Connect with us
script data-ad-client="ca-pub-4777880934442148" async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js">

Nasional

YJI, PERKI, dan NOC Indonesia Mengeluarkan Buku Saku – Cara Tepat Bersepeda Untuk Kesehatan Jantung

Published

on


Bersamaan dengan peringatan International Day of Sport for Development and Peace dan World Health Day

 

Jakarta,  – World Health Day yang diperingati setiap tanggal 7 April dijadikan momentum oleh Yayasan Jantung Indonesia (YJI) sebagai pengingat akan pentingnya menjaga kesehatan jantung.

Penyakit jantung masih merupakan ancaman dunia nomor 1.

Di Indonesia sendiri berdasarkan data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menyebutkan bahwa setidaknya 15 dari 1000 orang individu di Indonesia menderita penyakit jantung.

Untuk itu, penting bagi kita untuk meningkatkan kesadaran tentang penyakit jantung, tidak hanya bagi diri sendiri tetapi juga untuk orang-orang di sekitar kita.

Menurunkan beban penyakit jantung dapat dimulai dengan langkah yang sederhana seperti meluangkan waktu untuk berolahraga dengan teratur sebagai salah satu contohnya.

Sejumlah studi mengungkapkan bahwa olahraga selama 30 menit sehari dapat mengurangi risiko terkena penyakit jantung.

“Meningkatnya penderita penyakit jantung di Indonesia tidak terlepas dari perubahan gaya hidup masyarakat. Salah satunya adalah kemajuan teknologi yang membuat segalanya serba mudah lalu membuat kita minim dalam bergerak dan kurang berolahraga”, ujar Esti Nurjadin Ketua Umum Yayasan Jantung Indonesia (YJI). (05/04)

Ada berbagai macam jenis olahraga yang dapat dilakukan, salah satunya adalah bersepeda yang belakangan ini marak ditengah masyarakat. Bersepeda termasuk kegiatan olahraga yang menyenangkan. Bersepeda memiliki banyak manfaat untuk kesehatan terutama bagi kesehatan jantung.

“Kesehatan adalah investasi dan aset penting yang harus dijaga. Salah satu penyebab serangan penyakit kardiovaskular dan stroke adalah kurangnya olahraga. Agar kesehatan jantung tetap terjaga, lakukan olahraga praktis seperti bersepeda misalnya. Berolahragalah setiap hari dalam seminggu. Jika tidak sempat, lakukan olahraga dengan intensitas sedang sebanyak 5 kali dalam seminggu selama 30 menit, ujar DR. Dr. Isman Firdaus, SpJP(K), FIHA, FAsCC, FAPSIC, FESC, FSCAI yang juga merupakan Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI).

“Alternatif lain adalah olahraga dengan intensitas sedang selama 30 menit sampai 1 jam sebanyak 3 kali dalam seminggu. Bersepeda dengan rutin akan menurunkan risiko penyakit hingga 50%”, tambah Dr. Isman.

Sejalan dengan YJI dan PERKI, Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia (NOC Indonesia), Raja Sapta Oktohari, juga berpendapat bahwa dengan berolahraga akan mendorong kita untuk hidup lebih sehat. Selain itu, melalui olahraga kita juga akan memiliki karakter dan integritas yang kuat serta menjunjung tinggi sportivitas.

“Olahraga harus menjadi bagian dari gaya hidup kita sehari-hari dan tidak perlu yang sulit cukup bersepeda misalnya. Bersepeda adalah salah satu olahraga yang mudah dan murah”, ujarnya.

“World Health Day dekat dengan International Day of Sport for Development and Peace yang jatuh pada tanggal 6 April tiap tahunnya. Tentunya antara olahraga dan kesehatan sangat erat hubungannya karena salah satu cara kita untuk hidup sehat adalah dengan berolahraga. Tahun ini, kita masih dihadapkan dengan pandemi Covid-19. Sejumlah fasilitas olahraga juga belum sepenuhnya beroperasi dengan normal, jadi bersepeda masih menjadi salah satu altenatif olahraga yang paling aman saat ini,” lanjutnya.

