Webinar Literasi Digital: Ini 5 Cara Agar Anak Tak Kecanduan dengan Gadget

  • Whatsapp


JAKARTA – Keterbukaan infomasi dan perkembangan di dunia digital membawa perubahan interaksi sosial secara khusus bagi masyarakat Indonesia. Namun perubahan interaksi sosial di dunia digital seharusnya bisa seiring dengan nilai atau norma yang ada di masyarakat.

Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia, Devie Rahmawati dalam webinar Literasi Digital kerjasama Kementerian Komunikasi dan Informatika dengan Siberkreasi, Rabu (2/6/2021) mengungkapkan perkembangan dunia digital pada kenyataannya bukan hanya memberikan kemudahan dan dampak positifnya untuk kehidupan.

Ada isu sosial seperti cyber crime, penyebaran berita hoax, perundungan, hingga bujukan dari orang tak dikenal kepada anak yang bisa saja terjadi di media sosial. Karena itu dibutuhkan kecakapan digital dan bijak dalam menggunakan media digital termasuk sosial media di dalamnya.

Hal itu pun menjadi keresahan para orang tua yang anak-anaknya lebih sibuk dengan gawai atau gadget. Masyarakat Indonesia perlu mendapatkan literasi digital, terutama sejak dini anak-anak harus mendapat bimbingan dari orang tua terkait penggunaan gawai.

Diena Haryana, Pendiri Yayasan Semai Jiwa Amini mengungkapkan orang tua memiliki peran penting melindungi anak dari kesibukannya dengan gadget atau gawai. Caranya yaitu dengan orang tua berkomunikasi dan memberikan literasi digital di rumah.

Secara ringkas, Diena juga memaparkan beberapa tips untuk para orang tua agar anak tidak terobsesi atau kecanduan gadget.

1. Buat suasana yang hidup di rumah agar anak tidak sibuk di ranah digital. Orang tua bisa memberikan kegiatan yang dilakukan bersama seperti bermusik, berkemah, atau bersepeda bersama keluarga.

2. Atur waktu saat anak mengakses gadget mereka yang bisa dilihat dari usia anak. Untuk anak 1 hingga 1,5 tahun sebaiknya jangan diizinkan untuk pegang gadget. Usia 1 hingga 5 tahun cukup satu jam dan harus ada screen breaks, sementara usia 6 hingga 12 tahun waktu mengakses adalah 2 jam per hari masih dengan screen breaks. Untuk usia 13 hingga 15 tahun yaitu 3 jam per hari, semuanya harus ada screen break.

“Saat sedang butuh video call dengan ayahnya, ibu di rumah sebaiknya yang memegang gadget tersebut sehingga anak paham bahwa gawai itu wilayah kekuasaan orang tua,” kata Diena.

3. Tentukan zero zone, yaitu zona bebas gadget misalnya di ruang tidur dan ruang makan. Dengan begitu anak terbiasa untuk lebih sibuk dengan dunia nyata dan tidak kecanduan gadget.

4. Hindari memberikan gadget atau gawai untuk menenangkan anak. Beri anak crayon, buku, atau sepeda untuk membuatnya tetap sibuk dengan dunia nyata, bukan menjadi kecanduan gadget.

5. Jangan ada penambahan screen time di pengaturan gadget. Untuk keamanan pasang parental control pada gawai anak. Orang tua juga bisa berteman dengan anak di sosial media, namun bukan untuk mengawasi namun untuk melihat siapa teman-teman mereka. Hal itu dilakukan agar orang tua bisa mengetahui anak aman di dunia digital.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *