Reading

Trending

Copyright © 2021 Eksekutif.ID | Kerjasama dan kolaborasi silahkan email: eksekutifmatra@gmail.com. Hotline 0816-1945-288