Bersepeda termasuk salah satu olahraga yang risiko cederanya sangat minim. Aktivitas bersepeda menjadi kegemaran banyak orang karena disamping dapat mengurangi risiko penyakit jantung, bersepeda juga dianggap sebagai kegiatan yang menyenangkan. Tubuh akan lebih sehat jika kegiatan bersepeda dilakukan secara teratur.

Namun, sebelum bersepeda hendaknya kita benar-benar mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik utamanya kondisi tubuh kita untuk mencegah terjadinya cedera sebagai salah satu contohnya. Untuk itu YJI, PERKI, dan NOC Indonesia mengeluarkan buku saku Cara Tepat Bersepeda Untuk Kesehatan Jantung yang berisikan tentang tips bersepeda untuk kesehatan jantung.

Dalam buku saku tersebut dijelaskan tentang tips jantung sehat bagi para pesepeda, skrining awal saat bersepeda, sampai bagaimana bersepeda agar tidak berisiko terjadi serangan jantung. Selengkapnya mengenai buklet ini dapat dilihat di sini.

“Adanya buku saku yang membahas mengenai kegiatan bersepeda dan kesehatan jantung ini diharapkan dapat dijadikan panduan dasar kepada masyarakat untuk berolahraga khususnya bersepeda dengan teratur demi kesehatan khususnya kesehatan jantung mereka,” tutup Esti.

 

 

 

 

 

 

 

 



Post Views:
3

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Nasional

Sunat Bagi Pria Dewasa  –  Kesehatan Menjadi Pertimabangan Utama  

Published

on

By


 

Sunnat bagi kaum muslim menjadi suatu kewajiban yang harus dilakukan. Sehingga bagi kebanyakan orang pelaksaan sunat sudah dilakukan  sejak kecil sebelum baligh.

Bagaimana dengan penganut agama lain ? Dengan berbagai pertimbangan kesehatan hal itu akhirnya banyak dilakukan pada saat sudah dewasa.

Pembahasan tersebut terungkap dalam webinar yang mengususng tema “ Menelisik Kontroversi Sunat Bagi Pria Dewasa “  yang dilakukan pada Kamis ( 08/04/2021 ) dengan menghadirkan nara sumber Prof. Andi Asadul Islam, Ketua PP Ikatan Ahli Bedah Indonesia (IKABI)  dan dr Boyke Dian Nugraha SpOG MARS.

Dalam pembahasan webinar tersebut terungkap bahwa faktor kesehatan menjadi faktor pertimbangan utama dalam melakukan sunat dewasa. Hal itu dikuatkan oleh bebera pendapat dari para nara sumber tersebut.

Pada kesempatan itu, Prof. Andi menjelaskan bahwa awalnya sunat atau khitan dilakukan dengan cara konvensional. Didahului anestesi, terus dipotong sedikit dari atas bagian kanan terlebih dahulu, melingkar ke kanan, lalu melingkar ke kiri, dan baru dijahit.

“Dengan pemotongan tersebut,  banyak risiko yang bisa dihadapi saat khitan, seperti perdarahan dan infeksi yang cukup tinggi karena adanya luka terbuka,” ujar  Prof. Andi, saat webinar tersebut, Kamis ( 08/04/2021 ).

Namun, saat ini, pasien dapat memilih sejumlah metode khitan. Mulai dari metode konvensional, menggunakan laser, atau memanfaatkan metode klamp, di mana prosedur dilakukan tanpa jahitan dan menggunakan semacam alat penjepit.

Sementara itu, dr. Boyke menjelaskan sejumlah dampak positif dari khitan, khususnya khitan bagi orang dewasa. Di antaranya adalah mengurangi risiko tertular penyakit menular untuk pasangannya.

“Banyak sekali permintaan sunat untuk orang dewasa muncul dari pihak perempuan. Sebab, sunat atau sirkumsisi selain dari aspek agama dan budaya, juga ada aspek kebersihan dan kesehatan,” ujar dr Boyke.

Boyke mengatakan, banyak sekali permintaan sunat untuk orang dewasa muncul dari pihak perempuan. Dia menegaskan sunat atau sirkumsisi selain dari aspek agama dan budaya, juga ada aspek kebersihan dan kesehatan.

Seperti diketahui virus HPV atau Human Papillomavirus memicu terjadinya penyakit menular seksual (PMS). Virus ini dalam kondisi tertentu bisa memicu kanker. Selain itu Boyke mengatakan pada pria yang tidak disunat, berpotensi terdapat kotoran, bakteri, atau virus lainnya di sekitar kepala penisnya.

Sebab dalam kondisi normal kepala penis pria yang tidak disunat tertutup kulup atau kulit. Butuh perawatan khusus, seperti pembersihan secara berkala bagi pria yang tidak disunat. Dia juga mengatakan ada sejumlah pasangan perempuan yang khawatir jika pasangannya tidak disunat terdapat bakteri Ecoli atau sejenisnya.

Genky lajang asal Jepang salah satu pelaku sunat dewasa, yang turut hadir pada webinar  menyatakan; “Meski dalam budaya Jepang tidak dikenal sunat, saya lakukan sunat demi kesehatan dan masa depan serta memilih melakukan sunat di Indonesia,” jelasnya.

Begitu pula dengan permintaan sunat bagi sang suami yang disampaikan oleh bintang tamu misterius kita sebut Mawar, sebelumnya pernah menikah dengan pria yang telah disunat. Sedangkan saat ini suaminya belum disunat.

“Saya merasakan ada perbedaan antara suami yang telah disunat dan belum disunat, agak kerepotan untuk kebersihan dan merasa kurang nyaman saat berhubungan. Jadi kami memutuskan suami juga harus disunat agar pernikahan kami bahagia,” ungkap Mawar memberikan testimoni.

 

 



Post Views:
2

Continue Reading

Nasional

Pemanfaatan Non Motorized Transportation Dukung Kesehatan dan Kelestarian Lingkungan

Published

on

By


 

EKSEKUTIF.com- Menggunakan transportasi non motor (non motorized transportation), secara langsung akan membuat masyarakat menjadi aktif secara fisik. Aktifitas fisik juga akan menyehatkan jasmani, sehingga bisa terhindar dari penyakit-penyakit non infeksi.

Kenyataan data saat ini menunjukkan dari tahun ke tahun penderita penyakit non infeksi di Indonesia semakin bertambah. Salah satunya karena faktor kurang kurang bergerak. “Bahkan data menunjukkan, wilayah DKI Jakarta merupakan rangking tertinggi penderita diabetes melitus,” ungkap Kepala Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Kementerian Perhubungan, Polana B. Pramesti dalam Webinar bertajuk “Bermobilitas Harian Dengan Transportasi Publik, Siapa Takut?” di Jakarta (1/4).

Hadir juga dalam Webinar tersebut Artis dan Pegiat Lingkungan Hidup Nadine Chandrawinata yang juga Founder dan Executive Director Seasoldier dan Founder dan Chairman Junior Doctor Network Indonesia, dr. Andi Khomeini Takdir, SpPD.

Lebih lanjut Polana mengatakan, secara empirik terbukti juga tingkat polusi di kawasan Jabodetabek yang bersumber dari transportasi cukup parah. Kondisi ini tentu tidak menguntungkan bagi kesehatan publik. Salah satu jalan keluarnya adalah semaksimal mungkin menggunakan angkutan umum massal dan non motorized transportation (NMT), serta mengurangi kendaraan pribadi.

“Oleh karena itu, pemerintah secara bertahap membangun sistem transportasi perkotaan yang maju berbasis angkutan umum massal terintegrasi di Jabodetabek (BRT, MRT, KRL dan LRT). Sistem transportasi yang maju dan modern yang dibangun pemerintah secara langsung meningkatkan aspek keselamatan dan kenyamanan bagi pengguna. Hal tersebut sejalan dengan semangat Kementerian Perhubungan untuk meningkatkan kesadaran bersama bahwa masing-masing pihak memiliki peran terhadap keselamatan bertansportasi, baik dari pengguna, regulator, penyelenggara, begitu pula pihak lain yang terlibat,”ujar Polana, dalam paparannya.

Menurut Polana, pemanfataan angkutan umum massal, prosesnya harus dilihat secara utuh, mulai dari first mile dan last mile. First mile merupakan bertransportasi dari titik awal menuju angkutan umum massal terdekat dan last mile adalah bertransportasi dari titik akhir penggunaan angkutan umum massal menuju tujuan akhir. “Nah proses first mile dan last mile ini seyogyanya dilakukan dengan pemanfaatan non motorised transportasion seperti berjalan kaki atau naik sepeda,” ujar Polana.


Ditambahkan, pada masa pandemi Covid-19, NMT menjadi alternatif bermobilisasi yang memunculkan peluang bagi penataan transportasi di Jabodetabek. Di masa pandemi saat ini, baik bersepeda maupun berjalan kaki merupakan gaya hidup baru yang dijadikan alternatif dalam bermobilisasi. “Selain dinilai lebih aman penggunaan transportasi tidak bermotor diyakini dapat membantu memperbaiki kesehatan,” ungkap Polana.

Sementara itu, dr. Andi Khomeini Takdir, SpPD mengatakan, kebiasaan naik transportasi umum dan NMT sangat terkait erat dengan kesehatan badan dan lingkungan. Menggunakan transportasi umum akan berdampak signifikan terhadap peningkatan kualitas udara, sehingga masyarakat terhindar dari gangguan paru-paru. Naik transportasi umum juga menghindari kita duduk berlama-lama di dalam kendaraan pribadi yang tidak baik bagi kesehatan dan membuat stress.

“Naik transportasi umum dan NMT membuat tingkat stres rendah dan asam lambung terjaga. Apalagi, kalau kita memperbanyak jalan kaki atau bersepeda, imunitas kita akan lebih baik. Untuk itu, upaya menjaga kepercayaan publik terhadap transportasi umum dan NMT harus tetap digaungkan walau di masa pandemi agar nanti setelah pandemi menjadi budaya baru. Untuk mobilitas harian, solusinya adalah transportasi publik,” ujar Andi.

Sementara itu, Nadine Chandrawinata mengatakan, sistem transportasi publik terutama dari sisi keselamatan, keamanan, kenyamanan, dan kebersihan akan menjadi image atau pandangan bangsa lain terhadap Indonesia. Selain itu, naik transportasi publik yang ramah lingkungan juga berdampak besar tidak hanya bagi kesehatan lingkungan tetapi juga kesehatan jiwa dan raga. Ini karena asap kendaraan menjadi penyumbang terbesar polusi udara.

“Jika polusi udara berkurang kita semua bisa menikmati udara bersih. Jika udara bersih maka kegiatan olahraga misalnya berjalan atau bersepeda juga akan lebih nyaman. Ini baik untuk kesehatan mental, jiwa, dan badan. Sangat banyak hal positif kalau kita naik transportasi umum termasuk lebih hemat dan efisien,” jelas Nadine. (ACH)

Continue Reading

Nasional

Angkat Riset “Stunting” Prof. Dr. dr. Aman B. Pulungan Raih Gelar Guru Besar UI

Published

on

By


EKSEKUTIF.com –Stunting masih menjadi masalah yang cukup serius di Indonesia. Tingginya angka dan permasalahan stunting inilah yang mendasari Prof. Dr. dr. Aman B. Pulungan, Sp.A(K), FAAP, FRCPI (Hon,) melakukan riset untuk disertasinya hingga meraih gelar Guru Besar ke-16 Ilmu Kesehatan Anak FKUI pada Sidang Terbuka dan Upacara Pengukuhan Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) 2021 yang dilakukan secara daring, dengan pidato pengukuhan berjudul ‘Penuntasan Stunting pada Anak sebagai suatu permasalahan Multi-Faktorial : Medis, Sosial, Ekonomi, Politik dan Emosional’.

Stunting didefinisikan oleh WHO sebagai tinggi badan di bawah 2 standar deviasi di bawah median tinggi badan menurut usia. Pada tahun 2013, UNICEF menerbitkan laporan “Improving Child Nutrition”, yang menyatakan bahwa Indonesia berada di peringkat ke-5 untuk jumlah anak dengan moderate atau severe stunting. Hasil data tersebut dihitung berdasarkan kurva standar WHO sehingga mungkin menyebabkan overestimation angka stunting karena rerata tinggi badan yang tidak representatif terhadap suatu populasi.

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, menunjukkan angka prevalensi stunting di Indonesia masih tinggi yakni 30%. Stunting merupakan sebuah kondisi dimana tinggi badan seseorang jauh lebih pendek dibandingkan tinggi badan orang seusianya. Penyebab utama stunting adalah kekurangan gizi kronis sejak bayi dalam kandungan hingga masa awal anak lahir yang biasanya tampak setelah anak berusia 2 tahun. Stunting memiliki dampak otak dan fisik anak sulit berkembang, kognitif, produktivitas dan kesehatan lebih rendah. Tetapi tidak semua anak yang berperawakan lebih pendek mengalami stunting.

Penuntasan stunting pada anak sebagai suatu permasalahan multi-factorial, medis, sosial ekonomi, politik dan emosional. Stunting di Indonesia merupakan salah satu masalah kesehatan yang menjadi prioritas pemerintah.
Melihat masih tingginya angka dan permasalahan stunting yang ada di Indonesia, inilah yang mendasari Prof. Dr. dr. Aman B. Pulungan, Sp.A(K), FAAP, FRCPI (Hon.) tergerak mengkaji lebih dalam melalui riset terkait stunting ini, yang hingga akhirnya meraih kesukses dengan dikukuhkan sebagai Guru Besar ke-16 Ilmu Kesehatan Anak FKUI pada kegiatan Sidang Terbuka dan Upacara Pengukuhan Guru Besar Fakultas Kedokteran FKUI 2021 yang dilakukan secara daring.

Dalam kesempatan itu, ia memberikan pidato pengukuhan berjudul “Penuntasan Stunting pada Anak sebagai suatu permasalahan Multi-Faktorial : Medis, Sosial, Ekonomi, Politik dan Emosional’. Ia juga terus berkomitmen untuk berkontribusi dalam menangani permasalahan stunting dengan terus melakukan penelitian di sejumlah daerah di Indonesia.

Harus Dilihat Secara Komprehensif

Diungkapkan, masalah stunting harus dilihat secara komprehensif, menelaah dari berbagai faktor yang bisa memengaruhinya, termasuk standar pengukuran yang digunakan. Stunting erat dikaitkan dengan masalah nutrisi, tetapi hubungan antara nutrisi dan pertumbuhan linear masih diperdebatkan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa intervensi berupa peningkatan asupan gizi tidak dapat memperbaiki pertumbuhan linear secara bermakna.

Penelitan yang dilaksanakan di Nusa Tenggara Barat menunjukkan pemberian makanan tambahan kepada anak stunted tidak menghasilkan kenaikan berat badan dan tinggi badan yang signifikan. Sedangkan, Penelitian di Nusa Tenggara Timur, Sumatera Utara, dan Bali menunjukkan tidak ada hubungannya ketebalan lipat lemak kulit (indikator nutrisi) dengan tinggi badan. Oleh karena itu, penyebab perawakan pendek anak-anak ini mungkin disebabkan oleh hal lain.

Penggunaan stunting sebagai indikator status gizi dapat mengalihkan perhatian dari masalah lingkungan dan sosial yang memiliki dampak besar terhadap pertumbuhan anak karena diskusi mengenai stunting terlalu dititikberatkan pada masalah gizi. Para ahli mengemukakan pemikiran bahwa masalah stunting bukan hanya nutrisi, tetapi juga masalah sosial, ekonomi, politik, dan emosional.

Kesenjangan sosial dan kurangnya kesempatan mobilisasi sosial di suatu populasi, diduga lebih berkontribusi pada pendeknya tinggi badan. Studi tentang pertumbuhan anak balita Korea Utara dan Korea Selatan pada tahun 2009 menunjukkan bahwa anak balita di Korea Selatan lebih tinggi 6-7 cm dibandingkan Korea Utara. Populasi Jerman Timur juga lebih pendek jika dibandingkan populasi Jerman Barat sebelum Tembok Berlin diruntuhkan.

Faktor genetik juga diprediksi menjadi salah satu yang mempengaruhi tinggi badan, melalui Penelitian disertasi yang dilakukannya di Rampasasa, Flores menunjukkan, populasi yang lebih pendek dari rerata nasional. Lelaki dewasa pada kelompok pigmoid Rampasasa mempunyai tinggi badan di bawah 150 cm, sedangkan tinggi badan perempuan dewasa di bawah 140 cm.

“Penelitian ini menunjukkan bahwa populasi pigmoid tidak mengalami malnutrisi, sehingga perawakan pendek mereka tidak termasuk stunting. Penggunaan kurva pertumbuhan yang tidak tepat dapat menyebabkan over-diagnosis stunting dan underweight, terutama pada populasi Asia, yang secara umum dianggap lebih pendek dan lebih rendah berat badannya dibandingkan populasi di Eropa dan Amerika. Tingginya angka stunting di Indonesia dan perhatian pemerintah serta alokasi dana yang tinggi menunjukkan pentingnya akurasi dalam pengukuran pertumbuhan anak”. ujar Prof. Dr. dr. Aman B. Pulungan, dilansir dalam siaran pers, baru-baru ini.

Ditambahkannya, berdasarkan berbagai penelitian, dalam mengatasi stunting dan meningkatkan kesehatan anak Indonesia perlu melihat faktor sosial, ekonomi, politik, dan emosional. Pencegahan dan deteksi dini sangat penting dalam manajemen gangguan pertumbuhan seperti stunting,sehingga sistem yang sudah berjalan di Indonesia berpotensi untuk ditingkatkan,misalnya penggunaan buku KIA dan pemanfaatan Posyandu.

“Dalam mendukung perkembangan digitalisasi dan mempermudah akses layanan kesehatan di daerah rural Indonesia, kehadiran smartphone dapat dimanfaatkan untuk kesehatan anak, misalnya penggunaan aplikasi seperti PrimaKu. Aplikasi pemantauan pertumbuhan anak dapat membantu orangtua dalam upaya deteksi dini jika anaknya mengalami gangguan pertumbuhan,” ujar Prof. Dr. dr. Aman B. Pulungan.

Ditegaskan, deteksi dini stunting dan perawakan pendek sangat penting. Deteksi yang benar memerlukan piranti (kurva pertumbuhan) yang tepat. Faktor-faktor penyebab stunting sangat kompleks sehingga intervensi dari berbagai pihak perlu dioptimalkan, termasuk kebijakan pemerintah harus dilakukan serentak di segala sektor. Bangsa yang besar adalah bangsa yang melindungi anak-anak di masa pandemi.

Sebagai informasi, Prof. Dr. dr. Aman B. Pulungan, Sp.A(K), FAAP, FRCPI (Hon.) aktif bekerja sebagai Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) serta Anggota Majelis Dokter Spesialis Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Selain aktif dalam kegiatan nasional, sejak tahun 2018 hingga kini, ia menjabat sebagai President of Asia Pacific Pediatric Association (APPA). Pada tahun 2010-2012, menjabat sebagai President of Asia Pacific Pedriatric Endocrinology Society (APPES), di tahun yang sama juga merupakan Project Leader DM type 1 for World Diabetes Foundation di Indonesia.

Saat ini menjabat sebagai Elected Executive Director International Pediatric Association (IPA) dan juga aktif dalam organisasi internasional lainnya seperti di European Society of Paediatric Endocrinology (ESPE), Honorary member of Royal College of Physicians of Ireland serta International Fellow of American Academy of Pediatric (FAAP) dan berperan sebagai editor di beberapa jurnal internasional seperti Annals of Pediatric Endocrinology and Metabolism, Clinical Pediatric Endocrinology, dan Human Biology and Public Health. (ACH)

Continue Reading

Trending

Copyright © 2021 Eksekutif.ID | Kerjasama dan kolaborasi silahkan email: eksekutifmatra@gmail.com. Hotline 0816-1945-288